
Kila menutup pintu kamar, dia menggigit kuat bibirnya sambil berusaha sebisa mungkin untuk menahan kebahagiannya, ‘dia bodoh sekali. Aku tidak percaya, Nyonya yang berasal dari keluarga kaya sepertinya akan melakukan trik murahan itu,’ Kila membatin dengan semakin memperkuat gigitan di bibirnya.
Langkah Kila kembali berlanjut mendekati lemari, “apa yang harus aku kenakan untuk menemani suamiku itu makan siang?” Dia bergumam, sambil melirik ke satu per satu pakaian miliknya yang ada di lemari.
Kila lagi-lagi menunduk, sebuah tawa sedikit tertahan keluar dari mulutnya, “astaga, aku tidak bisa berhenti tertawa kalau mengingat wajah perempuan itu sebelumnya,” gumam Kila lirih dengan mengusap ujung matanya.
“Melihatnya, membuatku khawatir dengan kepintaran keluarga Rahardian. Walaupun aku miskin, aku sudah terlatih menanggapi banyak sekali tipe manusia berkat pekerjaanku,” Kila kembali berguman sambil menggeleng dengan meraih sebuah gaun selutut, sebelum menutup kembali pintu lemari.
_____________.
“Rama!”
“Rama, dengarkan aku!”
Rama menghentikan langkahnya saat Citra kembali merangkul lengannya, “kenapa kau justru mengajaknya makan siang? Dia … Dia menyakitiku-”
“Hentikan, Citra! Apa kau tidak bisa membuat rumah ini sedikit tenang? Pergilah ke mana pun yang kau inginkan agar aku juga dapat menenangkan kepalaku.”
“Apa yang kau maksudkan? Kenapa kau selalu membelanya … Kau baru mengenalnya, kenapa kau mempercayainya?!”
“Lalu, apa yang ingin aku lakukan untukmu? Memarahinya? Di saat tamparan itu kau lakukan dengan tanganmu sendiri?”
“Aku bersamanya saat dia di kolam renang, aku mengikutinya berjalan di belakangnya saat dia meninggalkan kolam … Lalu, kau ingin mengatakan bahwa dia menamparmu?” Rama kembali menanggapi amarah Citra yang kesekian kalinya.
“Ta-tapi Ra,” ungkap Citra sedikit terbata, “aku melakukannya karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku mencintaimu, Rama,” tangis Citra dengan memeluk laki-laki di hadapannya itu.
“Lepaskan aku!” perintah Rama, dia membuang pandangannya ke samping lalu menghela napas saat Citra menggelengkan kepalanya.
“Aku akui aku salah. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya,” ucapnya tersendat sembari mempererat pelukannya di Rama.
“Kak?”
__ADS_1
Lirikan Rama beralih ke arah Kila yang telah berdiri menatap mereka. “Apa kita jadi untuk makan siang?” tanya Kila, dia menunduk untuk membuang pandangan dari mereka berdua.
“Langsung saja ke mobil, aku akan menyusul,” jawab Rama, Kila mengangguk pelan sambil berjalan melewati mereka berdua.
“Lepaskan, Citra! Aku masih harus menghadiri rapat setelah ini,” ungkap Rama dengan kedua tangannya melepaskan pelukan Citra kepadanya.
“Rama? Rama!”
Rama terus melanjutkan langkahnya meninggalkan Citra. Langkahnya melamban saat dia menatap Kila yang berdiri tertunduk menunggunya di teras, “kenapa kau tidak menunggu saja di dalam?” tanya Rama yang membuat Kila berbalik menatapnya.
“Kak, bisa kita menunda makan siang ini? Aku, harus menemui temanku. Hanya sebentar, aku akan pulang sebelum kakak pulang kerja. Jadi boleh, ya? Hanya kali ini saja, dia sahabat yang selalu menolongku selama ini-”
“Apa dia laki-laki?”
Kila menggelengkan kepalanya dengan cepat, “dia perempuan. Kapan-kapan, aku akan mengenalkan kakak kepadanya. Lagi pula, kakak harus menghadiri rapat, kan? Menunggu seseorang lebih baik dibanding ditunggu, rekan bisnis kakak akan lebih menghargai kakak kalau kakak melakukannya. Aku juga, akan menyiapkan makan malam untuk kita semua.”
Rama menghela napasnya, “baiklah. Pergilah bersama supir nanti!” pinta Rama sambil berjalan mendekati mobil.
“Apa kakak tidak melupakan sesuatu?”
“Melupakan sesuatu?” Rama balas bertanya, dengan tubuhnya yang langsung terpaku saat Kila berjinjit lalu mengecup bibirnya.
