
Lidia terkejut mendengarnya. Namun Sean berusaha tenang. Mungkin setelah ini dia akan segera mencari orang yang sengaja mengajaknya bermain-main itu.
Sean memang melihat kalau ada salah satu kabel pada mesin mobilnya hilang. Sepertinya memang orang itu bukan orang sembarangan. Karena bisa membuka kap mobilnya dengan mudah tanpa merusak bagian luar. Beruntungnya tadi dia segera menyadari keanehan itu dan tidak langsung menjalankan mobilnya.
“Terima kasih Tuan, Nyonya. Saya akan menelepon orang bengkel saja bisa memperbaiki mobil saya.” ucap Sean.
“Kalau anda memperbolehkan, saya bisa memperbaikinya.” Ucap Pelangi.
“Benar kata istri saya, Tuan Sean. Lagipula ini sudah malam. biarkan istri saya yang memperbaikinya.” Tuan Kenzo meyakinkan.
Sean melirik istrinya. Mendapat anggukan kepala dari istrinya, Sean akhirnya mempersilakan istri Tuan Kenzo memperbaiki mobilnya.
Tuan Kenzo pun berjalan menuju mobilnya untuk mengambil box yang berisi peralatan untuk memperbaiki mobil. Dan sepertinya box itu sengaja dipersiapkan untuk berjaga-jaga jika dalam perjalanan mengalami kerusakan pada mobilnya.
Sean dan Lidia hanya melihat wanita cantik itu sibuk memperbaiki mobilnya. Dengan Tuan Kenzo yang sesekali ikut membantu mengambilkan beberapa alat yang dibutuhkan. Dan tak segan-segan pria itu mengusap keringat yang membasasi dahi sang istri.
Sungguh Sean dan Lidia menjadi salah tingkah sendiri melihat kemesraan pasangan yang tidak muda lagi itu. Namun mereka berdua senang melihatnya. Tak lama kemudian Pelangi selesai memperbaiki mobil Sean. Tuan Kenzo segera mengembalikan peralatannya ke dalam mobilnya.
“Sudah selesai, Tuan Sean.” Ucap Pelangi.
“Terima kasih banyak Nyonya. Saya tidak bisa membayangkan jika tadi saya tidak mengetahui keanehan pada mobil saya.” ucap Sean.
“Sekarang mobil anda sudah aman. Anda tidak perlu lagi khawatir. Dan ini saya beri kartu nama alamat bengkel saya, jika anda masih merasakan kurang nyaman dengan mobil anda.” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kartu nama.
Sean menerimanya dengan senang hati. Sungguh dia sangat beruntung hari ini bertemu dengan orang baik yang mau menolongnya dengan senang hati.
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak Nyonya, Tuan. Saya bingung harus membayarnya dengan apa?”
“Tidak perlu membayarnya Tuan. Cukup jodohkan saja anak-anak kita nanti.” Usul Tuan Kenzo.
Sean dan Lidia saling lirik. Bisa-bisanya anaknya yang masih belum genap dua tahun akan dijodohkan dengan anak kedua Tuan Kenzo yang masih usia taman kanak-kanak.
__ADS_1
“Saya hanya bercanda Tuan Sean, tidak perlu terlalu dipikirkan.” Sahut Tuan Kenzo sambil tertawa.
Sean dan Lidia hanya tersenyum menanggapi candaan Tuan Kenzo. karena waktu sudah malam, akhirnya mereka segera pulang ke rumah masing-masing.
Dalam perjalanan pulang, Lidia menunjukkan raut wajah tak tenangnya. Dia masih memikirkan tentang seseorang yang sengaja akan mencelakainya.
“Sayang, tenanglah. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. kamu ingat dengan janjiku bukan? Aku akan melindungi kalian semua.” Ucap Sean sambil mengusap lembut lengan istrinya.
“Aku. aku takut, Sean. Aku takut kehilangan orang yang aku cintai untuk kedua kalinya.” Jawab Lidia yang tak bisa lagi membendung air matanya.
Sean sejenak menepikan mobilnya. Dia mengusap air mata istrinya. Sean tahu kalau istrinya sangat mencintainya dan tidak mau kehilangan. Dia juga berjanji pada dirinya sendiri, bagaimanapun caranya untuk menumpas tuntas orang yang berbuat jahat pada keluarganya tanpa mengorbankan cintanya.
