
“Sini Viana, makan es krimnya dulu sama Tante Silvia.” Ucap Xander saat melihat Viana datang menghampiri Mamanya.
Xander memberikan es krim milik Viana kepada Silvia agar menyuapinya. Sedangkan Xander pergi ke stand es krim lagi untuk membelikan Lidia.
Silvia berusaha bersikap biasa saja saat sedang bersama Lidia saat ini. entahlah hatinya sungguh sakit melihat orang yang dicintai justru sangat peduli pada wanita lain. Meski sebelumnya Xander sudah berulang kali mengatakan kalau kepeduliannya terhadap Lidia dan anak-anaknya hanya karena rasa kemanusiaan dan amanat Sean.
“Xander adalah pria yang baik, Silvia.” Ucap Lidia tiba-tiba.
Silvia yang sejak tadi diam menyuapi es krim untuk Viana sedikit terkejut mendengar ucapan Lidia. Entah apa maksud wanita itu mengatakan kalau kekasihnya adalah pria yang baik.
“Kata suamiku, sikap hangat Xander muncul sejak mengenal kamu.” Lanjutnya.
Silvia tak terlalu menanggapi ucapan Lidia. Dia hanya mengangguk samar dan tersenyum tipis. Hatinya masih diliputi rasa gundah melihat sang kekasih seperti tadi.
“Ini, sudah aku belikan lagi!” ucap Xander yang baru saja datang dengan membawa satu cup es krim.
“Terima kasih. Kemana Chandra tadi? es krimnya keburu meleleh.” Tanya Lidia sambil mencari sang anak.
“Sudah, kalian disini saja. Biar aku bawain es krim Chandra kesana.” Jawab Xander sambil menunjuk arah Chandra yang sedang bermain.
Silvia merasa diacuhkan oleh Xander, hanya diam saja dan terus melanjutkan menyuapi Viana. Bahkan es krim miliknya sendiri tidak ia sentuh sama sekali dan dibiarkan meleleh begitu saja.
Beberapa saat setelah puas menikmati udara sore, waktu sudah hampir petang. Mereka memutuskan untuk pulang.
Silvia masih duduk di samping Xander dengan memangku Viana yang sedang tidur. Sementara Lidia dan Chandra duduk di kursi belakang. Hening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka bertiga. Karena Chandra juga sudah tidur.
Lidia diam karena sedang merindukan sang suami. sedangkan Xander diam karena memikirkan keadaan Sean. Terlebih sangat penasaran dengan pesan Sean yang disampaikan pada Marsha. Namun berbeda dengan Silvia. Perempuan itu hatinya masih dongkol. Karena sampai sekarang pun Xander taak mempedulikannya.
__ADS_1
Kini mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di rumah. Silvia keluar begitu saja dengan menggendong Viana. Dan membawanya masuk ke dalam kamarnya. Semenjak perut Lidia membesar, Silvia berinisiatif mengajak Viana tidur bersamanya. Dan Lidia mengijinkan.
Xander heran dengan sikap kekasihnya yang sejak tadi terus diam. Namun dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Mungkin Silvia sedang lelah. Kemudian dia menggendong Chandra dan membawanya ke kamar.
“Silvia, kamu baik-baik saja?” tanya Xander, saat mereka berpapasan.
“Hemmm” jawabnya sambil lalu tanpa melihat wajah Xander.
Xander semakin tidak nyaman dengan sikap Silvia yang dingin padanya. Pria itu pun segera mengejar Silviaa yang hendak masuk kamar.
“Tunggu! Ada apa denganmu, Silvia?” tanya Xander.
“Aku nggak apa-apa. Aku lelah. Ingin istirahat.”
Xander tak menyerah. Dia mencekal tangan Silvia lalu menariknya dan mengajak ke taman belakang. Silvia hanya pasrah.
“Aku nggak suka dengan sikap dingin kamu seperti ini, Silvia!” Ucapnya setelah keduanya duduk bersama.
“Katakan! Kenapa kamu bersikap dingin seperti ini?” Xander memegang kedua bahu kekasihnya dan menatap tajam matanya.
“Sudah aku katakan bukan, kalau aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah. Tolong, lepaskan! Aku ingin istirahat.”
Xander semakin kesal karena Silvia seperti sedang menutupi sesuatu darinya. Pria itu tak lantas melepaskan Silvia. Namun justru mencium bibir Silvia dengan tiba-tiba, dan menggigitnya agar Silvia membuka mulutnya.
Silvia meronta, lalu mendorong kuat tubuh Xander. Hatinya semakin sakit diperlakukan seperti itu oleh Xander.
“Berengsekk kamu! Apa hanya napsu yang selalu kamu lihat pada diriku? Oh tentu saja iya. Karena aku tahu hati kamu perlahan sudah tertaut pada wanita lain. Aku sangat membencimu, Xander! Aku lelah dengan semua ini. lebih baik aku pulang saja!” Ucap Silvia penuh emosi dan air matanya sudah membasahi pipi.
__ADS_1
Xander sangat terkejut dengan kemarahan Silvia. Dia sangat bersalah dan juga tidak mengerti dengan maksud Silvia yang bilang kalau hatinya mulai berpaling.
Grep
Xander segera memeluk tubuh Silvia. Hatinya juga sakit melihat kesedihan yang sedang dirasakan oleh Silvia. Bahkan perempuan itu ingin pulang.
“Maafkan aku, Silvia! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sama sekali tidak punya niatan berpaling darimu. Please, tetaplah disini.” Ucap Xander penuh permohonan.
Silvia masih bergeming. Dia benar-benar lelah dan tidak ingin berdebat dengan Xander. Tak lama kemudian Xander mengurai pelukannya dan memutar tubuh Silvia agar berhadapan dengannya.
“Maafkan aku! kamu jangan salah paham lagi dengan kedekatanku pada Lidia. Aku hanya-“
“Hanya memenuhi amanat Tuan Sean dan demi rasa kemanusiaan. Bukankah kamu juga mencintaiku, karena aku manusia?”
“Please, Silvia! Jangan semakin memperkeruh masalah. Aku juga ingin sekali masalah ini cepat selesai. tolong bersabarlah.”
Silvia tampak tenang, lalu perlahan mundur dan meninggalkan taman. Saat Xander ingin menahannya, deringan ponsel dalam sakunya mencuri atensinya.
“Leon?”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading‼️