
“Kenapa justru menungguku di dalam mobil? Padahal aku ingin dijemput sampai ke dalam,” tukas Citra saat dia telah duduk di samping Rama.
Rama melirik ke arah Citra yang menyandarkan kepalanya di pundak Rama, “Sayang, kau masih ingat dengan janjimu yang akan mengajakku liburan, kan?” tukas Citra kepada Rama yang masih mengatup bibirnya.
“Apa kau masih belum puas berlibur dengan teman-temanmu? Bahkan kau langsung berangkat menemui mereka, sehari setelah pemakaman adikku.”
Citra yang merasa tersindir, menarik rangkulannya kembali, “kami telah berjanji jauh-jauh hari, aku tidak bisa membatalkannya begitu saja-”
“Benarkah? Ingatlah alasan kenapa aku menikahimu! Dan ingatlah, saat kau memohon untuk menikah denganku! Jika bukan karena Mama yang memintaku, aku tidak akan menikahi perempuan yang hanya tahu caranya menghabiskan uang sepertimu,” ucap Rama, dia mengetuk pahanya sendiri sebelum membuang kembali pandangannya ke samping.
‘Apa aku terlalu kasar kepadanya tadi? Aku langsung pergi tanpa mengucapkan apa pun,’ batin Rama dengan tetap menatap keluar jendela mobil.
“Sayang, aku lapar … Kita mampir ke tempat yang aku bilang tadi ya.”
“Aku ingin pulang, lagi pula … Ada yang ingin aku bicarakan di rumah,” sahut Rama, sambil mengetuk jari tangannya itu ke atas paha.
Mobil terus berjalan, membawa mereka ke rumah. Tak ada pembicaraan berarti yang mereka keluarkan, selebihnya hanya keheningan yang menyelimuti sepanjang mobil bergerak. Rama beranjak turun saat salah satu satpam membukakan pintu mobil, “di mana dia?” tanya Rama pada Mainun yang menyambut kedatangan mereka.
“Sedang beristirahat, Tuan.”
“Dia? Dia siapa?” tanya Citra yang telah berdiri di belakang Rama.
“Besok aku akan menceritakan semuanya … Aku lelah, ingin beristirahat,” sahut Rama yang berjalan meninggalkan mereka semua.
Citra melirik ke arah Mainun yang masih tertunduk, “Bibi, aku lapar. Bawa makanan untuk kami berdua ke kamar!” tukas Citra sambil berjalan mengikuti langkah Rama di belakangnya.
“Aku telah meminta Bibi untuk membawa makan malam kita ke kamar,” ucap Citra sembari menutup pintu kamar lalu berjalan memeluk Rama dari belakang.
“Kenapa tidak memasak langsung untukku?”
__ADS_1
“Aku? Untuk apa membayar mereka semua, kalau aku sendiri yang harus memasak … Lagi pula, bagaimana jika tanganku terluka oleh pisau. Sayang, Mamaku meminta kita untuk segera memiliki anak-”
Rama yang berbalik ke belakang, menghentikan perkataan Citra, “Mamamu meminta cucu, tapi Putrinya sendiri yang tidak betah di rumah.”
“Kenapa sikapmu berubah? Kau tidak pernah menyindirku seperti ini sebelumnya … Aku telah berusaha menjadi Istri yang baik, aku juga menghabiskan uang agar suamiku tidak dipandang sebelah mata-”
“Hanya itu? Apa kau tidak ingin mengatakan kebohonganmu atau mungkin rahasia yang kau sembunyikan?”
“Rahasia apa, Sayang? Aku tidak menyembunyikan apa pun,” ucap Citra membalas tatapan Rama.
Rama melengos, melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar, “ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” tukas Rama, dia berjalan meninggalkan Citra di kamar sendirian.
Citra melempar tas yang ia bawa, ‘apa yang terjadi padanya? Laki-laki membosankan itu, sudah bisa menolakku?’ geram Citra membatin dengan melirik ke arah pintu kamar yang tertutup.
Rama terus melanjutkan langkahnya mendekati pintu kamar Kila yang tertutup, dengan perlahan dia membuka pintu kamar yang tak dikunci itu. Rama masih berdiri, menatapi Kila yang lelap tertidur dengan selimut yang hanya menutupi pinggulnya. Tangannya membenarkan selimut, hingga benar-benar menutupi setengah bagian tubuh Kila.
