
Semenjak diketahui bahwa dirinya teengah mengandung, selama itu Lidia benar-benar menjaga kandungannya dengan baik. Meskipun tidak ada sang suami di sampingnya, bahkan sampai saat ini Lidia tidak tahu dimana keberadaannya, Lidia tetap menguatkan dirinya demi sang calon buah hati.
Lidia sangat bersyukur pada kehamilannya kali ini dia sama sekali tidak merasakan morning sickness. Bahkan napsu makannya semakin meningkat. Hingga dia tidak membuat susah orang-orang di sekelilingnya.
“Kamu benar-benar anak Sean yang kuat. Mama bahagia memilikimu, Nak. semoga kelak kamu menjadi pribadi yang kuat dan tangguh seperti ayah kamu.” Ucap Lidia sambil mengusap perutnya.
Saat ini Lidia sedang berada di dalam kamarnya. Dia hanya ingin istirahat setelah tadi menemani Viana bermain. Bibi Anne juga mengambil alih Viana untuk menemaninya bermain.
Lidia menatap hamparan taman melalui jendela kamarnya. Dimana di dekat taman itu tampak sungai yang sangat jernih. Tatapannya menerawang membayangkan kebersamaannya dengan Sean. Bohong jika Lidia sudah tidak bersedih lagi jika mengingat wajah sang suami. hanya saja dia tidak mau menampakkannya pada orang terdekat khususnya anak-anaknya.
Bahkan saat ini saja, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Rasa sesak memenuhi rongga dadanya. Ingin sekali dia memeluk tubuh Sean yang sangat ia rindukan. Kemudian dia melihat ponselnya dan juga ponsel milik Sean yang sengaja ditinggal kala itu.
Meski air matanya terus mengalir, namun bibirnya mengulas senyum tipis saat melihat beberapa foto kebersamaannya dengan Sean. Begitu juga denga ponsel milik Sean yang ternyata juga banyak menyimpan foto-foto tentang dirinya.
“Apakah kamu tahu kalau saat ini aku sedang mengandung anak kamu, Sean? Semoga kamu merasakannya.” Gumamnya sambil mengusap air matanya.
***
Sean masih terus berusaha mempelajari tentang kandungan bom yang tertanam dalam tubuhnya. Berdasarkan informasi yang sudah ia dapat, banyak sekali logam yng digunakan sebagai bahan pembuat bom itu. Namun salah satu cara yang tepat untuk mengetahui kandungan logam dalam bom itu adalah dengan cara mengetes darahnya. Karena di setiap aliran darahnya pasti mengandung campuran logam dari bom itu. Ini yang membuat Sean kesulitan.
Waktu sudah sangat larut. Sean memijit kepalanya yang terasa pusing. sepertinya malam ini dia harus berhenti dulu, dan lebih baik beristirahat.
__ADS_1
Paginya harinya Sean terbangun dari tidurnya tiba-tiba perutnya bergejolak hebat. Pria itu segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Dan tak lama kemudian kepalanya pusing.
Hari ini keadaan Sean benar-benar tidak baik. Hingga membuat David penasaran karena pria itu tak kunjung keluar kamar. lalu David meminta anak buahnya mengecek kamar Sean untuk memastikan keadaannya.
“Tuan, anda sedang sakit?” tanyanya.
Sean yang sedang berbaring hanya mengangguk samar. Karena badannya benar-benar lemas. Dan tidak bisa digunakan untuk bangun.
“Tunggu sebentar, saya akan mengambilkan sarapan untuk anda dan juga obat.” Ucap anak buah David. Dan lagi-lagi Sean hanya mengangguk.
Mendengar keadaan Sean sedang tidak baik-baik saja, David pun memutuskan tidak berangkat ke kantor. dia akan bekerja dari rumah saja. Dan membiarkan Sean istirahat.
Cklek
Pintu kamar dibuka, tampak seorang pria membawakan nampan berisi makanan dan obat. Sean tak langsung menerima dan memakannya. Namun dia segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Dan tak lama kemudian badannya tergeletak di lantai kamar mandi.
Anak buah David sangat panik saat melihat Sean pingsan. Dia segera memapah tubuh Sean dan membawanya ke atas ranjang. Lalu dia memberitahu David.
David yang tengah sibuk dengan pekerjaannya sangat terkejut mendengar Sean pingsan. Bahkan saat pria itu melihat sendiri keadaan Sean di kamarnya, belum juga sadar. David segera membawanya ke rumah sakit. Jika Sean sudah bangun mungkin dia hanya memanggil dokter pribadi saja. Bagaimanapun juga David tidak ingin terjadi hal buruk dengan asisten pribadinya itu.
Beberapa saat kemudian Sean sudah dibawa ke rumah sakit. Pria itu sedang ditangan oleh dokter di sebuah ruangan. Beruntungnya dalam ruangan itu hanya ada Sean dan seorang dokter saja. Mulanya Sean yang masih menutup mata, perlahan ia membuka matanya saat menyadari tidak ada David.
__ADS_1
Dokter itu sangat terkejut. Namun Sean segera memberi kode untuk tetap diam. Lalu Sean membisikkan sesuatu pada dokter yang akan memeriksanya.
Setelah mendengar semua yang diinginkan Sean, dokter itu mengangguk paham. Meski saat ini ia sangat ketakutan.
Cklek
Tiba-tiba saja David masuk ken ruangan itu. Dan lagi-lagi Sean sedang beruntung. Dia kembali menutup matanya dan pura-pura pingsan.
“Bagaimana keadaan pasien, dok?” tanya David.
“Tuan Sean belum sadar sampai saat ini. saya akan melakukan observasi lebih lanjut lagi. dan untuk sementara waktu, Tuan Sean harus dirawat inap.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1