
Rama membuka kembali pintu kamar hotel setelah menerima menerima beberapa potong pakaian yang diantar oleh sekretaris pribadinya. Dia meletakan salah satu kantung kertas ke atas sofa dengan membawa kantung lainnya ke dalam kamar mandi. Rama berjalan mendekati wastafel, meletakan kantung tadi lalu berdiam diri … Menatapi bayangannya yang terpantul dari cermin di hadapannya.
“Dia benar-benar menggigitku semalam,” gumam Rama, sambil menyentuh lebam kebiruan di lehernya
Rama berbalik dengan melepaskan handuk kimono yang ia kenakan, lalu melanjutkan langkahnya mendekati keran hingga air keluar dari kucuran. Rama masih menatapi tetesan-tetesan air yang jatuh, membiarkan air tersebut mengalir begitu saja … Sebelum dia kembali menyandarkan tubuhnya ke dinding, ‘Kila, Kila, Kila … Apa yang akan kau lakukan, Gilang? Kalau aku menghancurkan hidupnya?’ Rama membatin, sebelum dia berjalan lalu mengguyuri diri ke tetesan-tetesan air yang mengalir.
_______________.
Rama berjalan mendekati Kila yang masih terlelap, usapan tangannya di kepala Kila, membangunkan perempuan tersebut dari tidurnya, “kakak? Kenapa kakak tidak membangunkanku?” ucap Kila, dia kembali tertunduk saat rasa pening menyelimuti kepalanya, ketika dia dengan tiba-tiba beranjak duduk.
“Kau, terlihat pulas sekali, karena itu aku tidak tega untuk membangunkanmu. Aku ada rapat, di kantung yang ada di sofa itu berisi pakaian dan juga ponselmu … Jika kau ingin pulang, hubungi saja Mainun untuk mengirimkan supir untukmu,” ungkap Rama sambil mengusap pipi Kila.
Kila meraih lalu mencium tangan Rama, “selamat bekerja. Apa saat jam makan siang, kakak luang?” tanya Kila, dengan kembali menatapnya.
“Kau ingin kita makan bersama?” Kila mengangguk membalas perkataannya. “Baiklah, aku akan menghubungimu lagi,” sambung Rama, dia mengecup kepala Kila sebelum melangkah meninggalkannya.
Kila kembali berbaring saat Rama menutup kembali pintu, dia menghela napas dengan menutup kembali mata menggunakan kedua lengannya. Tanpa sebab, Kila kembali meneteskan air mata … Dadanya terasa sangat sesak, yang ia inginkan hanyalah melampiaskan semuanya dengan tangisan. “Ini terakhir kalinya … Ini, terakhir kalinya aku menangisi hidupku sendiri. Apa Tuhan itu, bena-benar ada?” ucapan Kila terputus-putus, diikuti semakin sesak yang ia rasakan di dadanya.
_____________.
Rama duduk bersandar di dalam mobil dengan melirik ke arah Hadi, asisten sekaligus sekretaris pribadi miliknya yang duduk di samping supir, “Hadi!” panggil Rama yang membuat laki-laki itu menoleh.
“Perintahkan seseorang untuk membawa pulang mobilku! Perintahkan orang lagi, untuk membuntuti Kila, aku harus tahu ke mana saja dia pergi!”
__ADS_1
“Apa Tuan, ingin aku untuk memerintahkan seseorang mengawasi Nyonya Citra juga?”
“Tidak perlu. Aku hanya memerintahkanmu untuk mengawasi Kila,” ucap Rama, sambil membuang pandangannya ke samping.
“Dan juga, kosongkan jadwal mendekati makan siang! Aku, ada sedikit urusan.”
Hadi hanya mengangguk, walau rasa heran menyelimuti hatinya, “baik, Tuan. Laksanakan,” saut Hadi, keningnya sedikit mengerut saat dia kembali menatap ke depan.
“Kau membelikannya tipe ponsel yang aku pinta, kan? Dan juga, apa kau telah memasukan semua kontak penting di dalamnya?” Rama beruntun melontarkan pertanyaan dengan melirik kembali kepada Hadi.
“Aman, Bos … Maksudku, Tuan. Aku melakukan semuanya, seperti yang engkau perintahkan,” saut Hadi, sambil mengangkat ibu jarinya membalas lirikan Rama.
