
Lidia terisak pilu dalam pelukan suaminya. Sean belum memberitahu yang sebenarnya. Dia membiarkan istrinya meluapkan kesedihannya dulu, kalau sudah tenang baru ia akan menjelaskan dengan pelan.
“Ayo duduk di sini. Chandra akan baik-baik saja. Aku sangat yakin kalau dia adalah laki-laki yang kuat.”
Sean memberikan sebotol air mineral pada istrinya agar lebih tenang.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Chandra pulang tidak memberitahu kita?”
“Tenanglah. Chandra tadi pulang dari bandara langsung pergi restaurant untuk makan siang. Dan kebetulan dia bertemu dengan Feby. Chandra melihat ada seseorang yang akan melukai Feby, jadi dia menyelamatkan Feby,-“
“Dan anakku yang terluka parah?” sahut Lidia dengan ssuara semakin pilu.
“Iya. Aku mohon jangan menyalahkan siapapun, Sayang. Niat Chandra baik, hanya ingin menyelamatkan Feby. Bukan gara-gara Feby, Chandra harus terluka.”
Lidia tampak diam tak memberikan sanggahan. Entahlah apa yang sebenarnya dalam benak wanita paruh baya itu. Yang terpenting saat ini hanya berdoa untuk keselamatan anaknya.
Sementara itu, tadi saat Kenzo menemani Feby mendapatkan pengobatan pada sikunya yang terluka, tak lama kemudian ada pihak kepolisian yang datang dan ingin menginterogasi Feby. Dan Kenzo meminta agar dilakukan di rumah sakit saja, karena keadaan Feby tidak memungkinkan jika harus ke kantor polisi.
Meskipun pihak kepolisian menangani kasus penusukan yang vterjadi pada Chandra, namun Kenzo akan tetap mencari pelakunya sendiri. Bukan tidak percaya dengan cara kerja pihak kepolisian, hanya saja Kenzo tidak mau kasus itu berlarut-larut dan diam di tempat.’
Setelah mendapat beberapa pertanyaan dari pihak polisi, Kenzo meminta Feby beristirahat. Meskipun tidak dirawat inap, namun Feby sangat membutuhkan istirahat akibat shock. Tidak lama setelah itu, Mamanya juga sudah datang.
Feby sebenarnya ingin menunggu di depan ruang operasi Chandra, namun Papa dan Mamanya melarang. Disana juga sudah ada Sean dan Lidia. Terpaksa Feby harus menurut agar tenaganya juga segera pulih.
__ADS_1
**
Kurang lebih selama delapan jam, operasi Chandra baru selesai. waktu juga sudah malam dan menunjukkan pukul sepuluh malam. Sean dan Lidia juga sejak tadi tidak beranjak sedikitpun dari tempat itu.
Sean menyambut dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi. Terlihat wajah lelah beberapa perawat yang ikut keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana keadaan anak saya, dok?”
“Operasinya berjalan lancar. Namun untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruangan ICU.”
Sean memeluk istrinya yang terlihat sangat khawatir. Walau kata dokter operasinya berjalan lancar, perasaan wanita itu tetap was-was. Takut jika terjadi sesuatu dengan Chandra.
“Dokter memindahkan Chandra ke ruangan ICU agar bisa lebih intensif dalam melihat perkembangan keadaannya pasca operasi. Kamu jangan mikir yang tidak-tidak. Kita doakan saja.” Ucap Sean.
Tidak lama kemudian tampak beberapa perawat memasuki ruangan operasi untuk memindahkan Chandra. Sean dan Lidia juga ingin melihat anaknya, walau mata Chandra tertutup rapat.
Mereka berempat berjalan mengikuti arah Chandra yang akan dibawa masuk ke ruangan ICU. Meskipun tidak diperbolehkan masuk, setidaknya masih bisa dilihat dari balik pintu kaca.
“Lidia, aku yakin Chandra akan segera pulih. Dia laki-laki yang kuat.” Ucap Pelangi.
“Maafkan aku. gara-gara menyelamatkan Feby, hingga menyebabkan anak kamu seperti ini. keluargaku berhutang nyawa pada Chandra.” Lanjutnya.
Lidia hany tersenyum tipis menanggapi. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. hanya bisa mendoakan kesembuhan anaknya.
__ADS_1
*
Sementara itu Feby saat ini sedang istirahat di rumah. perempuan itu tadinya menolak untuk pulang. tapi karena paksaan dari Papanya dan demi kesehatannya, Feby terpaksa pulang.
Keadaannya sudah meembaik. Hanya luka di sikunya saja yang masih sedikit membutuhkan perawatan. Sejak tadi dia tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Chandra. Bahkan sudah jam dua belas malam, Mama dan Papanya juga belum pulang dari rumah sakit. Ingin sekali dia menyusul ke rumah sakit, namun dia teringat peringatan Papanya yang melarang keluar rumah, karena akan sangat membahayakan dirinya.
Tanpa sengaja tiba-tiba rungu Feby menangkap suara mobil Papanya memasuki halaman rumah. perempuan itu segera turun untuk memastikan.
“Ma, Pa, bagaimana keadaan Chandra?” tanya Feby khawatir.
“Sayang, kenapa kamu nggak tidur? Kamu butuh istirahat untuk memulihkan kesehatan kamu.” Bukannya menjawab pertanyaan Feby, Pelangi justru mengkhawatirkan kesehatan anaknya.
“Operasi Chandra sudah selesai dan berjalan lancar. Namun saat ini dia masih membutuhkan perawatan intensif guna melihat perkembangan keadaannya pasca operasi.” Suara itu bukan suara Mamanya, melainkan Papanya.
“Benar. Lebih baik kamu segera kembali ke kamar. besok kita akan ke rumah sakit lagi untuk menjenguk Chandra. Kamu ikut kan?”
Feby mengangguk, “Baik Ma, Pa, Feby akan kembali beristirahat.”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️