
Saat ini Sean sedang menjalani operasi penanaman bom dalam tubuhnya. Bom itu hanya berupa alat kecil berbentuk persegi yang berbahan timah dan beberapa campuran logam lainnya. Meski bentuknya sangat kecil, namun jika bom itu meledak, dapat menghancurkan tubuh hingga berkeping-keping.
Sean bisa melihat jelas bagaimana Albert melakukan operasi pada perutnya untuk menanamkan bom itu, karena Sean tidak dibius secara total. David juga berada disana ikut menyaksikan cara kerja Albert.
Sean benar-benar takjub dengan keahlian Albert. Sayangnya pria itu menjadi musuhnya dan sepertinya akan sangat sulit diajak negosiasi agar mengambil kembali bom itu suatu saat nanti.
Sean menutup matanya pasrah dengan keadaan yang menimpanya saat ini. kali ini dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih untuk lepas dari jeratan David. Bagaimana dia bisa meminta bantuan pada sahabatnya jika dia selalu berada di dekat David.
“Sudah selesai, Tuan. Sepertinya dia tertidur. Meski biusnya tidak total.” Ucap Albert setelah selesai menjahit kulit bagian perut Sean. Lalu pria itu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Sean.
“Mulai sekarang, Sean tidak akan bisa jauh dengan anda. Anda bisa mengatur sendiri jarak yang akan anda gunakan. Tapi saat ini lebih baik dengan jarak tiga ratus meter saja. Lebih dari tiga ratus meter, tubuh Sean akan meledak dengan sendirinya. Dan tolong simpan baik-baik remote pengendali ini. meski bom pada tubuh anda tidak bisa meledak, namun remote ini bisa melakukannya. Bahkan benda ini bisa meledakkan anda dan Sean secara bersamaan.” Albert menjelaskan panjang lebar.
Setelah itu David dan Albert keluar ruangan dan membiarkan Sean istirahat. Sean yang sejak tadi lelah dengan pikirannya sendiri, dia hanya menutup mata dan tidak tidur. Pria itu mendengar semua percakapan David dan Albert. Namun tetap saja jika dia ingin selamat, dia tidak bisa bekerja sendirian. Karena Sean akui kalau bukan keahliannya dalam merakit bom yang sangat canggih yang ada dalam tubuhnya saat ini.
Lama-lama kepala Sean terasa berat dan matanya benar-benar tidak bisa dibuka lagi. mungkin efek dari obat yang baru saja diberikan oleh Albert usai melakukan operasi kecil itu yang membuatnya ingin tidur.
***
Sementara itu Xander berserta yang lainnya baru saja tiba di negara kelahiran Sean. Mereka sama-sama lelah setelah melakukan perjalanan jauh selama kurang lebih lima belas jam. Dan saat ini mereka sudah berada di depan rumah besar, dimana hanya ada satu orang penghuni yang diyakini penjaga rumah itu.
Sejak dalam perjalanan, Lidia lebih banyak diam. Dia terus memikirkan keadaan Sean. Meski Viana terus berada dalam gendongannya, namun pikirannya tetap fokus dengan Sean.
__ADS_1
Xander meminta semua orang agar memasuki kamar masing-masing untuk segera beristirahat. Dia sendiri juga merasakan lelah di sekujur badannya. Mungkin setelah lelahnya hilang, nanti dia akan menghubungi Leon dan menceritakan semuanya.
Rumah itu hanya satu lantai. Jadi seluruh kamar terlihat berjejer. Lidia memilih kamar paling ujung dan berdampingan dengan kamar Chandra. Sedangkan Viana ikut tidur bersamanya. Lidia meletakkan Viana di atas ranjang. Anak kecil itu tampak terlelap dalam tidurnya semenjak turun dari bandara tadi.
Meski tubuhnya juga lelah, namun Lidia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. dia terus mengingat Sean. Dia sangat merindukan suaminya. bahkan sebelum ada kejadian penculikan, mereka berdua sudah merencanakan akan pergi berbulan madu. Namun semua itu sirna karena sampai saat ini Sean belum kembali.
“Aku akan menepati janjiku, Sean. Aku akan menunggumu pulang. karena akulah rumahmu.” Ucapnya sambil terisak.
Meski bibir berucap seolah menguatkan hatinya sendiri, namun sayangnya hati Lidia terlalu rapuh untuk menerima cobaan berat ini. jika dulu dia ditinggal mati oleh Billal, dia bisa ikhlas dengan mudah. Karena alasannya penyakit Billal. Namun kali ini sangat berbeda. Ingin sekali Lidia berteriak keras agar Sean bisa mendengar jeritan hatinya dan segera pulang menemuinya.
“Cepatlah pulang, Sean!!! Aku sangat merindukanmu.” Tangisnya pecah saat tak kuat lagi menahan beban itu sendirian.
Chandra yang belum tidur, samar-samar dia mendengar suara tangisan Mamanya. Kemudian dia segera berlari dan masuk ke kamar mamanya. Untung saja Viana tidak terbangun. Hanya bergerak sedikit dan kembali tidur.
“Mama jangan bersedih! Mama harus kuat. Ayah pasti pulang, Ma.”
Lidia tak mampu menjawab Chandra. Dia masih terisak dalam pelukan Chandra.
“Apa Mama sudah nggak sayang lagi sama Chan dan juga adik Viana?” tanya bocah kecil itu.
“Kalau Mama terus bersedih seperti ini, berarti Mama sudah nggak sayang sama kami. Mama hanya sayang sama Ayah.”
__ADS_1
Lidia tersentak dengan ucapan Chandra.
“Sayang, maafkan Mama, Nak! Mama sangat menyayangi kalian semua. Mama janji tidak akan bersedih dan menangis lagi.”
Chandra mengusap air mata Lidia yang masih terus menangis. Lalu dia menciumi pipi sang Mama penuh haru dan memeluknya lagi.
“Jika Chan sudah besar nanti, Chan akan selalu melindungi Mama dan adik.” Ucapnya setelah menciumi pipi Lidia.
“Terima kasih, Sayang. Kalian semua harapan terbesar Mama. Kita doakan Ayah agar pulang dengan selamat.”
Chandra mengangguk, kemudian Lidia memeluknya dengan erat.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
.
__ADS_1