Suami Kedua

Suami Kedua
Aliran Sungai


__ADS_3

Tubuh Feby merosok ke bawah. Dia menangis tergugu setelah Chandra keluar dari toilet. Perasaan Feby semakin tak karuan setelah mendengar ungkapan perasaan Chandra yang sebenarnya. Meski awalnya Feby tidak percaya, namun saat Chandra kembali menyatakan perasaannya baru saja, ia bisa menilai kalau Chandra benar-benar mencintainya.


“Maafkan aku, Chan! Aku tidak bermaksud melukai perasaan kamu.” Gumamnya lirih di sela-sela isakannya.


Tak ingin membuat orang khawatir karena mencari keberadaannya, Feby segera berdiri dan memberbaiki riasannya sejenak. Terutama make up nya yang sudah luntur. Setelah itu dia kembali ke ballroom.


Sementara itu Chandra saat ini sedang berada di suatu tempat yang cukup sepi namun tidak jauh dari hotel dimana acara pertunangan Feby digelar.


Setelah keluar dari toilet tadi, Chandra berpamitan pada kedua orang tuanya untuk pulang terlebih dulu dengan alasan ada janji dengan temannya. Lidia hany mengangguk setuju tanpa banyak bertanya. Hatinya ikut sakit setelah menyaksikan apa yang baru saja dilakukan anaknya di toilet bersama Feby beberapa menit yang lalu.


*


Chandra sedang berdiri di tepian jembatan sambil menatap aliran sungai yang tidak begitu deras. Laki-laki itu merasa hatinya sedikit lega meskipun rasa sakit yang mendominasi. Setidaknya dengan mengungkapkan perasaannya pada orang yang ia cintai, sudah tidak ada lagi beban dalam hatinya.


Chandra melihat aliran sungai itu. Sungai buatan di pinggiran kota itu terlihat tidak dangkal. Karena banyak lampu taman di sekitarnya yang menyorotnya. Di sungai itu juga ada bebatuan kecil yang yang dialiri air. Dari aliran sungai itu Chandra bisa belajar, kalau perjalanan hidup tak selamanya mulus tanpa hambatan. Begitu juga dengan cintanya. Mungkin jika diibaratkan, hatinya saat ini sama seperti aliran sungai itu. Meskipun terus mengalir dan melewati bebatuan terjal, namun aliran itu tidak pernah berhenti.


Cukup lama Chandra berdiri di tepian jembatan itu. Waktu sudah malam, akhirnya Chandra memutuskan untuk pulang dengan menghentikan taksi yang kebetulan sedang melintas.


Tak jauh dari tempat itu, Feby yang baru saja memasuki mobil Reza dan hendak pulang, dia melihat Chandra. Tatapannya nanar namun dia berusaha menahan air matanya agar tidak sampai jatuh.


***


Setelah acara pertunangan Feby beberapa saat yang lalu, Chandra sudah kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia lebih memilih menyibukkan diri agar sedikit demi sedikit bisa melupakan Feby.


Lidia juga tidak terlalu mempermasalahkan dengan pekerjaan Chandra di kantor ayahnya yang begitu padat. Justru Lidia seperti mendukungnya.

__ADS_1


Waktu bergulir begitu cepat. Pesta pernikahan Feby dan Reza sudah di depan mata. Acara itu akan diadakan satu minggu lagi. Feby yang masih sibuk dengan pekerjaan kantor, dia bahkan tidak memikirkan pernikahannya. Begitu juga dengan calon suaminya yang masih sering pulang pergi ke luar negeri mengurus pekerjaannya di sana.


Sedangkan Chandra, hari ini dia sengaja tidak pergi ke kantor. dia hanya ingin istirahat sejenak setelah beberapa minggu tenaga dan pikirannya terkuras habis untuk pekerjaan.


Tok tok tok


Chandra mendengar pintu kamarnya diketuk. Tanpa mempersilakan masuk, seorang wanita paruh baya yang masih cantik itu masuk menghampiri anaknya yang sedang tampak sibuk di depan layar laptopnya.


“Libur kerja tapi masih kerja.” Gerutu Lidia yang kini sudah duduk di bibir ranjang.


Wanita itu tidak ingin melihat apa yang sedang anaknya kerjakan. Lidia hanya ingin menikmaati waktunya bersama Chandra selama ketiga anaknya sedang sibuk menimba ilmu di sekolahan masing-masing.


Jari Chandra masih sibuk menari di atas keyboard. Keberadaan Mamanya ia acuhkan karena sedang fokus dengan layar laptop di hadapannya. Melihat itu, Lidia semakin kesal.


“Chan, ada Mama loh disini!”


“Ok baiklah kalau kamu mengacuhkan Mama. Mama keluar saja dan mencabut ijin kamu untuk kuliah di kota B.” ucap Lidia dan segera keluar dari kamar Chandra dan menutup pintu dengan cukup keras.


Blamm


Chandra terkejut. Bukan terkejut karena suara pintu. Melainkan ucapan Mamanya yang akan mencabut ijin kuliah di kota B. bukankah mamanya memang tidak mengijinkan? Lalu…


Chandra segera berlari mencari mamanya. Dia ingin memastikan kalau ucapan mamanya tidak salah. Dan dia akan meminta maaf agar ijinnya kembali diberikan.


Lidia tampak duduk santai di ruang tengah sambil menonton acara tv. Chandra menuruni tangga dengan nafas ngos-ngosan lalu duduk tepat di sebelah mamanya.

__ADS_1


“Ma, apa benar yang Mama katakan tadi?” tanya Chandra.


“Apa? Mama nggak bilang apa-apa. Mimpi kali kamu.” Jawab Lidia cuek.


Chandra pun tidak kehabisan akal. Dia segera berpindah posisi dengan berdiri di belakang mamanya. Lalu kedua tangannya bergerak memijit pundak Lidia. Seketika Lidia mengulum senyum saat melihat anak sulungnya sedang merayu.


“Beneran Mama ngijinin Chandra kuliah di kota B?” tanyanya dengan tangan masih memijit.


“Nggak jadi.” Jawab Lidia cuek tapi menahan senyum.


“Mama jangan gitu dong, please!”


“Tadi aja Mama kamu cuekin. Bagaimana nanti kalau sudah tinggal jauh, pasti kamu sudah nggak ingat Mama lagi.”


“Astaga, Ma! Chan nggak akan seperti itu. Tadi Chan memang benar-benar sibuk. Maafin Chan, Ma! Dan tolong ijinin Chan kuliah disana.” Rengeknya seperti Mirza kalau minta mainan.


“Iya-iya!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2