
Sean memasuki kamarnya tepat saat Lidia baru saja keluar dari kamar Mirza yang terhubung dengan kamarnya. Meskipun Mirza sangat sulit untuk ditidurkan di kamarnya sendiri, namun Lidia tetap memaksa dan membiasakannya.
“Sayang, ada yang ingin aku bicarakan.” Ucap Sean.
Lidia hanya melirik suaminya tanpa minat. “Kalau kamu hanya ingin membujukku agar memberikan ijin pada Chandra untuk tetap tinggal disini, lebih baik tidak usah bicara denganku. Aku tetap tidak mengijinkan Chandra tinggal disini sendirian."
Sean sungguh bingung menghadapi kemarahan istrinya yang sudah seperti ini. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar sambil menekan kuat rasa sabar dalam hatinya. Kemudian Sean meraih tangan Lidia dan mengajaknya duduk berhadapan dan berbicara baik-baik.
Lidia masih terlihat kesal saat sudah duduk berhadapan dengan suaminya. bahkan wajahnya masih menyorot tak ramah pada pria yang telah menemaninya bertahun-tahun itu.
“Sayang, Chandra sudah besar. Biarkan dia belajar mandiri. Lagipula Fredy sudah setuju jika aku memintanya untuk tinggal disini bersama istrinya.” Ucap Sean dengan lembut.
“Harusnya kamu tahu, selama ini aku tidak pernah tinggal jauh dengan anak-anakku, Sean. Tapi kenapa justru kamu memberikan ijin dengan mudah. Apakah karena Chandra bukaan darah daging kamu, dan kamu sama sekali tidak merasa kehilangan?” tanya Lidia penuh kekecewaan.
“Please, Lidia jangan pernah mengatakan hal yang tak masuk akal seperti itu. Sama sekali aku tidak pernah membeda-bedakan mana anak kandungku dan yang bukan anak kandungku. Semuanya sama.” Jawab Sean.
Emosi Sean hampir tidak bisa ditahan lagi. sudah banyak masalah dengan perusahaannya, kini ditambah lagi dengan masalah anak dan istrinya.
“Aku tetap tidak mengijinkan Chandra tinggaal disini.” Pungkasnya lalu beranjak merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
“Saat ini perusahaan di Indonesia sedang dalam masalah besar. Maaf kalau aku ingin fokus dengan perusahaan dulu. Aku tidak akan memaksamu lagi. kamu dan anak-anak tetaplah tinggaal disini. Biar aku saja yang terbang ke Indonesia sendiri.” Ucap Sean sambil menatap punggung Lidia yang kini posisinya sedang membelakangi Sean. Lalu Sean beranjak dari kamar menuju ruang kerjanya.
Deg
__ADS_1
Lidia sangat terkejut mendengar perkataan terakhir suaminya. dan itu tandanya, Sean akan meninggalkan dirinya dan anak-anak tetap tinggal disini. Seketika Lidia merasa sangat bersalah pada suaminya. harusnya di saat seperti ini keberadaannya selalu menguatkan dan memberikan semangat suaminya. bukan malah menambah masalah.
Lidia menitikan air matanya. apakah ia akan mengambil keputusan untuk tetap tinggal disini bersama anak-anaknya dan jauh dari suaminya. atau memilih ikut suaminya pulang dan membiarkan Chandra tinggal disini sendiri.
Hidup jauh dari suami, Lidia pernah merasakannya. Dan rasanya itu sangat hampa. Bahkan dulu dia pernah berjanji sewaktu Sean sudah kembali, ia tidak ingin berjauhan lagi dengan suaminya. lalu jika membiarkan Chandra untuk tetap tinggal disini?
Dengan cepat Lidia bangun dari tidurnya dan menyusul sang suami yang kini sedang berada di dalam ruang kerjanya.
Cklek
Lidia melihat Sean sedang sibuk di hadapan layar laptop. Pria itu tidak menyadari keberadaannya. Hati Lidia sangat kalut melihat wajah suaminya yang penuh beban. Lalu perlahan Lidia berjalan mendekati Sean.
“Sean!” panggilnya lirih, namun Sean tidak mendengarnya karena terlalu fokus dengan pekerjaannya.
Pria itu menghentikan aktivitasnya sejenak, kemudian menatap sosok wanita cantik yang sedang berdiri di belakangnyaa.
“Kenapa, hem? Istirahatlah! Ini sudah malam.” ucapnya dengan merubah mimic wajah yang tadinya tegang kini berubah dengan tersenyum hangat.
Lidia tidak dapat lagi membendung air matanya. mungkin inilah keputusan yang akan ia ambil. Dia tidak bisa hidup berjauhan lagi dengan suaminya. karena hanya pasangan kita lah yang sampai akhir hayat nanti yang selalu ada di sisi kita. Sedangkan anak, mereka juga pasti akan mempunyai kehidupannya sendiri, tentunya dengan pasangan mereka masing-masing. kemudian Lidia berhambur ke pelukan Sean.
“Maaf. Maafkan aku yang sangat egois.” Lirihnya sambil terisak dalam pelukan Sean.
“Kamu sama sekali tidak salah dan tidak egois. Aku sangat tahu bagaimana perasaan kamu.”
__ADS_1
“Aku akan ikut kamu pulang ke Indonesia.” Ucap Lidia sambil mengeratkaan pelukannya.
Hati Sean menghangat, akhirnya Lidia mengambil keputusan yang tepat. Lalu pria itu mengurai pelukannya, menatap wajah sembab Lidia dan menghapus air matanya.
“Terima kasih, Sayang. Terima kasih dengan keputusanmu. Kamu jangan khawatir, nanti kita akan sering berkunjung ke sini untuk melihat keadaan Chandra.”
Lidia hanya mengangggukkan kepalanya.
“Ya sudah, lebih baik kita istirahat dulu. Ini sudah malam.” ajak Sean.
“Kalau kamu masih sibuk, lanjutkan saja. Dan untuk beberapa hari sebelum keberangkatan kita, ijinkan aku tidur dengan Chandra. Aku hanya ingin menghabiskan waktuku dengannya, sebelum kita berangkaat nanti.” Pinta Lidia.
Tidak ada pilihan lagi baagi Sean selain mengijinkan. Akhirnya pria itu mengangguk dan membiarkan istrinya tidur di kamar anak sulungnya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1