Suami Kedua

Suami Kedua
Gilang


__ADS_3

Kila tertunduk, menatap pesan di layar ponselnya. Dia segera beranjak, meraih tas lalu memeriksa kembali riasan di wajahnya ke cermin yang ada di kamar. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, langkahnya berlanjut keluar kamar, dan terus berjalan mendekati sebuah mobil berwarna hitam yang menunggu di depan pagar.


“Selamat siang menjelang sore, Darling.”


Sebuah suara laki-laki menyambut Kila yang baru saja membuka pintu mobil, “jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu, terdengar memalukan,” saut Kila, dia beranjak duduk, menutup kembali pintu mobil lalu memasang sabuk pengaman setelah meletakan tas miliknya.


“Ada apa?” Kila kembali bertanya saat menatap laki-laki yang ada di sampingnya itu memicingkan matanya.


“Kau, sedang tidak kedatangan tamu, kan? Dingin sekali … Aku, terasa membeku di mobilku sendiri,” ucap Gilang dengan semakin memicingkan matanya.


“Kemarilah!” pinta Kila, hingga wajah Gilang bergerak mendekatinya.


“Terima kasih, telah meluangkan waktu untukku hari ini,” ucap Kila lembut dengan mengecup keningnya.


“Apa bisa, aku mendapat semangat yang lebih hari ini?” Gilang balas berucap lembut dengan melirik bibir Joya yang diselimuti oleh pewarna bibir hingga membuat bibirnya terlihat semakin menggoda di mata Gilang.


“Bolehkah?” Gilang kembali bertanya, kali ini dia terlihat memohon hingga tak berkedip menatap Kila.


“Hanya lakukan dengan cepat! Aku tidak ingin, jika ada yang melihat apa yang kita lakukan,” balas Kila sambil memejamkan matanya.


Gilang tersenyum dengan mengusap pelan pipi perempuan yang ada di hadapannya itu, “terima kasih,” ucapnya, diikuti matanya yang turut terpejam saat wajahnya semakin mendekati Kila.


Lama, mereka berdua larut dalam kecupan satu sama lain. Kila dengan perlahan membuka matanya, tatapan nanar dari matanya … Menatap ke arah Gilang yang dengan perlahan menjauhkan wajahnya, lalu menyandarkan kepalanya itu ke dashboard mobil sambil menatapnya. “Jika aku tidak berhenti, aku takut tidak bisa mengendalikan diri,” ucapnya yang tersenyum sambil menyelipkan rambut Kila ke telinganya.


Dia meraih lalu menggenggam tangan Kila dengan erat, “tunggu aku, Kila! Aku berjanji, setelah uangku terkumpul … Aku, pasti akan melamarmu,” ucapnya, sambil mengecup tangan Kila yang ia genggam itu.

__ADS_1


“Jangan menyerah, hanya karena keluargaku tidak merestui hubungan kita. Karena aku sendiri pun, tidak menyerah mencari uang untuk kebahagiaan kita nantinya. Aku mencintaimu,” sambung Gilang, wajahnya kembali bergerak mendekati Kila dengan mendaratkan kecupan di kening perempuan miliknya itu.


“Aku akan melakukannya. Kita sudah terlambat, Sayang … Cepatlah! Aku, tidak ingin tertinggal sedikit pun.”


“Baiklah, baiklah,” saut Gilang sambil berbalik menyalakan mobil miliknya.


“Apa kita hanya akan menonton saja hari ini? Jarang sekali, kan, kau mendapatkan libur di hari Minggu,” ucap Gilang saat mobil yang ia kendarai telah dengan perlahan bergerak meninggalkan lorong.


“Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?”


Gilang mengangguk, “kita ke sana ya nanti,” tukas Gilang penuh harap menatap Kila.


“Baiklah, kita ke sana nanti,” jawab Kila, dia meraih selembar tisu lalu mengusapkannya di ujung bibir Gilang yang merah oleh lipstik yang ia kenakan.


________________.


Kila tertunduk, menutup rok seragam miliknya menggunakan tas yang ia pegang, “Mamamu, hari ini mendatangi toko tempatku bekerja lalu membuat keributan. Dan aku, diancam akan dipecat kalau tidak segera menyelesaikan semuanya,” balas Kila, dengan menggigit kuat bibirnya yang gemetar.


