
Chandra melangkah penuh percaya diri mendekati pria-pria berbadan itu. Bahkan Chandra tidak membawa apa-apa.
“Saya mau bertemu dengan Tuan Calvin.” Ucap Chandra dengan sopan.
“Hei siapa kamu berani-beraninya masuk ke kawasan kami?” tanya saah satu pria dengan nada kasarnya.
“Saya ingin bertemu dengan teman saya yang kebetulan datang bersama bos kalian.” jawab Chandra dengan santai.
Pria itu saling lirik dengan temannya. Teman yang datang bersama bosnya? Bukankah itu adalah mangsanya? Jadi laki-laki yang ada di hadapannya adalah seorang musuh.
Melihat interaksi pria-pria itu, Chandra segera menendang pria itu hingga tersungkur. Akhirnya perkelahian tak bisa dihindarkan lagi.
Chandra terlibat baku hantam dengan beberapa pria yang diduga anak buah Calvin. Meskipun Chandra sangat jago bela diri, namun tak jarang ia juga terkena beberapa pukulan yang mengenai wajahnya. Karena Chandra bekerja sendiri dengan melawan empat orang.
Tak lama kemudian Fredy datang dan membantu Chandra. Kali ini Chandra bisa bernafas lega karena dengan adanya Fredy, dia sangat yakin bisa menghabisi empat pria berbadan kekar itu.
Sementara di dalam ruangan tampak Reza sedang berdiri dengan kedua tangannya diikat ke atas. Sejak tadi Reza masih belum sadarkan diri setelah mendapat bius dari anak buah Calvin.
“Aku sudah membawa anak kesayanganmu kesini, Lakukan sesuai keinginanmu.” Ucap Calvin pada Tuan Ibra.
Pria yang berstatus papa tiri Reza itu masih diam dengan menatap wajah Reza yang masih belum sadarkan diri. Pria itu sebenarnya masih punya hati untuk tidak melukai Reza walaupun Reza bukan anak kandungnya. Namun perasaan itu musnah saat hatinya sudah tertutup oleh ambisinya untuk menguasai perusahaan milik mendiang istrinya. Karena dia telah gagal memiliki aset perusahaan milik Kenzo. dan semua itu karena Reza yang tidak mau menjalankan rencananya dengan kembali menikah dengan Feby.
Mata Reza mulai mengerjap. Dia merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini. dan setelah kesadarannya terkumpul, dia melihat sosok Papa tirinya sedang berdiri di hadapannya.
“Apa kabar, anakku?” tanya Tuan Ibra.
Reza masih diam. Dia sangat malas menimpali ucapan Papanya yang hanya basa-basi.
Tuan Ibra tampak memegang pergelangan tangannya lalu menunjukkan bekas luka tembak akibat ulah Reza.
__ADS_1
“Anakku, kamu sejak kecil sudah Papa besarkan dengan penuh kasih sayang. Namun kenapa kamu justru sengaja melukai Papamu sendiri?” tanya Tuan Ibra dengan raut wajah sedih yang dibuat-buat.
“Aku tidak sudi memiliki Papa yang berengsek seperti kamu. Bahkan tega membunuh Mamaku.” Ucap Reza penuh amarah.
Seketika itu tawa Tuan Ibra menggelegar. Pria itu menatap sinis wajah Reza yang tampak murka. Lalu tangannya mencengkeram kuat kedua pipi Reza.
“Anak tak tahu diuntung! Kamu harus membayar semuanya. Karena kamu sudah menmggagalkan rencanaku, maka semua perusahaan yang kamu pegang saat ini akan kembali menjadi milikku. Pastinya setelah nyawamu melayang, hahahaha….” Ucaapnya diakhiri dengan tawa mengerikan.
“Benarkah, Tuan? Apakah anda sadar kalau beberapa saat yang lalu anda sudah menanda tangani surat pengalihan nama perusahaan anda menjadi milik Reza semuanya?”
Chandra datang sambil menunjukkan dokumen yang sudah tertera tanda tangan Tuan Ibra. Seketika itu Tuan Ibra terkejut dan sangat marah pada Chandra.
“Anak sialan! Memang anak seorang baj***an pasti akan berbuat licik seperti ini.” umpatnya pada Chandra.
“Calvin! Cepat habisi Reza!” perintahnya dengan suara tegas.
Tuan Ibra tampak tersungkur. Chandra pun menarik kerah baju Tuan Ibra dan kembali memukulinya secara membabi buta. Tak lama kemudian Sean datang. Sejak tadi dia juga mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Tuan Ibra tentang mantan bosnya. Sean ikut memukuli Tuan Ibra hingga pria itu babak belur.
Sementara di sisi lainnya, Calvin juga sedang memukuli Reza menggunakan balok kayu. Reza sama sekali tidak bisa membalas karena kedua tangannya masih terikat. Darah segar pun mengucur deras dari mulut dan hidung Reza. Reza sudah hampir kehilangan kesadarannya.
“Hei kalian! kalau kalian berdua masih terus menghajar Tuan Ibra, aku juga tak segan-segan akan mengantar nyawa laki-laki ini ke neraka.” Ucap Calvin sambil menodongkan pistol tepat di kepala Reza.
Chandra dan Sean tampak terkejut melihat kondisi Reza yang ssangat mengenaskan. Mereka segera menghentikan aksinya yang tengah memukuli Tuan Ibra.
“Lepaskan Tuan Ibra sekarang, dan aku akan melepas anak sialan ini.” ucapnya.
Tentu saja Sean dan Chandra tidak serta merta menuruti ucapan Clavin. Sudah bisa dipastikan kalau Calvin akan tetap membunuh Reza.
Chandra masih memegang tubuh lemah Tuan Ibra. Pria itu sama sekali tidak bisa melawan. Sedangkan Sean mengambil pistol dari saku jasnya dan diarahkan tepat ke kepala Tuan Ibra. Seperti yang dilakukan oleh Calvin.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita habisi nyawa dua orang ini bersamaan? Dengan begitu kita berdua bisa menikmati harta mereka?” tawar Sean.
Di saat Sean mengecoh Calvin, salah satu tangan Chandra menyusuk ke saku jas Tuan Ibra dimana pria itu juga menyimpan pistol. Tuan Ibra yang mengetahui ulah Chandra berusaha memberi kode padaa Calvin namun tidak berhasil.
“Kamu tahu bukan kalau perusahaan Tuan Ibra dan Reza ada dimana-mana? Bagaimana kalau kita membagi dua?” tawar Sean lagi.
“Kamu kira aku perca-
Dor
Dor
Dor
Dor
Belum sempat Calvin menyelesaikan ucapannya, Chandra dengan cepat menarik pelatuk pistolnya tepat mengenai jantung Calvin. Lalu disusul Kenzo juga menembakkan pelurunya mengenai kaki Calvin. Yang terakhir, Sean menembak kepala Tuan Ibra hingga pria itu langsung tewas dalam waktu sekejap.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1