“Sudah, sekarang kita pulang ya. Kasihan anak-anak sudah tidur nanti akan terganggu.” Ucap Sean sambil melirik Chandra yang sudah tidur di kursi belakang. Sedangkan Viana berada dalam gendongan Lidia.
Sesampainya di rumah, Sean menggendong Chandra dan menidurkkan di dalam kamarnya. Begitu juga dengan Viana. Lidia menidurkan anaknya di dalam kamar yang bersebalahan dengan kamarnya.
Hari ini cukup melelahkan bagi Lidia. Setelah berganti pakaian, wanita itu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama kemudian Sean menyusul. Pria itu tersenyum tipis melihat istrinya sudah terlebih dulu tidur tanpa menunggunya.
Sean mengecup kening Lidia sekilas sebelum dia beranjak ke ruang ganti untuk berganti pakaian tidur. Namun mata Sean belum mengantuk. Pikirannya masih mengganjal mengenaai orang yang telah merusak mobilnya.
Sean berjalan menuju ruang kerjanya. Dia harus mencari tahu pelaku itu. Sean mulai membuka laptopnya dan melihat rekaman cctv di parkiran mall yang diduga sudah diretas oelh pelaku terlebih dulu.
Meski Sean bisa memulihkan rekaman cctv itu, namun itu sangat membutuhkan waktu lama dan berjam-jam. Selagi menunggu datanya diproses, Sean menghubungi Xander. Dia akan berunding mengenai Bryan yang telah membuat onar di perusahaan cabang yang yang sedang dipegang oleh sahabatnya itu.
Sean melakukan panggilan pada Xander. Namun hingga panggilan ketiga, pria itu tak kunjung mengangkat ponselnya. Padahal sekarang waktu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Sean mencoba menghubungi Xander kembali. Dan panggilan keempat akhirnya Xander menerimanya.
“Kamu sibuk?” tanyanya.
“Iya, ini di jalan. Sebentar lagi aku akan sampai apartemen. Bicara saja, aku siap mendengarnya” Jawab Xander.
Sean pun menceritakan tentang kejadian yang menimpanya barusan. Dia juga menyampaikan tentang pesan dari nomor asing tadi. menurut Xander, pria yang mengirim pesan itu bukan dari orang suruhan Bryan. Mengingat pesannya yang sepertinya sangat menginginkan Lidia. Lalu tentang pelaku yang sengaja merusak mobilnya, sepertinya itu orang suruhan Bryan.
__ADS_1
“Jadi orang suruhan Bryan dan David sama-sama berada di kota ini?” tanya Sean.
“Benar. Tapi sepertinya kita harus menanganinya satu per satu. Lebih baik Bryan dulu yang harus kita tangani terlebih dulu. Karena dia sangat membahayakan.” Jawab Xander.
“Aku setuju dengan ide kamu. Lalu apa yang harus kita lakukan? Sepertinya baj****n itu tidak kapok dengan peringatan yang kita berikan.” Ucap Sean.
“Tunggulah, minggu depan aku akan ke kota J, kita akan susun rencana secantik mungkin agar baj****n itu tak berulah lagi.” Jawab Xander.
“Baiklah aku tunggu.”
Setelah itu Sean mengakhiri panggilannya dengan Xander. Dia kembali melanjutkan kegiatannya. Hingga pukul dua dini hari Sean baru bisa mendapatkan hasil pencariannya. Sean mengusal senyum lega setelah mendapatkan rekaman cctv di parkiran mall.
Sean memutar video rekaman yang berdurasi dua menit lima puluh detik itu. Terlihat seorang pria memakai jaket berwarna abu-abu. Pria itu berjalan santai mendekati mobil Sean seolah mobilnya sendiri agar tidak dicurigai orang-orang yang berada disana.
Pria itu mengeluarkan sebuah alat dari saku jaketnya dan membuka kap mobil Sean dengan mudah tanpa kesusahan. Dari rekaman itu Sean masih belum mengenali pria itu. Meski pria itu tidak memakai masker ataupun penutup kepala, namun tetap saja Sean belum bisa mengenalinya.
Selesai memutar video rekaman itu sampai habis, Sean mulai mencari tahu identitas pelaku. Dia memperbesar gambar pria yang merusak mobilnya. Matanya membulat sempurna saat mengetahui siapa pria itu sebenarnnya.
“Jeff!!” ucap seseorang yang sedang berdiri di belakang Sean.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1