
Keadaan ruangan itu seketika gelap gulita. Tak ada sedikitpun cahaya yang mampu menerangi. Ditambah lagi pintunya terkunci. Feby bukan takut dengan kegelapan, melainkan takut dengan bahaya yang sedang menantinya bersama Chandra. PasaLnya dia merasa ada sesuatu yang janggal dari ruangannya saat ini.
“Chan, aku takut.” Ucap Feby dengan suara bergetar.
Chandra segera membekap mulut Feby agar tidak bicara keras. Khawatirnya di luar sedang ada seseorang yang ingin masuk ruangan itu. Feby pun diam dan menurut.
Setelah mereka berdua terdiam, Chandra mendengar suara handle pintu yang berusaha dibuka dari luar. Beruntungnya Feby tadi sudah menguncinya. Dan melihat hal itu, Feby semakin ketakutan.
“Ssttt… tetap diam!” bisik Chandra.
Pintu itu masih berusaha dibuka dari luar, namun hasilnya tetap sama tidak bisa. Chandra masih mendengar suara handle pintu yang terus bergerak. Sedangkan Feby yang masih berada dalam dekapan Chandra kini semakin mengeratkan pelukannya.
Setelah menunggu beberapa menit, handle pintu itu tak lagi bergerak. Hanya saja lampu masih padam. Itu tandanya orang yang berada di luar ruangan itu masih berusaha membuka pintu.
Kedua manusia yang sedang dalam keadaan saling berpelukan itu sama-sama merasakan degupan jantung masing-masing. Entah degupan jantung karena takut bahaya sedang mengintai atau karena hal lain.
Chandra juga semakin mengertakan pelukannya pada Feby untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu. Bisa saja Chandra menghubungi Ayahnya, namun dia masih ingin melihat sendiri seberapa jauh tindakan orang yang akan berbuat jahat pada perusahaan Kenzo.
Lama dalam posisi berpelukan, kepala Feby yang semula tertunduk sambil menelusup ke dada bidang Chandra, perlahan Chandra memegang kepalanya lalu membuat Feby mendongak menatapnya. Meskipun keadaan gelap gulita, tapi Chandra bisa tahu kalau saat ini Feby sedang menatapnya. Dia bisa merasakan hembusan nafas hangat Feby.
“Chan….” Lirih Feby hendak mengatakan sesuatu, namun justru dia mendapat sambutan hangat dari bibir Chandra yang kini sudah menempel di bibirnya.
__ADS_1
Kedua bibir mereka masih menempel dan sama sekali tidak bergerak. Entah dorongan dari mana hingga membuat Chandra memberanikan diri ingin mencium Feby. Apakah karena dalam keadaan gelap jadi dia berani, dan kalau lampu menyala dia tidak berani. Bukan. Chandra hanya merasa kalau momen seperti ini sangat tepat sekaligus mendukung.
Melihat reaksi Feby yang hanya diam saja, Chandra semakin diburu rasa penasaran. Lalu dia mencoba menyapu lembut bibir Feby dan membasahinya. Feby masih diam. Justru dia kini menutup matanya karena menikmati ciuman yang diberikan oleh Chandra.
Ini adalah pengalaman pertama kali bagi keduanya melakukan ciuman. Meskipun Chandra belum begitu ahli, setidaknya laki-laki berusia tujuh belas tahun itu masih mengetahui teorinya.
Hembusan nafas hangat mereka saling menerpa wajah masing-masing. Chandra masih melanjutkan kegiatannya, walau Feby sama sekali tidak membuka mulutnya. Namun kedua tangan Feby semakin mencengkeram kuat baju Chandra.
Setelah puas menyapu lembut bibir manis Feby, Chandra perlahan berusaha menerobos bibir perempuan itu yang sejak taadi tertutup rapat dengan memberikan gigitan kecil. Dan benar saja, Feby mengaduh lalu dengan cepat lidah Chandra berhasil memasuki mulut Feby.
Terdengar lenguhan kecil keluar dari mulut Feby dan membuat jiwa nakal Chandra meronta. Kini kedua tangan Chandra menangkup kedua pipi Feby untuk memperdalam ciumannya.
Suara hendle pintu yang berusaha dibuka itu terpaksa menghentikan aksi mereka berdua. Feby dengan ceppat melepas pagutannya. Namun saat tubuhnya berusaha menjauh dari Chandra, laki-laki itu mencekalnya lalu mengusap bekas saliva pada bibir Feby.
“Diamlah! Aku akan menghubungi Om Kenzo!” bisik Chandra lalu mengambil ponselnya.
Jantung Feby masih berdetak tak karuan. Bukan karena handle pintu yang berusaha dibuka kembali, melainkan karena aksinya baru saja dengan Chandra.
Sementara itu Kenzo yang saat ini berada di ruangannya sangat terkejut saat mendapat pesan dari Chandra kalau ada orang lain yang berniat jahat dan akan memasuki control room. Ternyata hanya di lantai tiga saja yaitu dimana Chandra dan Feby berada yang lampunya padam.
Sean dan Kenzo segera turun dan menyalakan saklar listrik yang ada di lantai tiga. Setelah saklar dinyalakan, Chandra dan Feby tidak serta merta bisa keluar dari ruangan itu, mengingat tadi Feby sempat terkena setrum saat memegang handle pintu yang merupakan penghantar listrik yang baik.
__ADS_1
Chandra menelepon ayahnya yang saat ini berada tepat di luar ruangannya dan menyampaikan kalau pintu itu terdapat aliran listrik. Chandra juga tidak mencabut kuncinya karena dia merasakan getaran listrik. Dan sepertinya orang yang mencoba masuk tadi yang memberikan aliran listrik sekaligus pengendalinya.
Sean pun segera mencari cara bagaimana cara menghentikan dan mengilangkan aliran listrik pada handle pintu itu. Dan tak lama kemudian pintu berhasil dibuka.
Cklek
“Apa kalian baik-baik saja?” tanya Kenzo menatap wajah Feby yang tampak memerah.
“Kami baik-baik saja, Om.” Jawab Chandra dengan tenang.
“Lebih baik Papa saja yang menemani Chandra di ruangan ini.” ucap Feby tiba-tiba lalu segera keluar dari ruangan itu.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1