Suami Kedua

Suami Kedua
Tidak Mungkin!


__ADS_3

Setelah selesai makan, Xander mengantar Silvia ke hotel tempat ia menginap. Namun semenjak selesai makan, mereka berdua tak lagi banyak bicara seperti sebelumnya. Terutama Xander. Dia sudah siap mendengar jawaban dari pertanyaannya tadi, namun justru Silvia mengabaikannya dan perempuan itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Bahkan sampai sekarang saat berada dalam mobil.


Sesampainya di hotel, Xander mengantar Silvia menuju kamarnya. Silvia menurut saja. Dan ponselnya pun sampai sekarang masih jadi prioritasnya, daripada sang kekasih yang tengah berada di sampingnya.


Cklek


Xander membukakan pintu kamar lalu meletakkan koper Silvia di dekat ranjang. Wajah Xander semakin ditekuk kala Silvia justru duduk di bibir ranjang sambil mengetik pesan yang entah dengan siapa dia sedang berkirim pesan. Mau merebutnya pun takut mengganggu privasi Silvia, akhirnya Xander memutuskan pergi tanpa mengucapkan sesuatu.


“Aku sangat merindukanmu, Xander!” teriak Silvia menghentikan langkah Xander yang sudah berada di luar pintu namun pintu itu belum tertutup sepenuhnya.


Xander menoleh dan ingin memastikan apa yang diucapkan oleh Silvia adalah benar. Terlihat Silvia memang masih menggenggam ponselnya namun kini dia meletakkannya di atas kasur dan segera menghampiri Xander.


Cup


Silvia berjinjit lalu mengecup pipi Xander sekilas. “Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu.” Ucapnya penuh penekanan dengan menatap mata Xander dengan begitu dalam.


Xander kembali masuk ke dalam kamar sambil memeluk Silvia. Lalu kakinya mendorong pintu agar tertutup. Kemudian dia membalas ciuman Silvia. Bukan di pipinya, melainkian di bibirnya.


“Aku juga sangat merindukanmu, Silvia. Aku tidak bisa berjauhan denganmu. Aku sangat tersiksa.” Ucapnya lalu kembali menghujani ciuman pada seluruh wajah Silvia. Dan berhenti di bibirnya hingga menjadi pagutan yang menggairahkan.


Silvia pun berjinjit untuk mengimbangi pagutannya. Perlahan Xander mendorong tubuh Silvia hingga terjatuh di atas ranjang dengan bibir masih saling memberi kenikmatan.


Tangan Xander kini mengangkat kedua tangan Silvia hingga berada di atas kepala Silvia. Lalu dia kembali mencium bibir Silvia dan turun ke leher jenjangnya. Bahkan kepala Xander sudah mendarat di atas bukit berharga milik Silvia.


“Cukup Xander!!” Silvia berusaha lepas dari kungkungan Xander dengan nafas terengah.


“Jangan lakukan ini sebelum resmi menikah.” Ucap Silvia lalu bangun dari posisinya berbaring.


“Aku sudah siap menikahimu, tapi kamu yang selalu bilang belum siap.” Jawab Xander.

__ADS_1


“Menikah nggak semudah itu, Xander. Bedakan antara cinta dan napsu. Aku nggak mau kamu buru-buru ingin menikahiku hanya karena kamu tidak tahan untuk melakukan hubungan badan.”


“Bukan seperti itu, Silvia. Maafkan aku, aku janji akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap.”


“Sudahlah, aku ingin istirahat. Badanku sangat lelah.” Ucap Silvia lalu sibuk mencari baju gantinya.


Xander menghela nafasnya panjang. Dia benra-benar merasa bersalah dengan Silvia. Bahkan sampai membuat perempuan itu marah. Namun Silvia terlihat biasa saja dengan mengalihkan perhatian dengan sibuk membongkar isi kopernya.


“Baiklah. Istirahatlah! Maafkan aku.” pamit Xander lalu keluar dari kamar.


***


Hari ini Sean dan Lidia sudah bersiap untuk pergi ke acara pesta ulang tahun perusahaan Kenzo. Malam ini Lidia terlihat sangat cantik. Sean sampai tak berkedip melihat wajah cantik itu.


“Aku tahu kamu terpesona dengan kecantikanku. Lalu apakah sampai nanti kamu akan terus memandangiku dan kita tak jadi berangkat?”


Pertanyaan Lidia seketika membuyarkan lamunan Sean. Pria itu segera mengntrol diri lalu menggandeng tangan sang istri keluar rumah memasuki mobil.


“Aku nggak sabar untuk segera berangkat bulan madu.” Ucapnya sambil melirik Lidia.


“Apa lebih baik kita berangkat sekarang saja?” godanya dan membuat Sean mencebik.


Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di hotel milik Kenzo dimana acara diselenggarakan. Sean berjalan beriringan dengan Lidia. Sepanjang memasuki ballroom, semua tamu undangan sangat terpesona dengan kecantikan Lidia dan juga ketampanan Sean.


“Selamat datang, Tuan Sean dan Nyonya Lidia!” sapa Tuan Kenzo bersama sang istri.


Sean dan Lidia menjawab dengan anggukan kecil dan tersenyum ramah. Lalu Tuan Kenzo membiarkan Sean dan Lidia untuk berbaur dengan beberapa tamu lain yang Sean kenal.


Suasana ballroom juga semakin ramai kedatangan tamu undangan yang bukan hanya dari rekan bisnis Tuan Kenzo, melainkan dari rekan bisnis Tuan Damian yang tak lain Papa dari Tuan Kenzo juga turut diundang.

__ADS_1


Lidia sangat senang bisa bertemu dengan Silvia. Akhirnya Lidia memilih berbincang-bincang dengan Silvia saja dan membiarkan sang suami menemui beberapa rekannya.


“Bagaimana hubungan kamu dengan Xander?” tanya Lidia.


“Baik-baik saja, Nyonya.” Jawab Silvia singkat karena tak ingin membahas yang terlalu jauh.


“Syukurlah, aku senang mendengarnya. Semoga kalian bisa segera naik ke pelaminan.” Donya tulus. Silvia mengangguk dan mengaminkan.


Mereka berdua akhirnya memilih pergi ke stand makanan untuk menikmati beberapa makanan ringan. Karena si pemilik acara yang sudah berteman akrab dengan Lidia yang tak lain adalah Pelangi juga tampak sibuk menemani sang suami menyambut tamu-tamunya.


Saat sedang menikmati makanannya, ponsel Lidia yang ada dalam pouch-nya bergetar. Dia segera melihatnya ternyata ada panggilan dari Bi Rani.


“Ya, halo Bi?” sapa Lidia sambil mencari tempat yang tidak terlalu ramai.


“…..”


“Apa, Bi? Aku nggak dengar?” Tanya Lidia dengan suara sedikit gemetar.


Silvia yang melihat reaksi tubuh Lidia yang berbeda pun segera menghampiri wanita itu.


“Tidakkk!! Tidak mungkin!” lirih Lidia sebelum kesadarannya hilang.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2