Suami Kedua

Suami Kedua
Keterlaluan


__ADS_3

Xander dengan cepat menahan pintu yang hampir tertutup itu. Vano akhirnya mengajak Xander duduk di beranda rumah. pria berusia sekitar 24 tahun itu wajahnya juga tampak kusut. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Xander berharap tidak ada hubungannya dengan Silvia.


“Ada apa dengan Silvia? Hari ini dia tidak masuk kerja. Apakah dia sakit?” tanya Xander mengawali pembicaraan.


“Saya juga tidak tahu, Tuan. Justru saya ingin menanyakan hal ini pada anda, barangkali ada hubungannya dengan pekerjaan kantor.” jawab Vano.


“Apa maksud kamu?” Xander semakin tidak mengerti.


Vano akhirnya menceritakan tentang Silvia. Sejak kepulangannya dari kantor kemarin, kakaknya sama sekali tidak mau berbicara. bahkan terus mengurung diri setelah makan malam. Vano dapat melihat wajah sembab kakaknya, namun tidak berani bertanya. Dan sampai pagi ini Silvia belum keluar kamar. dia hanya berpesan kalau tidak mau diganggu.


Xander merasasangat bersalah. Ternyata akibat perbuatannya kemarin lah yang membuat Silvia seperti ini. bahkan dia sampai nekat mengundurkan diri dari pekerjaannya.


“Sudah cukup Kak Silvia hidup menderita selama ini, Tuan. Dia adalah perempuan hebat pengganti ibu yang merelakan kebahagiaannya hanya demi adik-adiknya. Semenjak Kak Silvia memboyong saya dan dua adik saya ke kota ini, sejak saat itu pengorbanan Kak Silvia dimulai. Saya pun tidak bisa melakukan apa-apa, selain membantunya bekerja dengan menjadi sopir taksi online. Semua demi dua adik kami yang masih kecil dan membutuhkan banyak biaya untuk pendidikannya. Banyak sekali cibiran dari beberapa tetangga tentang penilaian Kak Silvia mengenai penampilannya. Lagi-lagi saya tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar alasannya.”


“Memangnya apa alasannya?” Xander pun sangat penasaran.


“Semenjak masih di kampung dulu, Kak Silvia sering mendapat bullyan dari teman-temannya. Bahkan pernah ada laki-laki yang disukainya sampai ikut membullynya juga, lantaran penampilan Kak Silvia yang cupu dan kami anak orang miskin. Karena kepintaran Kak Silvia, akhirnya dia bisa bekerja di kota ini dan hasil jerih payahnya ia gunakan untuk merubah penampilannya. Awalnya saya terkejut saat baru mengetahui perubahannya. Saya juga sudah berusaha menasehatinya namun jawabannya membuat saya diam.”


“Kak Silvia mengatakan, bahwa dia sengaja berpenampilan seksii seperti itu hanya untuk mencari cinta sejatinya. Kedengarannya tidak masuk akal. Namun seperti itulah kenyataannya. Jika ada pria yang benar-benar mencintainya, pasti pria itu akan meminta Kak Silvia memperbaiki penampilannya, dengan memakai pakaian yang lebih tertutup. Dan dampak dari penampilannya yang cenderung seksii itu banyak yang men’cap dia bukan wanita baik-baik. Tapi Kak Silvia tidak peduli selagi dia masih bisa menjaga kehormatannya.”


Xander sungguh tidak menyangka dengan cerita yang baru saja ia dengar mengenai Silvia. Dia semakin bersalah terhadap perempuan itu, terlebih kemarin sudah melecehkannya.


“Saya mohon Tuan, jika Kak Silvia ada kesalahan dengan pekerjaannya tolong maafkanlah. Saya dan adik-adik saya tidak bisa melihat keadaan Kak Silvia yang sangat terpuruk seperti ini.” ucap Vano.


“Bolehkah aku menemuinya?” tanya Xander.


Vano tidak yakin kalau Silvia akan membukakan pintu kamarnya. Namun dia menganggukkan kepalanya, barangkali kakaknya itu mau membuka pintu setelah mengetahui Xander datang.


Belum sempat Xander mengetuk pintu kamar Silvia, perempuan itu terlebih dulu membuka pintunya. Silvia sangat terkejut saat melihat keberadaan pria yang kemarin telah menyentuhnya.


Grep


Vano terkejut dengan ulah Xander yang tiba-tiba memeluk kakaknya. Dia pun kini bisa berpikir kalau masalah yang tengah dihadapi oleh kakaknya bukan mengenai pekerjaan, tapi hal pribadi. Vano perlahan mundur dan meninggalkan mereka berdua.


“Silvia, maafkan aku. aku mohon jangan resign dari kantor.” ucapnya dengan tubuh masih mendekap erat perempuan itu.

__ADS_1


“Maaf. Keputusan saya sudah bulat, Tuan.” Silvia berusaha tegar dan menahan air matanya agar tidak tumpah.


“Jangan tinggalkan aku, Silvia! Tetaplah bekerja di perusahaan. Aku akan menebus semua kesalahanku.”


“Anda tenang saja. Saya sudah memaafkan anda. Dan hargai keputusan saya resign dari perusahaan.” Ucap Silvia lalu melepaskan diri dari pelukan Xander. Dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Aku mencintaimu, Silvia!!”