Kila membuka matanya, saat ranjang yang ia tiduri bergerak … Lengkap dengan rangkulan yang ia rasakan di pinggangnya dari belakang. Dia berpura-pura memejamkan matanya, saat dia mendengar suara dari gagang pintu kamarnya … Dia bahkan sengaja untuk tidak mengunci pintu kamar, sekedar ingin bertaruh kepada dirinya sendiri, ‘apa kau, sudah merasa terganggu saat melihat Istri pertamamu? Sepertinya, tidak sia-sia aku mengorbankan kehormatanku,’ batin Kila, sambil memejamkan kembali matanya.
____________.
“Di mana Suamiku?!”
Kila yang sempat terlelap, membuka kembali matanya oleh bentakan seorang perempuan yang terdengar. “Di mana suamiku? Aku ingin bertemu dengannya!” Kila masih bergeming mendengar keributan dari luar, dia justru semakin membenamkan wajahnya di dada Rama dengan memeluk erat tubuh laki-laki di depannya.
“Apa perempuan itu ada di dalam kamar ini? Apa kalian bersengkongkol untuk menyembunyikan hal ini? Minggir!” suara Citra kembali meninggi, dia berusaha untuk mendorong para pelayan yang hendak menghalanginya memasuki kamar.
Citra menggenggam erat, buku pernikahan Rama dan juga Kila yang ia temukan di dalam ruang kerja Rama, “pantas saja aku ingin sekali pulang! Ternyata, perempuan murahan berencana ingin merebut suamiku! Minggir! Aku majikan kalian!” bentak Citra pada Mainun dan beberapa pelayan perempuan yang menghalanginya.
Citra mengatup bibirnya, saat pintu terbuka diikuti bayangan Rama dan juga Kila di belakangnya, “ternyata, buku nikah ini, benar?” tukas Citra, saat mereka berdua telah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
“Apa kau tidak tahu waktu? Aku harus bekerja besok dan harus beristirahat-”
“Beristirahat? Beristirahat bersama perempuan lacur sepertinya? Dia perempuan murahan yang telah membunuh adikmu!” bentak Citra, dia berjalan mendekati Kila lalu menjambak kuat rambut Kila menggunakan kedua tangannya.
“Apa sekarang kau berusaha untuk merebut suamiku? Dasar perempuan murahan!” bentak Citra berkali-kali sambil memukul kepala Kila beberapa kali.
Rama menarik tangan Citra, hingga Citra sedikit mundur ke belakang. Dia melirik ke arah Kila yang masih tertunduk, meraih kepala Kila lalu menariknya hingga bersandar di dadanya, “apa kau baik-baik saja?” tanya Rama, Kila masih terdiam … Hanya suara isakan saja yang terdengar darinya.
“Kau membela perempuan murahan itu dibandingkan aku! Aku Istrimu!”
“Tapi dia juga Istriku!” balas Rama membentaknya. Kila yang mendengar perdebatan mereka, berusaha untuk menahan senyum sambil semakin membenamkan wajahnya di tubuh Rama.
“Aku sudah katakan, akan menjelaskannya besok pagi. Kalau kau membuat keributan lagi malam ini, keluar dari rumahku!” bentak Rama seraya menunjuk ke wajah Citra.
“Masuklah ke kamar, Kila! Aku, akan menyusulmu,” perintah Rama dengan melepaskan rangkulannya di kepala Kila.
“Kalau kalian mengganggu istirahatku, siapa pun itu, segera angkat kaki dari rumahku,” ucap Rama, dia berjalan mendekati Citra lalu merebut buku nikah yang ada di tangannya.
“Tumben sekali, kau masuk ke dalam ruang kerjaku. Apa sebelumnya, kau pernah menganggapku sebagai suami?” sambung Rama, sembari berbalik menyusul Kila yang telah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar.
“Apa kau terluka?” tanya Rama, dia meletakan buku nikah di tangannya ke meja sebelum duduk di dekat Kila.
Kila menggeleng, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang membelakangi Rama, “aku bahkan tidak bisa mengelak dari caci maki yang ia ucapkan, karena benar apa yang ia katakan … Aku merebut suaminya. Kembali dan temui dia, kak! Dia lebih berhak atasmu dibanding aku-”
“Kau terlalu banyak berbicara. Aku lelah, bangunkan aku jam lima … Karena aku, harus mengejar penerbangan pagi,” ucap Rama sambil turut berbaring di sampingnya.
“Aku akan membangunkanmu, aku akan menyiapkan semuanya.”
‘Aku bahagia … Aku benar-benar bahagia, saat mendengarnya membentak perempuan itu. Apa kau melihatnya, Gilang! Aku melakukan semuanya dengan sangat baik,’ batin Kila, dia tersenyum kecil, menarik selimut lalu memejamkan kembali matanya.
__ADS_1