“Kau tahu, kan … Aku tidak punya siapa-siapa. Jika aku kehilangan pekerjaan, bagaimana aku bisa bertahan hidup? Bagaimana aku bisa membayar kost? Sedang, aku sudah tidak mengambil pekerjaan sebagai pacar sewaan sejak memutuskan untuk menerimamu-”


“Aku memang bekerja sebagai SPG, menjual kecantikanku agar orang-orang dapat membeli barang yang kami jual. Tapi aku tidak pernah menjual tubuhku, kenapa Mamamu sangat merendahkan pekerjaan kami?” tangis Kila yang sudah tak bisa ia bendung.


“Apa karena aku miskin? Apa karena pendidikanku rendah? Apa yang Mamamu katakan juga benar, perempuan rendah sepertiku … Tidak pantas untuk bersanding denganmu. Temanku sudah menunggu, aku akan pulang bersamanya. Terima kasih, untuk semuanya,” isak Kila, sambil membuka pintu mobil lalu berjalan keluar.


Kila terus berjalan dan terus berjalan, sambil mengangkat tangannya yang tak henti untuk mengusap matanya yang basah. “Kau sudah berbicara dengannya?”

__ADS_1


“Lisa,” tangis Kila, sambil memeluk temannya yang sudah menunggunya duduk di salah satu motor.


“Kenapa rasanya sakit sekali? Dia laki-laki baik, dia baru sembuh dari luka … Tapi aku justru membuatnya-”


Kata-kata Kila tersendat, dia tak sanggup melanjutkan perkataannya. Yang sekarang ia rasakan … Hanyalah, bagaimana untuk meluapkan semua rasa sesak yang memenuhi dadanya. “Kila!” Kila semakin membenamkan wajahnya di pundak Lisa saat suara Gilang terus-menerus memanggil namanya.


“Kila, jangan menghancurkan impianku. Aku ingin menikahimu … Aku, bekerja siang sebagai pegawai, lalu malam menjadi supir online, itu semua untukmu. Aku melakukannya, agar bisa segera lepas dari keluargaku. Kembalilah padaku … Kau hidupku, kau kesempatan kedua untukku menjalani hidup.”


“Kita berjuang bersama-sama, kita pasti bisa melakukannya. Aku pun, selepas ini akan langsung membicarakannya kepada Mamaku. Kila, kumohon,” tukas Gilang yang suaranya tak kalah gemetar.


“Bicarakan semuanya secara baik-baik dengannya. Jangan menyesali semua keputusanmu,” bisik Lisa yang turut menimpali perkataan Gilang.


Lisa menggerakan kepalanya, saat Kila sendiri mengangkat wajah dari pundaknya. “Aku akan mengikuti mobil kalian dari belakang,” sambung Lisa, yang akhirnya dibalas anggukan kepala Kila.


Kila melangkah mendekati Gilang, yang disambut genggaman erat yang Gilang lakukan pada tangannya. Gilang mengangguk yang juga dibalas anggukan Lisa, sebelum akhirnya dia berjalan dengan menggandeng tangan Kila yang masih tertunduk. “apa kau, ingin mencari makanan terlebih dahulu sebelum pulang?”


“Ini sudah larut, dan aku pun lelah.”


“Baiklah, aku akan langsung mengantarmu pulang,” ucap Gilang, dengan semakin mempererat genggaman tangannya.


“Kila? Ada apa?”


Suara Rama yang memanggil namanya, membuat lamunan Kila terbuyar. Ingatannya, akan Gilang kembali melintas di kepalanya … Dengan cepat, Kila langsung menghapus matanya yang basah lalu mengangkat kedua tangannya merangkul leher Rama yang ada di hadapannya, “jangan berhenti, Kak! Lebih dalam, aku menyukai saat kakak melakukannya,” bisik Kila, dengan semakin kuat merangkul lalu mengecup pundak suaminya tersebut.


Kila mengangkat sebelah lengannya menutupi mata, bibirnya meracau saat dia kembali merasakan kenikmatan yang Rama berikan, ‘maafkan aku, Gilang,’ batin Kila, dia menggigit kuat bibirnya sembari kembali merangkulkan kedua lengannya melingkar di pundak Rama.

__ADS_1


“Jangan menahan dirimu sendiri, kak. Saat ini, aku benar-benar hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu,” bisik Kila, dia kembali menggigit bibirnya saat Rama semakin cepat memacu pinggulnya mengikuti permintaan yang Kila ucapkan.


__ADS_2