
Xander segera menyematkan cicin bertahta berlian itu ke jari manis Silvia. Setelah itu Xander mencium tangan Silvia lalu memeluknya.
Keromantisan Xander dan Silvia di restaurant itu seperti sebuah pertunjukan drama. Tak sedikit dari beberapa pengunjung yang mengabadikan moment tersebut. Karena bagi mereka bahwa Xander adalah sosok pria yang sangat gentle. Bahkan ada dari mereka yang sengaja memberikan bunga pada Xander untuk diberikan pada Silvia.
Silvia merasa sangat bahagia. Akhirnya setelah sekian lama menjalin hubungan yang penuh liku dengan pria yang terkenal dingin namun penyayang itu, kini dia sudah mendapat kepastian. Selangkah lagi mereka akan menuju pelaminan untuk menjadi pasangan halal.
Ucapan terima kasih tak henti-hentinya Silvia ucapkan pada pria yang kini sudah duduk di hadapannya. Makanan yang sudah tersaji di depan mata membuat selera makan Silvia menghilang. Lantaran rasa bahagianya.
“Ayo makanlah, nanti kamu lapar. Kamu sejak tadi belum makan, Silvia.” Perintah Xander.
“Selera makanku hilang saking bahagianya.” Jawab Silvia dengan terus memandangi wajah sang kekasih.
“Baiklah. Kalau kamu nggak mau makan, setelah ini aku yang akan makan kamu.”
Silvia melotot tajam. Dia tahu maksud dari perkataan Xander barusan. Lalu dengan cepat Silvia menarik piringnya, kemudian memakannya. Xander melihat tingkah Silvia hanya mengulum senyum.
Setelah makan siang, Xander tak langsung mengajak Silvia pulang. pria itu masih ingin menikmati waktu berduanya dengan sang pujaan hati. Karena Xander akui kalau selama ini ia jarang sekali mempunyai waktu berdua lebih lama. Dan setelah kembalinya Sean dan Lidia, selain ingin membiarkan mereka menikmati waktunya, Xander juga ingin menikmati waktunya.
“Kita mau kemana lagi?” tanya Silvia saat sudah berada di dalam mobil.
“Hari ini kita puas-puasin menikmati waktu kita berdua. Kamu nggak keberatan kan?”
Silvia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga sangat senang.
Xander melajukan mobilnya menuju pantai. Dia ingin menikmati waktu sorenya di pantai bersama orang terkasih. Selama perjalanan, Xander tak henti-hentinya memegang tangan Silvia dan sesekali menciumnya.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di pantai. Tempat itu tak begitu ramai. Hanya beberapa orang saja yang menikmati udara sore hari di pantai sambil melihat matahari teerbenam.
__ADS_1
“Kapan kita akan pulang ke tanah air?” tanya Silvia.
“Hei… apakah kamu sudah tidak sabar untuk melangsungkan pernikahan kita?” goda Xander.
“Bukan. Bukan seperti itu. Aku sangat merindukan adik-adikku.” Jawab Silvia sendu dengan tatapan tertuju pada hamparan laut luas.
Xander mengerti suasana hati Silvia saat ini. atau mungkin memnag selama ini perempuan itu selalu merindukan adik-adiknya yang lama terpisah. Kemudian Xander merengkuh tubuh Silvia dan memeluknya dengan erat.
“Maafkan aku. aku usahakan secepatnya kita pulang. Nanti akan aku bicarakan dengan Sean.” Ucap Xander.
Memang senang kalau sebentar lagi Silvia pulang dan bisa bertemu dengan adik-adiknya. Namun, tiba-tiba ada rasa kehilangan dalam dirinya karena akan berpisah dengan Kavi. Bayi tampan yang selalu bersamanya.
“Tapi rasanya aku juga tidak ingin berpisah dengan Kavi. Kamu tahu, dia sudah seperti anakku sendiri.”
“Iya. Aku paham. Nanti kita buat sendiri yang lebih tampan dari Kavi, dan yang pasti-
Xander mengaduh kesakitan saat tiba-tiba perutnya dicubit dengan keras oleh Silvia, hingga pria itu melepas pelukannya. Setelah itu Silvia berdiri dan berjalan meninggalkan Xander yang masih mengusap perutnya.
“Kamu mau kemana?” Xander mengejar Silvia yang sudah mempercepat langkahnya.
Matahari sudah hampir tenggelam, dan langit sudah mulai petang. Silvia terus berlari kecil dan Xander terus mengejarnya.
Grep
Xander akhirnya bisa menangkap tubuh Silvia. Mereka tergelak bersama saling berpelukan. Xander sedikit mengangkat tubuh Silvia lalu memutar-mutarkan tubuhnya. Silvia berteriak karena merasa pusing.
“Maaf!” ucaapnya lalu menghentikan aktivitasnya.
__ADS_1
Mereka berdua berdiri saling berhadapan. Tangan Xander mempererat pelukannya hingga jarak keduanya semakin terkikis. Pandangan mata mereka saling mengunci. Mereka saling diam. Hanya terdengar suara deburan ombak yang memecah karang. Kepala Xander tertunduk menyeimbangi Silvia yang posisi tubuhnya lebih pendek dari Xander.
Cup
Xander mendaratkan kecupan singkat pada bibir yang sudah lama tidak ia singgahi. dan rasanya masih sama. Manis dan memabukkan, walau hanya kecupan singkat.
Silvia memejamkan mata. Menikmati kebahagian yang sedang ia rasakan bersama pria yang sangat ia cintai. Lalu Xander kembali mengulangi kegiatannya. Kali ini bukan hanya kecupan singkat. Melainkan ciuman hangat, lama, dan penuh kasih sayang.
“I love you, Honey.”
“I love you more, my Man”
Keduanya kembali berciuman dengan durasi yang lumayan lama. Mereka sama-sama menikmati keromantisan itu di bawah langit yang sudah menenggelemakan sang surya. Suasana di sekitar mereka menjadi syahdu. Xander semakin kuat memeluk tubuh Silvia dan sedikit mengangkatnya hingga Silvia seperti sedang dalam gendongan Xander.
Lama memagut dalam keromantisan, akhirnya mereka menyudahi kegiatan itu dengan nafas yang memburu.
“Sudah petang. Lebih baik kita pulang!” ajak Silvia lalu berjalan lebih dulu sambil mengusap bekas ciumannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1