
Nindy pengasuh baby Ar, terkejut karena sang majikan telah berada di sana. Buru-buru ia mengambil alih balita tersebut dari gendongan Leon. Akan tetapi, baby Ar melingkarkan kedua tangannya erat ke leher Leon.
Semua menyaksikan bagaimana sikap Argon yang lengket dengan orang asing ini, termasuk Damian. Kening pria paruh baya itupun berkerut. Seketika, otaknya berpikir keras kenapa cucunya bisa mempercayai orang asing.
Meskipun postur tubuh dan mata itu, mengingatkannya pada seseorang. Damian, mencoba menghalau perasaannya yang aneh.
Begitupun dengan Leon, pria itu kembali merasa berdebar dadanya. Walaupun rasa itu agak sedikit menyakitkan, karena jantungnya seakan di remas dan udara di sekitarnya menipis.
Sesak, itulah yang ia rasakan. Di tambah lagi, balita dalam gendongan Leon, merangkul erat batang lehernya.
Menyaksikan bagaimana putranya kembali berada dalam gendongan pria asing. Adam merasa geram seketika. Sekalipun, Angelina mencoba meredam emosinya tapi pria itu tetap melangkah maju menghampiri Leon dengan wajah keras.
"Argon, ayo sini, sama Papa," panggil Adam seraya membentangkan kedua tangannya untuk mengambil putranya itu. Akan tetapi tetap saja balita itu seakan enggan berpisah dari pria asing yang membuatnya nyaman. Baby Ar justru menyusupkan wajahnya di leher Leon.
Mendapat penolakan dari putranya sendiri, nyatanya membuat Adam semakin kesal. Leon sendiri tak habis pikir, kenapa balita tampan dengan rambut pirang ini justru lengket padanya.
Apakah balita ini merasakan hal yang sama dengannya? Batin Leon.
Tentu saja hal yang terjadi di depan mata itu m membingungkan semua orang. Termasuk, Katie dan juga Damian.
Angelina segera maju ke sisi suaminya itu, mencoba menetralisir amarah yang sedang di pendam oleh Adam sedemikan rupa.
Angelina kini berusaha mengambil alih putranya itu. "Sayang ... yuk sama Mama. Tuh, grandpa sudah turun. Kita pulang ya, Nak!" bujuk Angelina dengan tangan yang telah di sodorkan ke depan.
Tetap saja, baby Ar justru semakin mengencang rangkulannya di leher Leon, sampai pria itu merasa tercekik. Akhirnya Leon memutuskan untuk membujuk balita ini agar lepas darinya. Leon juga merasa tak nyaman dengan pandangan aneh dari mereka semua.
"Hei, pria tampan yang pintar. Kembalilah kepada mama dan juga papamu, ya. Nanti kita bisa main lagi," bujuk Leon seraya melepaskan perlahan tangan balita itu dari lehernya.
Ternyata, Argon juga tak mau mendengar ucapannya. Balita itu tak mau melepaskan pegangannya. Hingga, Leon mendorong paksa tubuh baby Argon untuk menyerahkannya pada Adam.
Tanpa di duga, baby Argon mengamuk sejadi-jadi. Balita itu bahkan meronta terus ketika berada di dalam gendongan Adam. Selama ini, putra mereka belum pernah seperti itu .. tapi entah kenapa kini baby Argon justru menganggap kedua orang tuanya itu makhluk asing.
"Baby Argon! Diamlah! Dia hanya orang asing!" tegas Adam sedikit membentak. Sontak hal yang dilakukannya membuat balita Itu menangis semakin kencang.
Angelina tidak terima Adam membentak putranya. Ia pun mencubit pinggang suaminya itu lumayan kencang. Hingga Adam menoleh dan seketika sadar terhadap apa yang di lakukannya barusan.
__ADS_1
Adam memberi tatapan tajam pada Leon. Namun pria di depannya membalas tatapan itu sana temannya. Leon tak terima intimidasi dari Adam. Toh, dirinya merasa tak bersalah.
"Putra kalian yang menghampiriku. Dia juga yang tak mau turun dari gendonganku. Jadi, hentikan tatapan penuh tuduhan itu!" sarkas Leon. Sejak awal pria di hadapannya ini sangat membencinya.
Siapa mengira jika baby Ar justru sangat dekat dengan Leon. Bahkan, balita itu terus mendorong tubuh Adam dengan sesekali menatap ke arah Leon.
Sontak, hati Leon trenyuh. Tak tega melihat baby Argon menangis seperti itu. Ingin rasanya ia mengambil kembali dan mendekapnya dalam pelukan. Akan tetapi, itu adalah hal yang tak mungkin ia lakukan.
Siapa dirinya. Hanya orang asing tentu saja. Dirinya tak memiliki hak apapun terhadap baby Ar.
