Suami Kedua

Suami Kedua
Kartu Nama


__ADS_3

Sean akhirnya menerima bantuan Kenzo. dan hari itu juga mereka mulai bekerja mencari keberadaan Viana.


Selama melakukan pencarian Viana, Sean menyerahkan pekerjaan kantor pada sekretarisnya dan juga Xander. Sean juga meminta Silvia ikut membantu Xander. Dia bahkan sudah memindahkan Silvia dari perusahaan Kenzo. walau awalnya Kenzo sulit memberikan ijin. Karena kinerja Silvia di perusahaannya juga sangat bagus. Tapi Sean mengatakan kalau keberadaan Silvia di kota ini juga untuk menemani istrinya yang setiap hari selalu bersedih memikirkan Viana.


Sean sampai menyewa seorang pengasuh sekaligus pembantu yang akan merawat kedua adik Silvia. Karena Sean melihat istrinya tampak nyaman jika bersama Silvia.


Pencarian Viana setiap hari dilakukan. Bahkan Kenzo juga menyebar anak buahnya untuk mencari keberadaan mobil yang membawa Viana kabur saat itu.


Hari berganti hari. Lidia semakin terpuruk saat tak mendapat kepastian tentang keberadaan Viana. Perasaannya semakin kacau. Pikiran buruk terus mengahantuinya. Apakah Viana masih hidup atau anak itu sedang dalam bahaya.


“Nyonya. Saya juga merasakan sedih seperti anda. Tapi saya mohon agar anda tidak terlalu beburuk sangka. Saya sangat yakin kalau Non Viana pasti baik-baik saja.” Ucap Silvia.


“Aku nggak tahu kesalahan apalagi yang pernah aku lakukan atau suamiku lakukan hingga Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat seperti ini. aku kira keluargaku bisa bernafas lega setelah perusahaan cabang sudah berpindah tangan. Tapi ternyata tidak.” Ucap Lidia dengan tatapan kosong.


Saat ini kedua wanita itu sedang berada di kamar Viana. Lidia sangat merindukan anak bungsunya itu. Dia mengambil beberapa potong baju Viana dan menciuminya. Silvia yang belum pernah menjadi seorang ibu pun ikut meneteskan air matanya saat melihat Lidia tersiksa lantaran kehilangan anaknya.


Waktu pun berlalu. Sudah satu bulan lebih pencarian yang dilakukan Sean tidak membuahkan hasil. Rasanya ingin saja dia menyerah. Namun lagi-lagi pikirannhya disadarkan oleh sosok wanita yang sangat ia cintai.


Berdasarkan informasi terakhir dari Kenzo, dia sempat menemukan jejak mobil yang membawa Viana kabur. Mobil itu menuju keluar kota yang sangat jauh. Dan lagi-lagi tidak bisa dilacak. Sean pun meminta Kenzo agar berhenti melakukan pencarian. Biar dia sendiri yang akan melanjutkan pencariannya.

__ADS_1


Hari ini Sean berdiam diri di dalam ruang kerjanya. Sedangkan Lidia memilih menemani Chandra yang sedang melakukan kegiatan belajar bersama Fredy. Lidia sengaja mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu bersedih dengan bayang-bayang Viana.


Setelah cukup lama berada di ruang kerja. Sean keluar dari ruangan itu lalu berjalan memasuki kamar yang selama ini dipakai baby sitter, yang tak lain Bu Dewi.


Sean menelisik seisi ruangan yang tampak kosong itu. Matanya menjelajah setiap sudut kamar. berkeliling mencari sesuatu yang yang mungkin akan memberinya angin segar tentang keberadaan Viana.


Sean membuka laci nakas yang terlihat kosong. Namun karena penasaran, Sean menarik laci itu lagi hingga menampakkan seluruh isinya. Di bagian terdalam laci terselip sebuah kertas kecil menyerupai kartu nama. Dan benar. Itu adalah kartu nama. Betapa terkejutnya Sean saat melihat kartu itu tertera nama Ricky Sebastian. Namun hanya nama dan no ponsel yang tertera disana. Tidak ada informasi penting lainnya.


Sean segera menghubungi no ponsel itu. Tapi ternyata sudah tidak aktif. Dia pun melacak no ponsel itu terakhir digunaikan kapan dan berada dimana. Ternyata no ponsel milik Ricky terakhir digunakan pada hari dimana Viana diculik dan titik lokasi terakhirnya pun di area perumahan dekat rumah Sean.


“Ternyata yang mengendarai mobil itu adalah Ricky.” Gumamnya dengan penuh emosi.


Sikap Sean masih hangat dengan Lidia. Bahkan dia dan Lidia selalu saling menguatkan agar tidak pernah menyerah menghadapi masalah ini.


Di tengah keheningan malam. Sean masih setia duduk di ruang kerjanya. Dia bersandar pada kursi dengan menengadahkan kepalanya.


Ting


Tiba-tiba terdengar notif pesan masuk. Ada nomor asing yang mengirim pesan dan membuat Sean semakin marah. Tapi dia juga tidak bisa berbuat banyak. Kemudian dia mencoba menghubungi no itu ternyata tidak bisa. Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Waktu sudah menujukkan pukul dua dini hari. Namun Sean melihat istrinya sedang berdiri di balkon kamar dengan tatapan menerawang langit yang tak memunculkan bintangnya.


“Sayang!” lirih Sean sambil mendekap erat tubuh sang istri.


Lidia menoleh lalu berhadapan dengan Sean. Mereka berdiri mengikis jarak dengan kening saling menempel. Perlahan air mata Lidia mengalir dan ikut membasahi pipi Sean.


“Aku menyerah berharap, Sean. Aku akan mengikh-“


Sean segera membungkam mulut Lidia dengan bibirnya agar tak mengatakan hal yang tak seharusnya dikatakan. Dengan lembut Sean memagut bibir Lidia yang bergetar diiringi air mata yang terus mengalir.


“Katakan kamu mencintaiku sampai kapanpun, Lidia!!” ucap Sean tegas dengan sorot mata penuh cinta.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2