Suami Kedua

Suami Kedua
Tidur di Kamar yang Sama


__ADS_3

“Apa Kakak, tidak menyukai makanan yang aku masak?” tanya Kila sambil meletakan kembali sendok yang ia pegang.


“Hanya katakan, apa yang sebenarnya kau inginkan?”


Kila menghela napas dengan menjatuhkan pandangan pada tumpukan nasi di depannya, “aku memikirkan baik-baik hal ini sejak siang tadi. Sebenarnya, apa yang Gilang inginkan dengan meminta kakak menikahiku?”


“Citra, mungkin perempuan yang baik, buktinya mereka berhubungan dengan waktu yang cukup lama. Kenapa dia justru melemparku ke rumah tangga kakaknya sendiri yang harmonis?” sambung Kila membual, dengan mengangkat telapak tangan kanannya menutupi mata, “aku tidak mengerti, maksud dari Gilang. Namun, jika memang ini yang ia inginkan … Aku, akan berusaha menjadi Istri yang baik untuk kakaknya, melaksanakan kewajibanku sebagai Istri dari kakaknya.”


“Kita sama-sama terpaksa melangsungkan pernikahan ini, tapi itu bukan berarti aku harus menarik diri dari tanggung jawabku-”


“Hanya katakan apa yang ingin kau katakan?” tukas Rama memotong perkataan Kila.


“Yang ingin aku maksudkan adalah,” ucap Kila dengan kembali menatap Rama, “walau terpaksa, kita tetap suami-istri. Sebagai Istri, tentu aku akan meminta hakku … Setidaknya, sering-seringlah mengunjungi kamarku, jangan membuatku terlihat menyedihkan di mata mereka. Hanya itu permintaanku,” ungkap Kila sambil beranjak berdiri.


“Jika kakak, tidak ingin memakan masakanku … Bolehkah, aku membuangnya? Aku berjanji, tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu-”


“Duduklah!” perintah Rama sambil meraih sendok dan garpu yang ada di samping piringnya.


‘Ini pertama kalinya, pasanganku memasak makanan untukku … Gilang pernah tak sengaja mengatakannya dulu. Apa kau, tidak ingin mencoba untuk mengucapkannya juga, suamiku?’ batin Kila dengan masih menatap Rama yang melahap makanannya.


Kila kembali duduk, bibirnya tersenyum manis saat Rama mengangkat wajah membalas tatapannya. “Apa kakak, bisa datang ke kamarku nanti? Hanya sebentar, tidak akan lama,” ucap Kila sambil membuang kembali pandangan ke arah piring di hadapannya.


_____________.


Kila duduk di depan meja rias, dia termenung dengan hanya jari telunjuknya saja yang bergerak mengusap cermin, ‘aku, akan melakukan apa pun untuk membuatnya jatuh cinta. Entah kenapa, rasanya ingin sekali aku melihat wajah ibunya, saat kedua putra kesayangannya itu jatuh di tanganku.’

__ADS_1


‘Jika saja ibu mertuaku itu tidak melakukan banyak sekali drama … Aku dan Gilang, telah bahagia sekarang. Bahkan saat Gilang … Dia kembali menyulitkanku untuk menemuinya. Aku bahkan masih mengingat, sakitnya tamparan yang ia lakukan,’ sambung Kila membatin dengan sebelah tangan mengusap pipinya sendiri.


Kila menoleh ke arah pintu, saat suara ketukan terdengar. Dia beranjak, merapikan gaun tidur yang ia kenakan sambil berjalan mendekati pintu lalu membukanya, “kak Rama? Aku pikir, kakak-”


“Masuklah, kak,” pinta Kila dengan semakin membuka lebar pintu kamarnya.


Kila melirik ke arah Rama yang masih terdiam, melangkah melewatinya. Dia kembali menutup pintu lalu berjalan mendekati ranjang, dengan sesekali melirik ke arah Rama yang memilih duduk di sofa, “kak, kemarilah! Aku bersumpah tidak ada niat terselubung karena memintamu untuk mendekat,” ucap Kila sambil mengangkat kedua jarinya bersamaan.


Kila meraih bantal lalu meletakan bantal tadi di dekatnya, “berbaringlah, kak! Percayalah kepadaku,” sahut Kila saat Rama sendiri telah duduk di sisi ranjang yang lain.


“Apa kau, tidak ada sifat malu sama sekali?”


“Malu? Apa yang harus malu? Apa berniat untuk memijat kepalamu, merupakan sesuatu yang memalukan?” Kila kembali menyahut dengan menepuk lagi bantal di dekatnya.


Lidah Rama berdecak sebelum akhirnya dia membaringkan kepalanya di bantal, “kakak terlihat lelah akhir-akhir ini … Apa karena kedatanganku?” ucap Kila, diikuti jari-jemarinya yang memijat pelan kening Rama.


