
Keesokan harinya Sean sudah kembali ke kantor. dia masih memerintah anak buahnya untuk menjaga Erick, walau istrinya sudah menemaninya. Dan hari ini Sean akan mencari bukti tentang pelaku penusukan terhadap Erick tadi malam.
Karyawan Sean yang lain tidak banyak yang tahu tentang kejadian malam tadi. Sean juga ingin melakukan penyelidikannya sendiri agar tak seorangpun yang tahu.
Sean melihat rekaman cctv di area perkaantorannya. Dan benar saja, ada salah satu satpam yang terlihat sedang bertemu dengan seseorang yang tidak Sean kenal. Orang asing yang bertemu dengan salah satu satpam kantor itu sedang memberikan sesuatu yang ia yakini adalah uang. Hingga satpam itu langsung mengijinkan orang asing itu masuk begitu saja.
Saat itu juga Sean segera menyelidiki siapa orang asing yang diduga sebagai pelaku penusukan terhadap Erick. Hal yang tidak sulit bagi Sean melakukan pencarian itu. Dalam waktu sekejap, dia bisa menemukan siapa pria itu, yang ternyata adalah orang suruhan Ricky.
Sean meminta salah satu karyawannnya untuk melakukan meeting dadakan yang wajib dihadiri oleh seluruh karyawan kantor, termasuk beberapa satpam juga. Dan saat itu juga semua karyawan tampak terkejut karena tidak biasanya Sean melakukan meeting dadakan, apalagi sifatnya wajib.
Semua karyawan kantor sudah berkumpul di aula. tak lama kemudian Sean datang dengan manunjukkan aura tak ramahnya. Aura yang hampir tidak pernah terlihat oleh semua karyawannya.
Setelah mengucapkan salam pembukaan, Sean melihat satu per satu wajah karyawannya yang begitu banyak dengan berjalan mengelilingi kerumunan orang.
“Kalian ada yang tahu kenapa atasan kalian meminta meeting dadakan seperti saat ini?” tanya Sean dengan suara tegas.
Semua karyawan tampak tertunduk. Sebagian ada yang menjawab dengan gelengan kepala.
“Benar kalian sama sekali tidak ada yang tahu alasan saya mengumpulkan kalian disini?” sekali lagi, pria berusaia empat puluh empat tahun itu bertanya dengan suara tegas nyaris marah.
“Apa kalian tidak tahu tentang kejadian penusukan yang dialami oleh Erick tadi malam?” lanjutnya.
Semua orang mendongakkan kepala. Mereka terkejut dengan penuturan Sean baru saja. Bagaimana mungkin tidak ada yang tahu tentang kejadian buruk yang menimpa salah satu rekan kerjanya itu.
__ADS_1
“Saya minta, salah satu orang dari kalian maju ke hadapan saya untuk mengakui sesuatu. Kalau tidak ada, saya akan gunakan cara saya sendiri.” Ucapnya dengan wajah yang sudah memerah.
Tak ada satu pun orang yang berani maju ke hadapan Sean. Bahkan salah satu satpam yang sebagai tersangka pun tampak santai seperti sedang tidak terjaadi apa-apa. Lalu Sean mulai menghitung mundur untuk memberi kesempatan bagi mereka mengakui kesalahannya.
Lima… empat… tiga… dua… satu
Karena tak ada orang yang mau mengaku, terpaksa Sean melakukannya dengan caranya sendiri. Dia memanggil dua orang pria bertubuh kekar memasuki aula itu lalu Sean menunjuk pria yang bekerja sebagai satpam agar dibawa paksa oleh bodyguardnya.
Satpam itu sangat terkejut sekaligus ketakutan. Dua orang bertubuh kekar itu menyeretnya ke hadapan Sean tepat di depan karyawan lainnya.
“Beri dia pelajaran karena tidak mau mengakui kesalahannya.” Perintah Sean.
Kedua pria itu memukuli satpam kantor sampai babak belur. Namun pria itu tak juga mengakui kesalahannya.
“Coba kalian semua lihat layar yang ada di depan!” Sean memutar sebuah rekaman cctv. Karyawan lainnya tampak bingung, namun sebagian ada yang menerka kalau satpam itulah yang ada dalam rekaman cctv.
“Dia, baj***an itu yang telah mengijinkan orang asing masuk ke kantor. Kalian tahu, kalau orang asing itu berniat mencelakai saya namun digagalkan oleh Erick, dan akhirnya Erick lah yang terkena luka tusukan hingga dilarikan ke rumah sakit.”
Semua orang menutup mulutnya tak percaya.
“Seakarang bawa baj***an itu ke markas. Biarkan dia menerima hukumannya yang setimpal. Dan kalian semua bisa kembali bekerja.” Ucap Sean.
Satpam dengan wajah babak belur itu berteriak meronta saat tubuhnya diseret keluar. Namun Sean tak mempedulikannya.
__ADS_1
Usai melakukan meeting, Sean segera menuju ruangannya. Dia ingin melanjutkan urusan kantor yang sudah hampir selesai setelah kemarin lembur. Sean ingin secepatnya masalahnya teratasi. Dan secepatnya pula menghabisi Ricky.
Siang harinya Sean sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia bisa bernafas lega setelah berhasil memulihkan data yang telah dimanipulasi oleh orang suruhan Ricky. Setelah itu ia pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Erick.
Sesampainya di rumah sakit, Sean melihat keadaan Erick yang sudah membaik walau masih membutuhkan banyak istirahat karena lukanya masih belum kering.
“Aku berhutang nyawa padamu, Rick.” Ucap Sean.
“Tuan jangan bilang seperti itu, sudah menjadi tugas saya melindungi anda.” Jawab Erick.
Sean tak bisa berkata-kata lagi. mungkin dia akan memberikan sesuatu pada Erick jika pria itu sudah keluar dari rumah sakit sebagai imbalannya karena telah menyelamatkan nyawanya. Tak lama kemudian ponsel Sean begetar, ada panggilan dari salah satu anak buahnya yang ia suruh menangkap Ricky.
“….”
“Baiklah. Aku akan kesana sekarang!” ucap Sean sebelum mengakhiri panggilannya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️