Suami Kedua

Suami Kedua
Nyenyak Dalam Mimpi


__ADS_3

Perlahan mata lentik itu mulai terbuka penuh. Melihat sekeliling yang ia yakini bahwa dirinya sekarang berada di rumah sakit. Sedangkan tangannya masih terus mengusap rambut Sean yang masih nyenyak dalam mimpinya.


Lidia membiarkan Sean tidur. Mungkin pria itu sangat kelelahan hingga tidak bisa merasakan sentuhan lembut pada kepalanya.


Cklek


Seorang dokter dan perawat masuk untuk melihat perkembangan Lidia pagi ini. dokter pun terkejut saat melihat Lidia sudah membuka matanya.


“Nyonya, saya senang akhirnya anda bangun.” Ucap dokter dengan tulus.


Dokter dan perawat itu saling lirik dan melihat Sean yang sama sekali tidak terganggu tidurnya. Padahal perawat akan mengukur tekanan darah Lidia.


“Biarkan saja, dok! Mungkin suami saya kelelahan.” Ucap Lidia.


Tak lama kemudian Sean terbangun. Karena merasa ada keributan. Pria itu mengerjap sambil mengucek matanya. hal pertama yang dilihat Sean adalah dokter dan perawat yang sedang berdiri di dekat brankar istrinya.


“Maaf, dok. Saya ketiduran.” Ucapnya lalu segera berdiri tanpa melihat Lidia.


Lidia hanya tersenyum simpul melihat sikap suaminya yang terlihat malu.


“Permisi, Nyonya. Saya akan mengukur tekanan darah anda.” Ucap perawat setelah Sean berjalan menjauh.


Sean terperangah mendengar perawat sedang mengajak bicara istrinya. Lalu dia menoleh.


“Sayang! Kamu sudah bangun?” tanyanya terkejut.


Lidia hanya mengangguk lemah. Perawat masih mengukur tekanan darah Lidia.


“Tekanan darahnya normal, dok!” ucapnya.

__ADS_1


“Baiklah. Nanti siang, saya akan memeriksa keadaan anda secera keseluruhan.” Ucap dokter lalu bergegas meninggalkan ruangan itu.


Sean berhambur memeluk Lidia. Bahkan dia langsung menciumi wanita itu hingga membuat Lidia kegelian.


“Sean, kamu cuci muka lah dulu!” perintahnya agar Sean berhenti menciuminya.


“Aku sangat merindukanmu. Biarkan aku menciumimu seperti ini.” jawabnya saat kegiatannya terjeda.


“Tapi aku  mau lihat wajah segar kamu. Tidak seperti itu.” Ucap Lidia menahan senyum.


Sean mendengus. Tapi memang benar, lebih baik cuci muka dulu agar wajahnya terlihat lebih segar.


“Baiklah. Setelah aku cuci muka. Aku akan menyeka dan menggantikan baju kamu.”


Lidia hanya tersenyum dan mengangguk.


Hari itu juga Sean mengabarkan pada Xander kalau istrinya sudah sadar dan kemungkinan besok diperbolehkan pulang. semua orang yang ada di rumah juga sangat bahagia mendengar kabar itu. Khususnya Chandra. Apalagi anak itu sangat merindukan Mamanya karena selama beberapa hari tidak bisa pergi ke rumah sakit.


***


Saat ini Silvia sedang menggendong Kavi sambil memberikan susu pada dotnya. Silvia senang mendengar kabar Lidia yang sudah membaik dan besok pulang. namun dalam hati Silvia juga terbesit rasa sedih karena sebentar lagi Kavi akan dirawat oleh oraang tuanya sendiri.


Jujur saja selama merawat Kavi, Silvia merasa seperti sedang merawat anaknya sendiri. Apa jadinya jika nanti ia sudah pulang ke tanah air dan berpisah dengan bayi mungil ini. tanpa terasa Silvia menitikan air matanya.


“Apa Kavi sedang tidur?” tanya Xander yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


Silvia buru-buru mengusap air matanya agar Xander tak melihatnya. Namun sayang sekali Xander sudah terlanjur tahu.


“Kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi?” tanyanya khawatir.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Aku hanya senang karena Nyonya Lidia segera pulang.” jawabnya.


“Tidak. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Silvia. Katakan. Ada apa?”


Silvia pun akhirnya menceritakan kegundahan hatinya jika setelah ini tak bisa lagi merawat dan menemani Kavi tidur. Karena selama ini ia menganggap Kavi sudah seperti anaknya sendiri.


“Aku tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. nanti setelah semuanya sudah membaik, kita akan secepatnya pulang ke tanah air. Aku ingin segera meresmikan hubungan kita. Maukah kamu menjadi istriku, Silvia?”


Rasa sedih lantaran sebentar lagi tidak bisa merawat Kavi, kini berganti dengan rasa haru saat mendengar keseriusan Xander yang ingin segera meresmikan hubungannya. Teerlebih pria itu sudah melamarnya.


Silvia kembali menangis. Menangis bahagia lebih tepatnya. Namun tidak berani menatap mata Xander.


“Kenapa kamu menangis lagi? apa kamu menolak lamaranku lagi?” tanyanya dengan nada kecewa.


“Tidak. Aku tidak menolak kamu. Hanya saja cara kamu melamarku yang terkesan aneh. Kamu melamarku saat aku sedang menggendong Kavi seperti ini. apa kamu tidak bisa romantis sedikit?”


Xander tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya. Benar yang dikatakan oleh Silvia. Lalu bagaimana lagi dia harus melamar dengan cara yang romantis.


“Maaf. Lalu kamu minta aku melamar dengan cara seperti apa?” tanyanya to do poin. Dan itu semakin membuat Silvia jengah. Bukankah wanita itu paling suka dengan kejutan. Kenapa hal seperti ini harus ditanyakan. Akhirnya Silvia memilih berdiri dan meninggalkan Xander yang masih dilanda kebingungan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading‼️

__ADS_1


__ADS_2