“Adikku?” sahut Rama memotong perkataannya, dia meraih tengkuk Kila hingga wajah Kila tertunduk hingga sangat dekat dengan wajahnya.


“Apa seorang adik, akan memakai pakaian seperti yang kau kenakan, lalu wangi ini,” ucap Rama dengan sedikit mengendus harum minyak wangi yang melekat di tubuh Kila, “apa kau pikir, aku bisa dengan mudah kalian tipu?!” bentak Rama, yang membuat Kila hampir terperanjat.


“Aku memakainya, karena aku tidak yakin kakak akan datang-”


“Aku, sudah muak dengan semua sandiwara,” potong Rama sambil beranjak duduk.


Kila tertawa kecil sembari berbaring dengan menatapi Rama yang duduk membelakanginya, “sebutkan, kerugian yang aku timbulkan kepadamu, kak? Bahkan, aku membeli sembako untuk mereka, semua menggunakan uangku sendiri. Apa karena aku miskin dan tidak memiliki kekuasaan … Kalian, melimpahkan semua kesalahan kepadaku.”

__ADS_1


“Kau?!” Rama kembali membentak dengan melemparkan pandangan ke arah Kila yang masih berbaring.


“Jujur kepadaku, apa yang kakak pikirkan … Saat melihatku berbaring seperti ini?” tukas Kila, sambil berbaring menyamping menatapi Rama.


“Perempuan murahan? Tapi kenapa aku harus menerima sebutan seperti itu, jika yang di depanku saja laki-laki yang telah sah menikahiku, bukan?” sambung Kila, dia bergerak telentang dengan kedua tangan yang ia letakan di perut.


“Aku, tidak pernah menjual tubuhku kepada Gilang. Bahkan, selama kami berhubungan pun … Hal yang paling jauh kami lakukan, hanyalah saat bibir kami saling bertemu-”


“Aku tidak memintamu untuk menceritakan apa yang kalian lakukan!”


“Aku, hanya tidak ingin menyembunyikan apa pun itu darimu. Jadi, jika nanti aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai seorang Istri … Lakukan secara perlahan ya, kak. Aku, tidak suka merasakan sakit,” seru Kila, sembari berbaring menyamping membelakangi Rama.


“Kau, pasti lega Gilang menceritakan semuanya kepadamu,” ucap Rama, dia meraih bantal lalu membaringkan kepalanya di sana.


“Jika dia dapat jujur seperti itu, dia mungkin sudah mendapatkan kebahagiaannya. Jika dia ingin menikahi Citra, Mama pasti akan menyetujui semuanya. Dia mengatakan, kalau dia sudah pernah melakukannya dengan mantan kekasihnya dulu … Aku tidak mempermasalahkannya, tapi ternyata yang dimaksud adalah adikku sendiri-”


“Dan kau justru mengatakan, bahwa Gilang tidak pernah menyentuhmu?”


“Gilang, memang membayarku untuk menjadi pasangannya, tapi sentuhan fisik tidak termasuk dalam perjanjian kami. Namun seiring waktu, kami bersentuhan layaknya pasangan kekasih, tapi tidak sampai berhubungan badan … Karena aku hanya ingin melakukannya bersama suamiku. Lagi pula, aku juga bekerja … Aku melakukan pekerjaan itu, hanya karena aku kesepian, tidak ada seseorang yang bisa aku ajak berbicara … Bukan murni untuk menjual diri.”


Kila kembali berbalik, menatap Rama yang masih terdiam, “jika kakak meragukan apa yang aku katakan. Ingin melakukannya? Untuk memastikan semuanya. Aku tidak masalah, asal itu membuat semua tuduhan terhadapku bersih … Dan, mau bagaimana pun aku istrimu, sudah sepantasnya aku melayani suamiku.”


Kila beranjak lalu merangkak mendekati Rama yang tak menjawab perkataannya, dia membentang selimut yang ada di bawah kaki Rama hingga menutupi tubuhnya, “aku tidak akan memaksa kakak. Tidurlah di sini malam ini, aku akan mencari kamar kosong yang lain untuk aku temp-”


Perkataan Kila kembali terhenti saat Rama menarik tangannya, “tidurlah di sini! Ini kamar yang aku berikan kepadamu,” ucap Rama, dia melepaskan tangannya lalu dengan perlahan memejamkan matanya.

__ADS_1


“Baiklah, selamat malam, kak.”


‘Dan, cobalah lebih terbuka lagi, untuk saat-saat kedepan. Bantulah aku untuk membuat semuanya menjadi mudah,’ lanjut Kila berbicara dalam hati, sembari meraih bantal yang sebelumnya ia tiduri.


__ADS_2