
Sementara itu saat ini Reza sedang berusaha menghubungi Feby. Namun sayangnya sejak tadi tidak mendapat jawaban. Reza sudah mengetahui bahwa sekarang Papanya sudah berada di negara ini. dia tidak ingin terjadi hal buruk dengan Feby, meskipun beberapa hari yang lalu sudah mendapatkan penolakan dari Feby.
Reza harus menyelamatkan Feby dari ambisi Papanya. Atas dasar kemanusiaan lah Reza menyelamatkan Feby dan juga membalas perbuatan jahat Papanya. Lebih tepatnya Papa tiri.
Ya, Reza baru tahu ternyata dirinya bukanlah anak kandung Tuan Ibra, melainkan anak tiri. Dan yang lebih membuat Reza sangat murka dengan sosok papa tirinya karena kematian mamanya dulu yang menyebabkan adalah Ibra. Hanya demi menguasai harta kekayaan mamanya, papa tirinya tega membunuh mamanya dengan dalih kecelakaan. Hingga akhirnya merawat Reza dan membesarkannya hingga menjadi seorang pengusaha sukses dan bisa menambah asset kekayaannya.
Reza memasukkan ponslenya ke dalam saku. Lelah tak mendapatkan jawaban dari Feby, dia memilih untuk mencarinya langsung. Reza berharap Papanya belum menemukan Feby.
***
Dua jam kemudian.
Saat ini Chandra sedang duduk terikat di sebuah kursi kayu. Setelah mendapat pukulan bertubi-tubi, hingga saat ini Chandra masih belum sadarkan diri. Namun alam bawah sadarnya selalu memanggil nama Feby dan menggumamkan kata maaf.
Tak jauh dari posisi Chandra, Feby juga berada di ruangan yang sama. Feby juga sedang pingsan. Namun bukan mendapat luka, melainkan kondisi tubuhnya yang memang sangat lemah. Feby tampk tidur pulas di sebuah sofa.
“Apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Tuan?” tanya seorang pengawal pada bosnya.
“Tunggu sampai pria itu sadar!” jawabnya sambil menghisap rokoknya.
Ruangan dimana saat ini Chandra dan Feby disekap adalah ruangan di salah satu rumah besar milik Tuan Ibra. Rumah yang tanpa seorang pun mengetahuinya, termasuk Reza. Di bagian luar rumah telah dijaga ketat oleh beberapa pengawal yang berjaga-jaga jika ada orang yang akan menyelamatkan Chandra maupun Feby.
Tak lama kemudian Chandra merasakan perih di bagian wajahnya. Kepalanya yang tertunduk sejak tadi, kini mencoba tegak untuk melihat dimana posisinya saat ini. setelah berhasil menegakkan kepalanya, Chandra kembali merasa nyeri di seluruh tubuhnya. Namun dia sama sekali tidak bisa bergerak, karena kedua tangan dan kakinya terikat.
“Ternyata kamu sudah sadar anak muda.” Ucap seseorang yang sedang duduk santai menghadap Chandra.
__ADS_1
Seketika wajah Chandra memerah saat melihat pria itu. Pria yang haus akan kekayaan dan berusaha menghalalkan segala cara demi ambisinya.
“Lepaskan aku tua bangka!!!” teriak Chandra penuh amarah.
Tawa Tuan Ibra menggelegar melihat amarah Chandra semakin berkobar dalam keadaan terikat seperti itu. Sedangkan Feby yang sejak tadi pingsan, dia mulai mengerjapkan matanya saat mendengar suara keributan.
Mata Feby terbelalak saat melihat kondisi suaminya terluka parah dengan tubuh terikat pada kursi kayu.
“Om, tolong lepaskan Chandra!” teriak Feby dengan suara lemah.
Feby juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena anak buah Ibra saat ini sedang memegangi kedua tangannya.
“Panggil Papa! Karena sebentar lagi kamu akan jadi menantu Papa lagi.” ucap Tuan Ibra dengan nada selembut mungkin.
Tuan Ibra semakin terbahak mendengar ucapan Feby.
“Papa tahu dia adalah suami kamu. Tapi sebentar lagi akan menjadi mantan suami. Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria seperti dia, Feb? apa kamu tahu siapa sebenarnya suami kamu itu? Dia masih lebih baik dari Reza.”
Feby menggelengkan kepala semakin bingung dengan pertanyaan mantan mertuanya itu. Sedangkan Chandra hanya mampu terdiam. Dia sama sekali tidak bisa berbuat banyak. Yang dia harapkan adalah semoga ada seseorang yang datang membantunya.
“Chandra Dipta Imtiaz. Anak dari seorang pengusaha sukses Billal Graham Imtiaz. Apa kamu sudah tahu, Feb?” tanyanya menghadap Feby.
Feby mengangguk karena memang kenyataannya seperti itu. Bahwa suaminya bukan anak kandung dari dari Ayah Sean.
“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apa kamu tahu sepak terjang perjalanan hidup seorang Billal yang tak lain ayah kandung dari suami yang kamu banggakan itu?”
__ADS_1
Feby tak menanggapi apapun. Dia juga tidak ingin tahu. Buat apa juga membahas masa lalu orang yang sudah meninggal.
“Billal dulu terkenal seorang pria yang hobi ONS. Ditambah lagi dia pernah memperkosa keponakannya sendiri. Apakah kamu yakin jika selamanya hidup bersama Chandra akan mendapatkan jaminan kesetiaan. Secara dia turunan seorang baj_”
“Cukup, berengsek!!!!” teriak Chandra yang semakin emosi saat kesalahan mendiang Papanya kembali diungkit. Memang Chandra tidak tahu banyak teentang masa lalu Papanya. Namun dia sama sekali tidak peduli. Dan sekarang ada orang lain yang menjelekkannya, Chandra sangat tidak terima.
Sedangkan Feby sama sekali tidak bereaksi. Dia juga tidak peduli dengan semua yang diucapkan oleh mantan mertuanya. Karena baginya, masa depan seseorang tidak selalu berkaca pada masa lalu orang tuanya.
“Sekarang lebih baik tanda tangani surat perceraian kalian.” lanjut Tuan Ibra sambil memberikan surat pada Feby.
“Tidak!!! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Feby, sialan!!!” teriak Chandra.
“Baiklah kalau kamu tidak mau menanda tanganinya, aku akan melakukan dengan caraku sendiri.”
Tuan Ibra memanggil anak buahnya yang sudah siap dengan tongkat baseball di tangannya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1