Suami Kedua

Suami Kedua
Selamat Jalan


__ADS_3

Sean mengeram kesal ternyata sopir yang sedang duduk di sampingnya lebih dulu mengetahui mobil asing itu. Namun Sean berusaha bersikap tenang seolah tidak tahu apa-apa. Sedangkan David yang melihat dari rear mirror mengira kalau mobil yang telah mengikutinya saat ini adalah lawan bisnisnya. Karena tidak mungkin teman Sean datang, yang justru akan membahayakan nyawa Sean sendiri.


“Biarlah! Mungkin hanya orang iseng.” Sahut David.


Sesekali mata Sean masih melihat mobil di belakangnya yang sejak tadi masih mengikutinya. Dan kini dia sangat yakin, itu pasti Xander atau temannya yang lain.


Saat sampai persimpangan jalan mendekati rumah David, mobil Xander memilih berbelok. Karena menurut pantauan Leon di depan rumah David dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Jadi mereka memilih berkumpul terlebih dulu sebelum membuat formasi dan siap menyerang para bosyguard itu.


Sementara itu mobil yang kini ditumpangi oleh Sean dan David sudah sampai rumah. David turun lebih dulu dan berjalan tergeesa masuk ke rumah. Sean pun ikut mempercepat langkah kakinya mengikuti David.


David masuk ke kamar Bryan. Pria itu tampak duduk di kursi roda dengan Bu Dewi di belakangnya. Bryan mengulas senyum tipis saat melihat kedatangan David.


“Bang!” panggilnya dengan suara lirih.


David segera berhambur memeluk adiknya. Dia begitu bahagia saat melihat adiknya sudah bisa bicara. Meski suaranya masih lemah. Pria paruh baya itu menitikan air mata setelah sekian lama menunggu kabar baik tentang adiknya.


“Akhirnya kamu bisa bicara, Bryan. Aku sangat bahagia.” Ucap David.


“Terima kasih, Bang!” lirihnya dengan nada putus-putus.


“Lebih baik kamu jangan memaksakan untuk banyak bicara dulu. Aku akan menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan kamu saat ini.” ucap David.


Sean yang sejak tadi berdiri di belakang David, mengepalkan kuat tangannya saat mendengar suara Bryan. Ingin sekali pria itu membunuh Bryan sekarang juga.


Saat David masih fokus dengan rasa bahagianya, pandangan mata Bryan tertuju pada Sean. Tatapan mata yang tak ramah itu mengisyaratkan rasa dendam yang begitu membara.


“Sebentar lagi kamu akan menyusul bosmu ke neraka!” batin Bryan.

__ADS_1


“Bang, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Ucap Bryan.


“Katakan saja!”


Sebelum bicara, Bryan menatap sinis Sean. Dia ingin mengatakan bahwa dalang di balik kecelakaan yang dialaminya adalah Sean. Mungkin setelah ini David juga setuju dengan usulnya untuk mempercepat kematian Sean.


“Sebenarnya,-“


Dorrr dooorrr


David, Bryan, dan juga Sean sama-sama terkesiap saat mendengar suara tembakan dari arah luar rumahnya.


“Dewi, biarkan Bryan istirahat!” ucap David lalu keluar dari kamar Bruyan untuk melihat kericuhan yang terjadi di luar.


David dan Sean melihat dari balik kaca jendela kalau keadaan di luar rumahnya sedang ada penyerangan. Entah siapa empat orang yang menyerang beberapa anak buahnya itu, karena David sulit untuk mengenalinya.


“Kamu tahu, apa yang harus kamu lakukan saat ini, Sean?” tanya David tanpa menoleh Sean.


“Aku harus menghabisi mereka bukan?”


“Benar sekali. Dan aku sangat yakin dengan kemampuanmu.”


“Dengan senang hati, Tuan David. Tapi bukankah anda juga ikut? Anda ingat bukan kalau kita tidak bisa berjauhan selama anda masih menginginkan saya?”


David merasa aneh dengan ucapan Sean. Namun keadaan di luar semakin genting jika harus banyak berdebat dengan Sean. Akhirnya pria itu mengikuti Sean keluar, namun mengambil jarak aman. Karena David sangat bodoh dalam berkelahi. Tapi jangan lupakan senjata api yang sudah ada dalam kantong jasnya.


Penyerangan di luar cukup sengit. Keempat teman Sean saling beradu kekuatan untuk menghabisi para bodyguard itu, agar mereka bisa masuk ke dalam rumah David.

__ADS_1


mereka saling menyerang dengan senjata api. Bahkan ada yang hanya menggunakan tangan kosong. Seperti yang dilakukan oleh Fredy. Pria itu memilih tidak memakai senjata api, karena dia fokus dengan remote pengendali yang sedang ia sembunyikan dalam balik saku bajunya.


“Sean!!” teriak Xander saat melihat Sean keluar rumah.


Sontak saja David terkejut. Ternyata yang menyerangnya adalah teman-teman Sean. Pria itu sangat murka. Lalu ikut maju dan menodongkan pistol yang ia bawa. Dan di saat itu juga anak buah David sudah terkulai tak berdaya akibat serangan dari empat orang teman Sean.


“Berani kau menjauh dariku? Nyawa kamu melayang sekarang juga!” ancam David.


Sean pun menghentikan langkahnya. Dia melirik ke arah temannya dengan tatapan penuh tanya. Fredy yang posisinya terduduk akibat tekena beberapa pukulan, tangannya berusaha meraih remote dalam sakunya.


“Apa kamu ingin pergi ke neraka sekarang juga, Sean?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul.


Bryan datang dengan Bu Dewi yang mendorong kursi rodanya. Pria itu tersenyum sinis dengan memegang benda pipih yang tak lain adalah remote pengendali milik David. Mata Sean membulat sempurna.


“Selamat jalan Sean Gabriel!” ucapnya sambil menekan tombol pada remote itu.


Booooommmmm


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2