Suami Kedua

Suami Kedua
Sedih


__ADS_3

Dua kali terdengar pintu kamar diketuk. Feby masih berada di posisi yang sama, namun berhenti sejenak dari aktivitasnya. Sedangkan Chandra tidak bisa berbuat apa-apa karena juniornya sudah terlanjur tenggelam dalam liang kenikmatan itu.


Tok tok tok


Sekali lagi pintu diketuk. Feby membungkam mulut Chandra dengan ciuman agar tak menyahut orang yang mengetuk pintu kamarnya. Biarlah orang itu bcapek mengetuk pintu. Kalau tak lekas dibukakan palingan juga tahu kalau penghuni kamar sedang istirahat.


Benar saja, setelah itu tak lagi terdengar suara ketukan pintu. Dan Feby kembali melanjutkan aktivitasnya. Karena sejak tadi ia sudah berusaha menahan gairahnya yang sudah membumbung tinggi.


Chandra pun ikut memperdalam ciumannya saat istrinya mulai bergerak naik turun. Tak lupa tangannya juga memberikan pijatan lembut pada kedua aset milik istrinya yang terlihat semakin menantang semenjak masa kehamilannya.


Kedua insan itu akhirnya tergolek lemah di atas ranjang setelah melewati pelepasannya yang terakhir. Chandra melirik istrinya saat terdengar suara nafas kelelahan istrinya.


“Sayang, maafkan aku! apa kamu baik-baik saja?” tanyanya khawatir.


“Aku baik-baik saja. aku mau istirahat dulu.” Jawabnya dengan suara lirih, karena memang Feby sudah sangat mengantuk.


Chandra mengecup kening istrinya sebelum Feby benar-benar terlelap. Sementara itu Chandra memilih membersihkan tubuhnya dulu lalu bangun untuk menanyakan siapa orang yang tadi sudah mengganggu aktivitas panasnya. Walau Chandra sudah bisa menduga siapa orang itu, yang tak lain adalah Mamanya sendiri.


Selesai melakukan ritual mandinya, Chandra keluar kamar dengan tubuh yang sudah terlihat segar dan rambutnya masih tampak basah. Chandra menuruni tangga dan yang pertama kali ia temui adalah Mamanya. Lidia juga sedang duduk di sana sendirian.


Mendengar suara derap langkah kaki menuruni tangga, Lidia menoleh dan melihat penampilan anak sulungnya dengan rambut masih basah.


“Jadi, kalian tadi sedang itu saat Mama ketuk pintu?” tanya Lidia.


“Apa sih Mama ganggu saja.” jawabnya cuek lalu memeluk Mamanya dengan erat.

__ADS_1


Rasa kesal itu meguap begitu saja saat Lidia mendapat pelukan hangat dari Chandra. Dia tadi memang sengaja mengetuk pintu kamar anaknya hanya untuk memastikan bahwa Chandra baik-baik saja saat sedang ngidam.


“Chan kangen banget sama Mama.” Ucapnya tanpa melepas pelukannya.


Lidia pun ikut membalas pelukan anaknya. rasanya baru kemarin dia masih merasakan pelukan tubuh kecil Chandra. Dan ternyata anaknya itu kini sudah dewasa dan akan menjadi calon ayah.


“Mama juga kengen banget sama Chan. Andai saja kita bisa kumpul bareng-bareng sama adik-adik kamu, pasti akan seru.” Ucap Lidia yang sedikit menyesal karena meninggalkan kedua anak laki-lakinya. Karena memang Kavi dan Mirza sedang menghadapi ujian sekolah. Sedangkan Viana juga sibuk dengan sekolah modelling-nya.


“Nggak apa-apa, Ma. Suatu saat pasti ada kesempatan untuk kita bisa berkumpul lagi. oh iya, Ma… Chan sangat lapar nih, buatin Chan bubur ayam dong Ma!” rengeknya seperti anak kecil sambil mengusap perutnya.


Lidia menggelengkan kepala sambil tersenyum. Untung saja hanya bubur ayam dan bahannya pun tidak sulit dicari dan tersedia di dapur. Namun yang membuat Lidia heran adalah sejak dulu Chan hampir tidak pernah makan bubur ayam. Nah sekarang ngidamnya malah ingin makan bubur ayam.


“Ya sudah ayo temani Mama ke dapur. Mama akan buatkan bubur ayam special untuk anak Mama.” Jawab Lidia.


Chandra mengangguk lalu mengikuti langkah kaki mamanya ke dapur. Chandra memilih duduk yang tak jauh dari posisi mamanya memasak. Kebetulan rumah juga tampak sepi. Ayahnya sedang keluar bersama Papa dan Mama mertuanya. Jadi saat ini hanya Chandra dan Mamanya saja yang ada di dapur.


“Kalau Chan ingin, gimana dong Ma?”


“Ya harus kamu tahan lah! Puasa dulu. Atau kamu konsultasikan saja pada dokter kandungan biar tahu bagaimana baiknya.”


“Iya deh. Nanti Chan akan tanya dokter.”


Setelah beberapa menit akhirnya bubur ayam buatan Lidia sudah jadi. Lidia segera menyiapkannya dan menyajikannya langsung di hadapan Chandra. Sungguh Chandra sangat bahagia diperlakukan Mamanya seperti ini.


Chandra menelan ludahnya saat mencium aroma kuah bubur ayam yang masih mengepulkan asap itu. Rasanya dia sudah tidakn tahan untuk segera menyantapnya. Sedangkan Lidia hanya tersenyum melihat betapa lahapnya Chandra menghabiskan semangkok bubur ayam itu dengan cepat.

__ADS_1


“Enak sekali, Ma. Terima kasih. Besok Mama buatin lagi buat Chan ya?”


“Iya. Selama Mama masih di sini, Mama akan turuti kemauan anak Mama yang sedang ngidam ini.”


“Ngidam?” tanya Chandra bingung.


Lidia pun akhirnya menjelaskan bahwa saat ini Chandra sedang mengalami sinfrom kehamilan simpatik. Chandra yang mengerti hanya manggut-manggut.


Selesai Chandra makan, dia masih betah duduk di ruangan itu bersama Mamanya. Chandra teringat sesuatu yang sangat ingin ia tanyakan pada Mamanya.


“Ma, bolehkah Chan tanya sesuatu?”


“Boleh. Mau tanya apa?”


“Ma, apakah mendiang Papa dulu semasa hidupnya adalah bukan pria baik-baik?”


Lidia terkejut medapat pertanyaan seperti itu dari Chandra. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja. mengapa anak sulungnya bisa melontarkan pertanyaan seperti itu. Dan dari siapa Chandra mendengar berita bohong itu?


“Ma, maafkan Chan jika pertanyaan Chan membuat Mama sedih.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading‼️


__ADS_2