
Sontak keduanya pun menoleh ke arah sumber suara yang memanggil. Ternyata itu adalah seorang suster yang merawat baby Ar.
"Ya," jawab Adam singkat.
"Salah satu dari kalian, di perbolehkan masuk untuk melihat keadaan baby Argon secara lebih dekat. Akan tetapi, bayi belum bisa di angkat maupun di susui secara langsung ya. Hanya bisa mengajaknya bicara pelan-pelan untuk tetap menstimulasi otaknya," terang sang perawat wanita itu.
"Kau, masuklah. Temui putra kita. Katakan, papa juga akan selalu ada untuknya di sini," titah Adam pada Angelina. Wanita itu pun mengusap air matanya dan mengangguk. Setidaknya ia harus senang dan bersyukur, karena kini dapat melihat dari dekat keadaan putranya itu.
Angelina masuk setelah mengenakan jubah khusus yang steril. Ia pun mengenakan masker dan juga penutup kepala.
"Berjalan mendekat, ke arah dimana sang putra tengah terbaring lemah dengan berbagai alat yang menempel di tubuh telanjangnya. Baby Argon, berada di sebuah box khusus. Angelina meski telah dekat namun tetap tidak bisa menyentuh bayi itu.
Angelina hanya dapat menatap baby Ar dalam kotak bening kaca, dengan dua lubang di setiap sisinya. "Sayang ... ini, Mama. Papamu juga ada di sana, ia melihat dan mendoakanmu. Kau harus kuat dan cepat sembuh. Argon, jagoan Mama yang hebat. Mama dan papa yakin ... jika kamu sanggup melewati semua ini," ucap Angelina tercekat. Suara itu hilang dan timbul pada tenggorokannya.
Rasanya sangat sesak melihat buah hati sendiri tergeletak lemah.
Keesokan harinya dan juga hari-hari berikutnya, hanya Angelina yang bisa menengok keadaan baby Argon. Adam tak merasa iri, ia bisa menahan rasa rindunya akan sang putra. Ia tau jika Angelina lebih membutuhkan hal itu. Begitu pun juga dengan Argon.
Kini, dokter mengijinkan Angelina untuk menggendong putranya. Meksipun keadaan baby Ar masih terbilang lemah. Karena beberapa selang masih menempel di tubuhnya. Termasuk selang oksigen dan juga selang susu.
Setidaknya balita berusia satu tahun lebih itu sudah bisa menangis dan tersenyum padanya. Angelina berkali-kali membujuk agar sang putra nyaman dengan keadaannya. Adam masih setia melihat dari balik dinding kaca. Berharap keadaan putranya semakin membaik.
Damian dan Katie yang melihat kiriman Vidio keadaan baby Ar, tak mampu menahan air mata kesedihan mereka. Betapa balita pintar yang lincah itu kini tak dapat bergerak bebas. Pantas saja Argon selalu menangis. Balita tersebut tak betah dengan keadaannya yang tak leluasa bergerak itu. Hingga, pada akhirnya perawat melepas selang oksigen dan juga selang makanan. Karena hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan kemajuan yang signifikan.
__ADS_1
Baby Argon setidaknya menerima donor tulang sum-sum itu. Sehingga, dokter tak lagi menemukan kelainan berbahaya yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwanya.
"Putra kalian mengalami kemajuan pesat dalam kesehatannya. Kita, akan memindahkannya keruang perawatan. Karena, nampaknya baby Ar sudah mulai aktif lagi," ucap dokter Robert yang tersenyum kala mendengar tawa baby Ar menggema di dalam ruangan tersebut.
Ketika baby Ar telah berada di dalam ruang perawatan maka, siapapun boleh membesuk balita tampan itu. Termasuk Laura, Karen dan juga Leon. Kebetulan mereka bertemu di lobi. Kebetulan lagi, Karen mengenal Laura. Karena mereka pernah berada di satu university yang sama.
"Berikan alamat email-mu! Karena aku ingin mengirimkan surat undangan virtual padamu," pinta Karen ketika mereka berada di dalam lift.
"Haish, kau ini. Baru pertama kali jumpa setelah sekian lama. Tau-tau mau nikah saja," ledek Laura seraya memasang senyum manisnya.