“Baguslah,” jawab Rama singkat dengan menutup kembali bibirnya.
Dia kembali melanjutkan langkah mendekati sofa lalu meraih tas kantung dari kertas yang bersandar di sana. “Dia benar-benar memberikan ponsel baru untukku,” Kila bergumam, sambil mengeluarkan ponsel dari dalam kotaknya.
“Ini terlihat mahal. Jika Istrinya tahu, atau perempuan tua itu tahu … Entah, cacian apa lagi yang akan aku terima,” sambung Kila, dia kembali meletakan ponsel berserta kotaknya itu ke sofa, lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju kamar mandi.
______________.
Kila berdiri sambil menatap layar ponsel miliknya, ‘aku telah meminta bi Mainun untuk mengirimkanku supir. Apa supirnya, benar-benar akan datang?’ batin Kila, dengan menghentak-hentak kecil kakinya ke lantai.
Dia berjalan maju, saat sebuah mobil berhenti diikuti seorang laki-laki yang keluar membukakan pintu untuknya. Kila masuk, dengan meletakan dua kantung kertas berisi pakaian kotor miliknya dan juga Rama. Kila meraih dompet yang sebelumnya juga berada di dalam kantung kertas yang Rama berikan, mengeluarkan selembar pecahan ratusan ribu lalu memberikannya ke supir yang sudah duduk di depan, “Pak, kalau ada minimarket. Tolong belikan aku, roti, air mineral dan obat untuk sakit kepala … Kembaliannya, bapak ambil saja,” ucap Kila pada laki-laki paruh baya di depannya.
__ADS_1
“Baik, Nyonya,” jawab laki-laki itu meraih uang yang Kila berikan.
Kila menghela napas, dia menyandarkan punggung di jok sambil memijat-mijat kepalanya sendiri. Kila meraih ponsel di tas miliknya, ‘aku sekarang sedang di jalan untuk pulang. Kakak, tidak akan melupakan janji kakak, kan?’ ketik Kila di layar ponsel setelah menemukan kontak milik Rama.
“Mungkin dia sedang sibuk,” ucap Kila, dengan kembali menyimpan ponsel tersebut ke dalam tas.
___________.
“Siapkan kopi untukku!” perintah Rama, sebelum dia masuk ke dalam ruangannya.
Rama melangkah lalu duduk, dengan mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam jas yang ia pakai. Lagi dan lagi, panggilan berturut-turut dari Citra langsung memenuhi ponselnya. Rama, membuka satu pesan dari nomor yang belum ia kenal, bibirnya tanpa sadar tersenyum kecil membaca pesan yang ia baca.
‘Aku belum sempat untuk menyimpan kontaknya,’ batin Rama dengan melirik ke atas, ‘aku masih mengingat janji satu jam yang lalu. Apa kita akan makan di luar? Jika iya, aku akan memesan tempat untuk kita,’ ketikan dari Rama membalas pesan yang Kila kirimkan.
Rama dengan cepat meraih ponselnya yang sempat ia letakan ke meja, saat ponselnya itu kembali berbunyi, “aku menunggu kakak di rumah. Apa kakak, bisa pulang untuk makan siang di rumah?” Rama membaca ketikan yang ada di ponselnya.
‘Apa yang kau masak hari ini untukku?’ lagi-lagi Rama membalas pesan tersebut dengan cepat.
Dia menyandarkan punggungnya, keningnya mengernyit saat pesan tersebut berubah status menjadi terbaca, tapi tak kunjung dibalas oleh Kila. “Apa yang terjadi? Dia membacanya, tapi tidak membalasnya?” gumam Rama, dengan menggeserkan ibu jarinya mengusap layar ponsel di tangannya.
Dia memangku wajahnya ke meja, saat menunggu Kila yang sedang mengetik balasan pesan untuknya, “Bibi Mainun mengatakan, bahwa kakak menyukai Lobster. Aku tidak tahu cara memasak atau cara memakannya. Namun, aku akan berjuang memasaknya. Jadi kakak, aku menunggumu,” Rama menggigit kecil bibirnya setelah membaca ketikan di ponselnya.
“Aku pun, tidak sabar mencicipi makanan yang kau masak,” gumam Rama sambil mengetik kembali balasan pesan yang Kila kirimkan.
__ADS_1