Suami Kedua

Suami Kedua
Bersimbah Darah


__ADS_3

Sean mengumpat dengan menampakkan wajahnya yang sudah merah padam. Pria itu hampir saja membanting laptop yang sedang ia gunakan saat ini saat mengetahui siapa dalang di balik masalah yang selama berbulan-bulan ini mengacaukan perusahaannya.


“Rupanya kamu masih menaruh dendam padaku. dan kamu salah memilih lawan, baj***an!” ucapnya sambil mengepalkan tangannya.


Ya, ternyata dalang di balik kekacaauan itu semua adalah Ricky. Pria yang dulu menjadi anak buah David. Dan memang dulu hanya Ricky lah salah satu anak buah David yang mash hidup setelah kedua bos mereka mati.


Saat itu Sean sudah tahu kalau Ricky telah melarikan diri pasca meninggalnya David dan Bryan. Sean tidak tinggal diam. Meski saat itu Ricky hanya anak buah, namun pria itu juga turut andil banyak dalam membantu David. Jadi saat itu juga Sean memerintah anak buahnya untuk membuat hidup Ricky sengsara. Bahkan Sean menutup semua akses perusahaan manapun agar tidak menerima Ricky untuk bekerja. Sean pun diam-diam juga sering mendapat kabar dari salah satu anak buahnya kalau Ricky hidup terlunta-lunta di jalanan.


Dan saat ini, entah dari mana pria itu mendapat bantuan hingga bisa meraih kejayaannya dan bisa membalas dendam padanya. Beruntungnya Sean tidak sampai kecolongan. Dia lebih dulu mengetahui keberadaan Ricky sebelum pria itu menghancurkan perusahaannya.


Sean kini sedang menghubungi salah satu anak buahnya untuk menangkap Ricky dan memintanya membawa ke markas tempat biasa ia gunakan menyekap musuhnya. Sean tidak pernah bekerjaasama dengan pihak kepolisian. Dia teringat dengn kasus yang pernah menjerat Bryan dulu. Nyatanya aparat penegak hukum tidak bisa memberikan efek jera pada tersangka tindak kejahatan. Bahkan dengan suapan uang, penjahat bisa lolos kapan saja. Maka dari itu, Sean akan menghabisi Ricky dengan caranya sendiri.


“Baiklah. Aku tunggu kabar dari kamu kalau kamu sudah berhasil membawa baj***an itu.” Pungkas Sean sebelum menutup panggilan teleponnya.


Selesai melakukan panggilan pada anak buahnya, tugas Sean sekarang adalah memperbaiki semua data yang telah dimanipulasi oleh orang tak bertanggung jawab itu. Memang Ricky tidak bekerja sendiri. Dia menyuruh salah satu perusahaan yang sedang bekerjasama dengannya agar tidak kejahatannya tidak terlalu kentara. Namun Sean akan tetap membeli pelajaran pada perusahaan yang ikut andil itu.


Tak terasa seharian ini Sean menghabiskan waktunya di kantor hingga waktu hampir menunjukkan pukul sembilan malam. pria itu bisa bernafas lega setelah beberapa masalahnya terselesaikan. Tinggal sedikit saja yang belum beres, hanya menungu pemulihan data sebentar. Kemungkinan besok sudah selesai semua.


Sean mengakhiri pekerjaannya malam ini. ia segera pulang untuk bertemu dengan istri dan anak-anaknya yang akhir-akhir ini ia abaikan.

__ADS_1


Namun saat Sean baru saja keluar dari ruangannya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh Erick yang tergeletak bersimbah darah dengan luka tusukan di bagian perutnya. Kebetulan malam itu memang sudah tidak karyawan yang ikut lembur. Hanya Erick saja.


“Erick! Siapa yang melakukan ini?” tanya Sean dengan cemas.


“Sa…saya tidak tahu, Tuan. Tadi ada orang hendak masuk ruangan anda, lalu ketahuan oleh saya. dan pria itu menusukkan pisau ke perut saya.” jawab Erick dengan suara terbata.


Sean segera membawa Erick ke rumah sakit dengan meminta bantuan pada security. Karena saat ini nyawa Erick lah yang lebih penting. Walau ia sempat curiga dengan beberapa orang karyawannya yang mungkin ada hubungannya dengan kejadian ini.


Sean ikut ke rumah sakit untuk memastikan bahwa Erick terselamatkan. Tak lupa ia menghubungi istrinya kalau pulangnya agak malam karena sedang berada di rumah sakit.


Setelah beberapa saat, keadaan Erick perlahan membaik. Beruntungnya pisau itu tidak terlalu dalam melukai perutnya, walau membutuhkan banyak jahitan.


Sean memilih pulang untuk beristirahat. Tenaganya benar-benar lelah setelah kejadian baaru saja. Mungkin dengan istirahat sejenak bisa memulihkan tenaganya sebelum mencari siapa pelaku penusukan Erick.


Sesampainya di rumah, Sean langsung disambut oleh Lidia yang sejak taadi juga ikut khawatir dengan keadaan suaminya. bahkan Lidia tidak bisa tidur karena takut jika suaminya juga ikut terluka.


“Sayang, kenapa kamu tidak tidur?”


Lidia diam tak menjawab. Dia melihat baju kotor suaminya yang penuh dengan noda darah.

__ADS_1


“Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu juga terluka?” tanya Lidia sambil meneliti keadaan suaminya.


“Tenanglah. Ini noda darah Erick sewaktu aku menolongnya tadi. Erick juga sudah diatasi oleh dokter. lebih baik kita istirahat saja. Apakah Mirza akhir-akhir ini masih manja?” tanyanya mengalihkan perhatian.


“Memangnya pernah Mirza tidak manja? Aku sangat heran dengan anak kamu satu itu. Entahlah mirip dengan siapa dia sampai manjanya kebangetan.” Jawab Lidia.


“Kamu lupa kalau Mirza juga anak kamu?” gumam Sean, Lidia hanya tersenyum kaku.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️


 

__ADS_1


 


__ADS_2