Adam tanpa menjawab sepatah kata pun memilih untuk berlaku. Dimana kemudian langkahnya diikuti oleh yang lain. Semakin jauh melangkah, maka tangisan dan amukan dari baby Argon semakin menjadi.
"Hei, Nak. Kau ini kenapa? Dia itu hanya orang asing!" tegas Adam lagi pada balita sudah sesenggukan itu.
"Adam! Kau menyakiti Argon!" teriak Damian di belakang langkah mereka.
Adam lantas menoleh, kala mendengar suara bariton tersebut. Susah payah mengimbangi gerakan baby Ar yang begitu agresif penuh emosi.
"Apa yang harus aku lakukan, Dad?" tanya Adam dengan wajah frustrasi.
"Siapa, Dad?" tanya Angelina heran.
"Tentu saja Daddy. Kau pikir siapa lagi, " jawab Adam agak emosi. Dirinya tau siapa maksud sang daddy.
"Sudahlah, berikan Argon padanya!" Akhirnya suara keras Damian membuat Adam kalah terhadap pendiriannya. Sekalipun hatinya sungguh tak rela karena putranya itu menganggap orang lain lebih nyaman daripadanya.
Biasanya baby Ar tidak akan mau dengan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Bahkan, jika sudah bersamanya maka balita itu tidak akan tergiur dengan ajakan orang lain termasuk mamanya sendiri.
Akan tetapi hari ini, putranya itu mengamuk lantaran ingin terus berada di pelukan orang asing. Mau tak mau, Adam kembali menyerahkan Argon dengan perasaan tak rela.
Leon dengan sigap menerima balita yang menangis itu dan langsung memeluknya. "Sstt, tenanglah," bisik Leon. Dimana hal itu langsung membuat baby Ar terdiam.
Damian mengajak Leon dan yang lainnya duduk di lobi. Memperhatikan bagaimana, pria itu memperlakukan cucunya dengan lembut dan penuh kasih sayang yang ia lihat itu semua di berikan oleh Leon dengan tulus.
"Mom bagaimana ini? Kita harus segera membawa Daddy pulang," gusar Adam. Katie memberi isyarat untuk diam. Karena ia tau jika suaminya pada saat ini tengah menafsirkan situasi.
__ADS_1
"Maaf, jika cucu saya merepotkan anda." Leon langsung menatap pria paruh baya yang mengajaknya bicara. Pria itu hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Jika boleh tau, apakah Anda sedang menunggu seseorang?" tanya Damian.
"Ya saya sedang menunggu kekasih saya pulang," jawab Leon sopan. Damian pun mengangguk.
Tak lama kemudian.
"Leon!" Karen nampak menghampiri dengan raut wajah bingung.
"Balita ini? Bagaimana bisa--"
"Dokter Liu?" Kaget Damian. Hal itu lantas membuat Karen sontak menoleh.
"Ah, kenapa anda masih di sini, tuan Damian. Sebaiknya anda segera pulang dan beristirahatlah," ucap Karen memperingati.
Damian tersenyum tipis sebelum menjawab. "Bagaimana saya bisa langsung pulang, jika cucu saya tidak mau lepas dari kekasih anda," jelas Damian. Pada saat inilah, Karen baru mengerti kenapa mereka semua berkumpul di lobi.
"Bayi ini? Kenapa begitu lengket dengan leon?" Gumam Karen dalam hati.
"Saya mohon, kalian ikutlah ke penthouse. Mungkin, di sana kita bisa mengalihkan perlahan perhatian baby Ar," saran Damian. Akan tetapi, Adam nampak tak setuju, namun tak ada yang dapat ia lakukan selain menggenggam erat tangan istrinya. Entah kenapa, tiba-tiba perasaan takut kehilangan Angelina kembali muncul menakutinya.
Mau tak mau, Karen dan Leon pun ikut.
Adam harus rela ikut bersama di dalam kendaraan milik Karen. Karena, baby Ar telah tertidur di dalam gendongan Leon. Adam memutuskan untuk mengambil alih kemudi.
Sementara, Angelina berada di dalam mobil bersama kedua mertuanya. Berharap setelah sampai di mansion putranya itu mau lepas dari Leon. Angelina mulai rindu memeluk balita tampan yang pintar itu.
Sesampainya di penthouse.
Leon mengedarkan pandangannya. Hingga, Nindy menunjuk di mana kamar baby Ar. Leon, meletakkan Argon yang terus memegangi kerah bajunya erat. Perlahan Karen, membantu Leon melepaskan jemari kecil yang memegangnya erat itu.
"Tidurlah dengan tenang, pria kecil," ucap Leon. Entah dorongan darimana pria itu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening baby Argon.
...Bersambung ...
__ADS_1