
Kedatangan Kila di dapur, membuat kegiatan yang dilakukan beberapa koki di sana terhenti. Kila acuh saja, dengan tetap melangkahkan kakinya mendekati kulkas yang ada di sana, “biar aku saja yang memasak untuk Tuan Rama hari ini,” tukas Kila dengan melirik ke arah mereka yang masih terdiam.
“Aku, sudah sedikit lama berada di sini, tapi baru kali ini aku berani untuk menyapa kalian. Aku Kila, aku harap kalian juga menerimaku di sini. Kak Rama memintaku untuk memasak makanan untuknya, apa kalian tahu masakan kesukaannya?” tanya Kila sambil berbohong kepada mereka.
“Kalian, tidak ingin menjawab pertanyaanku?” sambung Kila dengan membuang lirikan matanya ke samping.
Kila menghela napas sembari meremaas erat kedua tangannya sendiri, “aku tahu, kalau aku sudah seperti orang ketiga di rumah ini. Jika kalian, memandangku seperti itu pun, aku tidak akan membantah karena kenyataannya memang seperti itu-”
“Tapi ini juga berat untukku. Berkali-kali aku berdoa, agar ini hanya mimpi … Maafkan aku, seharusnya aku tidak melakukannya,” Kila menghentikan tangisannya dengan mengusap mata.
“Ayam pedas manis, itu kesukaan Tuan Rama,” sahut salah satu koki laki-laki paruh baya yang ada di sana.
“Apa yang Bapak lakukan?” bisik yang lain turut menimpali.
“Mainun, bukannya sudah menceritakan ke kalian apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa harus menghukum seseorang yang juga menjadi korban? Kita bukan Tuhan yang harus menilai seseorang itu salah atau benar, takdir … Siapa yang bisa menebak,” tegur koki paruh baya itu, yang ditanggapi oleh beberapa orang lainnya dengan kepala tertunduk.
“Saya akan menyiapkan semua bahan-bahannya Nyonya.”
“Terima kasih, Pak?”
“Pak Mahmud,” sahutnya menimpali perkataan Kila yang terhenti.
“Baiklah, Pak Mahmud,” ucap Kila yang tersenyum sambil sedikit berjalan menjauhi kulkas saat dia melangkah mendekat.
“Nama kalian?” tanya Kila kepada dua koki yang lainnya.
“Arifin dan Gani,” ucap salah satu laki-laki sembari menunjuk teman yang ada di sampingnya.
__ADS_1
“Baiklah. Arifin, dan Gani … Aku membeli banyak kebutuhan pokok secara online, sebentar lagi mereka mungkin akan sampai … Apa kalian berdua, bisa membantu mereka untuk menyusun barangnya? Lalu, bagikan semuanya kepada mereka yang berkerja di sini-”
“Kenapa? Apa ada dari perkataanku yang salah?” tukas Kila dengan membalas tatapan mereka yang serempak menatap ke arahnya.
“Aku, berasal dari keluarga yang tidak mampu. Aku, paham benar rasanya sulit mencari uang atau sejenisnya … Aku, hanya ingin berbagi, itu saja,” sambung Kila kembali kepada mereka.
Mereka berdua sedikit membungkukan tubuh, “baik Nyonya, akan kami lakukan,” ucap koki yang bernama Gani kepada Kila.
“Tunggu! Tunggu!” panggil Kila hingga menghentikan langkah mereka yang sebelumnya telah berjalan menjauh.
Kila melangkah mendekati mereka sambil merogoh beberapa lembar uang yang telah ia siapkan sebelumnya, “aku tidak tahu, siapa yang merokok di sini. Namun, belilah rokok untuk mereka semua,” sambung Kila sambil memberikan uang tadi ke arah Arifin yang ada di depannya.
Kila mengangguk, saat mereka berdua kembali meminta izin untuk pergi, ‘sebelum Nyonya yang asli pulang, aku harus sesegera mungkin mengambil hati para pekerja di sini. Memasak makanan untuk suamiku, memberikan kebahagian untuk para pekerja … Akan membuat posisiku sedikit kuat di sini. Ini seperti, melempar dua burung menggunakan satu batu,’ batin Kila sebelum dia berbalik, mendekati mereka yang masih menatapinya di dapur.
