
Chandra menangis dan menyesali ucapannya baru saja. dia tidak menyangka kalau saat ini ada calon buah hatinya dalam rahim Feby.
“Tolong, jangan lagi mengatakan perpisahan. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu di sisiku.” Ucap Feby sambil mengusap kepala suaminya yang saat ini tengah berada di atas perutnya.
“Maaf… maafkan aku, Sayang. Aku sungguh menyesali perbuatanku. Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan perpisahan. Aku sangat mencintaimu. Maukah kamu memaafkan aku?”
Chandra sungguh menyesali perbuatannya. Terlebih beberapa hari yang lalu saat melihat istrinya berada dalam pelukan Reza, hingga menimbulkan kesalah pahaman yang tak berujung. Dia juga teringat wajah pucat istrinya saat beretengkar dengannya saat itu. Ternyata istrinya tengah mengandung. Dengan teganya dia menyiksa istri dan calon buah hatinya. Lalu bagaimana keadaan istrinya saat seharian penuh ia tinggalkan. Chandra semakin tergugu mengingat semua itu.
“Aku memaafkanmu. Aku sangat mencintaimu. Sudah, jangan bersedih lagi, Suamiku! Harusnya kita bahagia menyambut kehadiran dia dalam rahimku.” Ucap Feby dan mampu menghentikan tangis Chandra.
Chandra memaksakan senyum lalu kembali menciumi perut istrinya. Benar yang dikatakan oleh Feby, harusnya dia bahagia dan jangan menunjukkan kesedihan di hadapan calon buah hatinya.
Cukup lama sepasang suami istri itu bercengkerama. Keduanya sama-sama sedang dalam masa pemulihan. Keduanya juga masih membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat agar bisa segera sembuh. Chandra pun akhirnya berpamitan untuk kembali ke ruangannya, walau dia masih ingin menemani istrinya.
Chandra keluar dari ruangan Feby sendirian. Karena setahu dia Fredy sejak tadi berada di luar. Namun sesampainya di luar, dia tidak melihat keberadaan Feby. Hanya Reza yang sedang duduk seorang diri.
Melihat Chandra keluar, Reza pun bergegas menghamipirinya dan membantu Chandra mendorong kursi rodanya menuju ruang perawatan.
“Om Fredy bilang sedang menjemput Om Kenzo.” ucap Reza.
“Hmm… terima kasih sudah menyelamatkan Feby.” Balas Chandra.
“Kamu tidak usah khawatir lagi kalau aku menginginkan Feby. Selamat atas kehamilan istri kamu. Setelah ini aku berjanji akan membantumu menemukan keberadaan Papa.” Ucap Reza sambil mendorong kursi roda Chandra.
Chandra mengerutkan kening heran. Mengapa justru Reza akan membantunya untuk menemukan keberadaan Papanya. Orang yang telah menyebabkan kekacauan ini.
Sesampainya di ruang rawat Chandra, Reza pun dengan sigap membantu Chandra naik ke atas brankar. Lalu ia menceritakan pada Chandra kenapa akan membantu mencari kebaradaan Papanya.
__ADS_1
“Dia bukan Papa kandungku. Dia hanya Papa tiri yang telah membunuh Mama kandungku hanya demi harta kekayaan Mama.”
Chandra terkejut sekaligus tidak menyangka. Meskipun demikian, dia juga merasa lega. Setidaknya ada orang lain lagi yang akan membantunya.
“Terima kasih, Za.” Hanya itu yang bisa diucaapkan oleh Chandra.
“Sekarang lebih baik kamu istirahat. Aku pamit pulang dulu.”
**
Sementara itu saat ini Fredy sedang menjemput Sean dan Kenzo yang baru saja sampai. Kedua pria paruh baya itu tampak menunjukkan aura tak ramah setelah mendengar kabar bahwa anak dan menantu mereka habis disekap oleh Tuan Ibra.
Perjalanan udara yang ditempuh Sean dan Kenzo harusnya memakan waktu lama jika menggunakan pesawat terbang komersil. Namun karena Sean menggunakan pesawat pribadinya, dia bisa meminta pilot untuk mempercepat penerbangannya agar bisa segera bertemu dengan Chandra dan Feby.
“Pulang ke rumah atau langsung ke rumah sakit, Tuan?” tanya Fredy.
Sean pun mengangguk pada Fredy tanda setuju dengan ucapan Kenzo. Fredy segera memacu mobilnya menuju rumah sakit. Meskipun waktu sudah malam dan dapat dipastikan kalau saat ini Chandra dan Feby sedang beristirahat.
Sesampainya di rumah sakit, Sean dan Kenzo berjalan tergesa menuju ruang rawat Feby terlebih dulu. Meskipun jarak antara ruangan Chandra dan Feby tidak terlalu jauh dan masih berada di lantai yang sama, namun Kenzo dan Sean lebih mementingkan Feby yang ia tahu telah mendapat luka tembak.
Sean mengetatkan rahangnya saat melihat sosok pria sedang duduk termenung di depan ruang rawat Feby. Tanpa aba-aba ia berjalan mendahului Fredy dan Kenzo lalu menarik kerah baju Reza.
“Kenapa kamu di sini, hah?? Semua ini gara-gara Papa kamu. Fred! Kenapa kamu membiarkan baji***n ini berekeliaran di sini? bagaimana jika dia membahayakan menantuku?” tanya Sean pada Fredy dengan tangan yang masih mencengkeram kuat kerah baju Reza.
Kenzo juga heran, namun ia masih berusaha tenang. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa Reza bisa ada di sini.
“Sean, ingat kita sedang berada di rumah sakit!” Kenzo berusaha meredakan emosi Sean.
__ADS_1
“Maaf, Tuan. Reza lah yang membantu saya menyelamatkan Chandra dan Feby. Biar nanti Reza yang akan menjelaskan sendiri. Lebih baik sekarang anda lihat keadaan Feby.” Ucap Fredy menengahi perdebatan itu.
Sean pun melepaskan Reza kemudian masuk ke dalam ruang perawatan Feby. Benar saja Feby sedang tertidur pulas dengan adanya perban di bagian lengannya.
Kenzo mendekati anak sulungnya. Hatinya sakit melihat keadaan anaknya yang terluka seperti itu. Lagi-lagi Feby yang menjadi korban atas ambisi mantan rekan bisnisnya.
“Papa!” panggil Feby setelah merasa tidurnya terusik karena merasa ada yang mengusap kepalanya.
“Ayah!” Feby juga memanggil Sean yang berdiri tak jauh dari brankarnya.
“Sayang, maafkan Papa. Papa terlambat menyelamatkanmu.” Kenzo memeluk putrinya dengan erat, menumpahkan segala penyesalannya.
“Papa, jangan erat-erat seperti ini. nanti cucu Papa kesakitan.” Cicit Feby berpura-pura sakit sambil mengusap perutnya.
“Cucu?”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1