***


Sementara itu Sean tampak lega setelah masalah perusahaan teratasi. Meskipun tinggal memperbaiki data-datanya saja. Sean juga akan menyelidiki langsung tentang pelaku yang berusaha menghancurkan perusahaan. Kuat dugaan Sean kalau semua itu ulah Bryan.


Sean melirik jam di tangannya sebentar lagi tiba waktunya makan siang. Pria itu segera meraih kunci mobilnya dan segera pulang. semenjak Chandra menjalani homeschooling, Sean sering pulang di saat jam makan siang. Alasannya hanya satu, yaitu dia tidak ingin istrinya berinteraksi lebih lama dengan Fredy. Namun dia beralasan pada Lidia karena ingin melihat langsung Chandra belajar.


Beberapa menit perjalanan, Sean sudah sampai rumah. dia melihat ruang belajar Chandra sepi, begitu juga ruang tengah. Sean sangat yakin kalau saat ini Chandra sedang di ruang gym belajar ilmu bela diri. Sedangkan istrinya pasti bersama Viana di lantai dua.


“Bu Dewi?” panggil Sean saat melihat baby sitter itu baru saja turun dari lantai dua dengan menggendong Viana.


“Iya, Tuan.”


“Kemana istriku?”


Sean segera berjalan menuju ruang makan, namun disana hanya ada Bi Rani yang tengah sibuk menata menu makanan di atas meja makan. Sean pun bertanya pada Bi Rani, kalau Lidia baru saja mengambil minuman untuk dibawa ke ruang gym. Sean pun segera menuju ruang gym.


Cklek


Pyarr


Mata Sean membulat saat melihat Lidia baru saja terjatuh saat membawa nampan berisi jus buah. Entah kaki Lidia menginjak apa atau memang lantainya sedikit licin hingga wanita itu kehilangan keseimbangannya. Namun bukan masalah jus yang tumpah atau Lidia yang terjatuh yang membuat Sean terkejut. Tapi karena ada dua tangan kekar yang memegang pinggang istrinya hingga tubuh Lidia tidak sampai jatuh terduduk di lantai.


“Terima kasih, Fred!” ucap Lidia setelah memperbaiki posisi badannya dengan berdiri.


“Berani-beraninya kamu mencari kesempatan seperti ini!!” ucap Sean tiba-tiba sambil mencengkeram kerah baju Fredy.


Fredy dan Lidia sama-sama terkejut melihat kedatangan Sean. Ditambah lagi Sean salah paham dengan apa yan baru saja terjadi. Sementara itu Chandra memilih keluar dari ruang gym begitu saja saat melihat perdebatan kecil orang dewasa di hadapnnya. Bocah kecil itu cukup paham dengan keadaan dan dirinya tidak diperkenankan ikut campur.

__ADS_1


“Sean, kamu salah paham. Fredy tadi hanya menolongku saat aku akan-“


“Diam!! Apa kamu suka ada pria lain yang memegang tubuhmu?”


Fredy hanya diam mendapat perlakuan seperti itu dari Sean. Dia tidak terlalu ikut emosi dan sangat tenang, karena memang kenyataannya dirinya hanya berusaha menolong Lidia.


Lidia terkejut mendengar suara bentakan dari suaminya. wanita itu mendekati Sean agar segera melepas cengkraman tangannya pada baju Fredy.


“Lepaskan Fredy sekarang juga!” perintah Lidia lalu pergi meninggalkan ruang gym.


Sean pun melepaskan Fredy dan segera mengikuti langkah istrinya. Ternyata Lidia menuju kamar yang ada di lantai dua.


“Kamu senang ada pria lain yang menyentuh tubuhmua seperti tadi?” rupanya Sean masih tersuslut emosi.


Lidia hanya menggelengkan kepala melihat sikap suaminya yang menurutnya keterlaluan. “Bagaimana kalau kejadian tadi dialami oleh wanita lain di hadapanmu? Apakah kamu akan membiarkan wanita itu jatuh begitu saja?” tanya Lidia.


“Tentu saja.” Jawab Sean.


“Lantas bagaimana dulu saat Silvia pura-pura jatuh dan kamu juga melakukan hal yang sama dilakukan Fredy? Padahal aku tidak pura-pura jatuh seperti yang dilakukan Silvia. Dan satu lagi, bukankah kamu bisa melihat semua aktivitasku di dalam rumah ini melalui rekaman cctv kalau benar-benar kamu mencurigai Fredy ada main denganku atau sebaliknya? Lalu bagaimana denganku yang sama sekali tidak bisa melihat tingkah lakumu di luaran sana?”


Glekk


.


.


.


*TBC


Ayo dong guys jgn jadi silent reader.. kasih dukungan buat novel othor yg masih sepi ini. sedih bgt rasanya lihat yg like sama komen cm segelintir😢😢


Tinggalkan selalu jejaknya berupa like, komen, vote, gift sebanyak-banyaknya ya🤗🤗 nanti akan ada undian dadakan berupa pulsa, bagi reader yg paling rajin kasih komentar tiap babnya. dan di akhir cerita juga ada pulsa gratis lagi bagi reader yg kasih poin terbanyak🤗😁. Jangan prnah bosan ya sama cerita ini. yg pastinya semakin menarik hehehehe😁🤗


Happy Reading‼️

__ADS_1


 


 


__ADS_2