“Semangat bekerja. Cepatlah masuk ke dalam mobil, di saat jam makan siang seperti ini kadang suka macet,” ungkap Kila, dia membukakan pintu mobil untuk Rama sambil tangannya yang lain menepuk pelan punggung suaminya itu.
Rama menggaruk daun telinganya, “kau selalu melakukan sesuatu yang sulit aku bayangkan. Baiklah, hubungi aku saat kau sudah bertemu dengan temanmu itu,” saut Rama dengan balas mengecup Kila.
Kila melambaikan tangannya saat Rama telah duduk di dalam mobil, “hati-hati, semangat bekerjanya,” ungkap Kila dengan kembali tersenyum menatapnya.
____________.
Kila menarik napas sangat dalam saat dia semakin berjalan mendekati kamar kost yang ia tempati. “Lisa!” panggil Kila, dia merentangkan tangannya sambil memeluk perempuan yang sudah menjadi sahabatnya sejak SMA.
__ADS_1
“Kila, apa yang terjadi?” tanya Lisa, dia mengusap punggung Kila yang tiba-tiba sudah menangis memeluknya.
“Gilang … Dia meninggalkanku.”
“Aku tidak mengerti kalau kau menjelaskannya dengan terpotong-potong seperti ini. Buka pintu kamarmu! Lalu ceritakan apa yang terjadi!” ungkap Lisa sambil mengetuk pintu kamar yang ada di sampingnya.
Kila mengikuti apa yang Lisa katakan, dia membuka pintu kamar yang telah lama ia tinggalkan. Di dalam kamar tersebut, Kila menceritakan apa yang terjadi kepadanya selama ini kepada Lisa … Karena memang, sejak Lisa dipindahtugaskan membuat komunikasi di antara mereka sedikit merenggang. “Seharusnya kau mengabariku! Kau menikah tapi ti-”
“Astaga, Kila,” sambung Lisa sambil mengusap wajahnya.
“Jadi kau sekarang, menjadi istri kedua dari kakak iparmu sendiri?” Lisa berusaha untuk memastikannya.
Kila mengangguk lalu menyandarkan kepala di kakinya yang bertekuk, “hanya karena aku seperti ini, mereka membuatku harus berpisah dengan Gilang selamanya. Aku terpaksa melakukannya agar mereka bisa turut merasakan rasa sakit yang aku rasakan … Aku tidak peduli dengan diriku sendiri, karena jika Gilang tidak menawarkanku untuk menjadi pacar sewaannya dulu, aku mungkin sudah berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki yang lain.”
“Awalnya aku memang menjalin hubungan dengannya karena uang. Namun, semakin dia menjagaku, semakin dia memperlakukanku dengan baik … Aku benar-benar tidak ingin kehilangannya, Lisa,” tangisan Kila semakin pecah saat sahabatnya itu memeluknya.
“Jika kau tersiksa untuk mengingatnya, menjauh saja dari mereka, Kila. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kau ini! Inilah kenapa aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu-”
“Aku baik-baik saja, aku sudah bisa mengendalikan semuanya di sana,” ungkap Kila memotong perkataan temannya.
“Apa kau yakin?”
Kila kembali mengangguk, “aku justru akan tersiksa kalau tidak melakukannya. Aku benar-benar muak melihat mereka,” Kila lagi-lagi bergumam sambil menyandarkan dirinya di dinding.
“Kila!”
“Aku tadi tidak sengaja melihat … Kau tahu, di lehermu. Apa kau melakukan kewajibanmu sebagai Istri ke, namanya Rama, bukan?”
“Aku melakukannya,” jawab Kila singkat, “dia bahkan belum menyentuh Istri pertamanya lagi, sejak kami melakukannya. Aku bahagia dan tidak menyesal memberikan kehormatanku kepadanya-”
“Apa kau tertarik kepadanya? Berhati-hatilah untuk tidak hamil jika kau berniat untuk lepas dari mereka nantinya. Jangan sampai kau akan menyesalinya nanti-”
__ADS_1
Lisa menghela napas, “Kila, lupakan semuanya dan mulai menata hidup baru. Jika apa yang kau katakan itu benar, bahwa Rama memperlakukanmu dengan baik … Kenapa tidak mencoba untuk membuka hati untuknya? Walau di sisi lain sebenarnya aku ingin kau jangan berhubungan lagi dengan mereka … Entahlah, aku bingung, tapi yang jelas, aku hanya ingin kau bahagia,” sambung Lisa mengakhiri kata-katanya.