Di sisi lain, Rama yang telah berganti pakaian, duduk di samping ranjang dengan ponsel di tangannya, ‘aku pulang beberapa hari lagi, Mama memintaku untuk menemuinya,’ seperti itulah ketikan singkat yang tertera di ponsel Rama.
“Apa Kakak, jatuh cinta kepada perempuan itu?”
“Apa bedanya, aku dan dia? Kami, sama-sama mantan kekasih dari adikmu-”
Rama melempar ponsel miliknya dengan kuat ke lantai, saat bayangan dan suara Kila tiba-tiba terlintas di benaknya, “selama ini aku dibohongi? Bodohnya aku, menyelamatkan keluarganya dari kebangkrutan sebagai kompensasi dari pernikahan kami … Jadi laki-laki itu adalah Gilang? Bahkan sampai sekarang pun, aku menerima semua yang sudah pernah Gilang rasakan-”
Rama melirik ke samping saat suara ketukan masuk di telinganya, “Tuan Rama, makan malam telah siap,” ucap suara perempuan yang terdengar.
“Aku, sedang tidak ingin makan-”
“Nyonya Kila yang memasak hari ini, Nyonya meminta saya untuk menyampaikan bahwa dia menunggu Tuan di ruang makan,” sahut suara itu kembali.
__ADS_1
“Kila? Memasak? Apa lagi ini,” gumam Rama dengan beranjak berdiri dari kasur lalu berjalan keluar kamar.
Rama berjalan melewati perempuan yang memanggilnya tadi, dia terus berjalan lalu berhenti saat terdengar suara ribut dari luar diikuti beberapa asisten rumah tangga yang berjalan ke luar rumah, “apa yang terjadi?” tanya Rama kepada asisten rumah tangga yang berjalan membuntutinya.
“Itu, Nyonya Kila membagikan sembako untuk kami, Tuan.”
“Kila?” gumam Rama sambil mengernyitkan keningnya.
Rama mengangkat tangannya, “kau, pergilah!” perintah Rama dengan kembali melanjutkan langkahnya.
Rama berhenti sejenak, menatapi Kila yang telah duduk di kursi dengan beberapa makanan yang terhidang di meja, “apa lagi yang coba kau lakukan ini?” tanya Rama setelah dia telah berhenti di dekat Kila yang menatapnya.
“Aku hanya ingin meminta maaf karena telah bersikap lancang sebelumnya-”
“Maaf?” tukas Rama memotong perkataannya.
“Aku memasak makanan kesukaanmu, Kak. Aku merasa tidak enak hati, karena kata-kataku sebelumnya membuat kakak marah. Jika kakak berkenan, apa kakak bersedia memakan makanan yang telah aku masak?” tanya Kila kepadanya.
“Pak Mahmud, yang mengajariku resepnya … Jadi, jangan khawatir,” sambung Kila, dia beranjak meraih piring yang ada di depan Rama, lalu memenuhi piring tersebut dengan nasi yang masih hangat.
“Katanya kau membagikan sembako?”
Kila meletakan piring berisi nasi ke depan Rama, lalu mengisi kembali piring tersebut dengan lauk yang ia masak, “aku, hanya ingin berbagi dengan mereka. Apa kakak terganggu? Kalau iya, aku akan meminta mereka untuk melakukannya dengan sedikit lebih tenang-”
“Untuk apa kau melakukannya? Mereka semua tinggal di sini, dengan biaya makan yang sudah ditanggung.”
“Apa berbuat baik harus memikirkan hal tersebut? Jika mereka tidak memakannya, mereka bisa menjualnya … Tambahan uang tersebut, dapat mereka gunakan untuk kebutuhan mereka. Jangan katakan, kalian berdua tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya?” Kila balas bertanya sambil mengisi piring miliknya dengan nasi.
__ADS_1
“Lupakan hal itu sejenak, apa kakak telah memaafkanku? Kakak berbicara banyak denganku saat ini … Dan jika benar iya, aku akan merasa sangat bersyukur. Aku, tidak memiliki keluarga, karena itu aku merasa lega saat bisa berbincang seperti ini,” sambung Kila, dia tersenyum kecil sebelum meraih potongan ayam yang ada di depannya.