Karen terkekeh namun tak melepaskan rangkulannya pada lengan Leon. Sesekali, Laura menatap kearah pria tinggi di sebelah Karen itu. Pada saat itu, Leon menanggapinya dengan sebuah senyum menawan.
Laura merasa sangat familiar dengan senyum itu. Akan tetapi ia lupa pernah melihatnya dimana dan siapa.
"Calon suamimu sangat tampan. Kau membuatku iri," bisik Laura. Hingga keduanya terkekeh. Begitulah kalau wanita yang pernah menjadi bestie bertemu. Maka mereka akan asik bercerita hingga melupakan orang yang ada di sebelahnya.
"Lalu kau kapan? Laura?" cecar Karen. Membuat wanita yang menggeluti bidang kejiwaan manusia sejak di bangku kuliah itu menggeleng pelan.
"Hei, kau harus membuka hatiku. Memang, kau ingin hidup sendirian sampai tua?" tanya Karen yang secara cepat mendaratkan Laura. Apakah pilihannya yang memutuskan hidup sendiri itu benar adanya? Atau ia harus mulai melihat orang di sekelilingnya dan membuka hati untuk mereka yang berniat baik.
Akan tetapi, lamunan Laura lantas di kagetkan oleh teguran seorang pria. "Nona!" panggil Aziel tepat di sebelahnya. Karena Laura hampir melewati kamar perawatan baby Ar.
"Ah, aku hampiri melewatinya ya. Terima kasih tuan," ucap Laura seraya menunduk singkat.
__ADS_1
"Karen, di sini!" panggil Laura yang mana kawannya itu berada di depan sana. Maka Leon dan Karen pun segera berbalik arah.
"Ahli kejiwaan, tapi suka sekali melamun!" celetuk Aziel. Pria ini tak habis pikir kenapa Laura sering sekali mengalami gagal fokus terhadap dirinya sendiri.
"Ssst ... diamlah! Kau tidak tau apapun mengenai ku. Lagipula, itu adalah reaksi normal manusia, kau tau!" seru Laura dengan menekan suaranya agar tidak terlalu keras.
Aziel hanya diam tanpa respon. Karena menurutnya ia tak perlu untuk melakukan atau menjawab apapun lagi.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Sementara Aziel tetap berjaga di luar. Kebetulan, saat itu baby Ar tengah menangis. Berbagai cara telah Adam dan Angelina lakukan. Akan tetapi balita itulah tetap saja sulit di kendalikan
Leon pun menatap tak berkedip ketika Adam dan Angelina nampak kesusahan untuk mengendong baby Ar yang terus saja meronta ingin melepas selang infusnya.
Daam dan Angelina menyadari kedatangan tamu yang hendak membesuk putranya itu. Akan tetapi, ia tak ada waktu untuk menyapa.
"Sayang, sabar ya. Nanti kalau sudah sembuh, selang infusnya di buka. Pada saat itu, kamu bisa bebas lagi sayang. Sabar ya ...," bujuk Adam pada putranya. Akan tetapi, balita aktif itu tak juga berhenti meronta dan berteriak.
Leon pun berinisiatif untuk mendekat dan menyapa." Halo pria kecil yang tampan!" sapa Leon dengan senyum lembutnya.
Sontak baby Ar menoleh dan menjulurkan tangannya. Balita itu masih kenal pada pria yang pernah membuatnya nyaman dalam gendongannya.
Adam menoleh ke arah Angelina meminta ijin kepada istrinya terlebih dahulu. Wanita itu pun mengangguk. Karena ia juga tak tega ketika sang putra terus saja meronta.
Leon pun tersenyum senang, lantaran dirinya bisa memeluk balita tampan yang lucu dan menggemaskan itu lagi. Hingga, pria itu tertawa sambil menciumi ceruk leher baby Ar. Balita itupun nampak senang juga, bahkan langsung terdiam dari rengekannya barusan. Gelak tawa dari keduanya pun terdengar memenuhi ruangan itu.
__ADS_1
"Argon, kenapa dekat sekali dengan Leon?" Adam nampak berpikir serius.
...Bersambung ...