
Kila membuka pintu kamar lalu masuk ke dalamnya, dia berjalan mendekati meja rias sambil menyentuh pipinya sendiri di depan cermin, “ini sakit sekali,” gumam Kila, sebelum dia melangkah, membaringkan tubuhnya di ranjang.
“Masih setengah jam lagi dari waktu biasanya kak Rama pulang bekerja. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan untuk mempermainkan mereka,” Kila kembali bergumam sembari beranjak berdiri dengan menanggalkan pakaian yang ia kenakan.
Dia membungkuk meraih pakaian kotor yang tergeletak di lantai, meletakan pakaian tersebut ke dalam keranjang sebelum langkahnya kembali berlanjut mendekati kamar mandi, “seorang Istri yang baik, harus melayani suaminya dengan benar. Semua yang aku lakukan akan percuma jika kak Rama tidak berniat untuk membelaku,” gumaman Kila kembali berlanjut saat dia membuka pintu kamar mandi di depannya.
‘Setelah itu, tinggal pikirkan caranya … Apa yang harus aku lakukan untuk menyulut kekesalan perempuan tua itu,’ Kila lanjut lagi membatin sambil menutup pintu kamar mandi.
_____________.
Kila melirik ke arah jam, lalu beranjak dari meja rias sambil meraih mangkuk berisi air dan kain yang diletakan di atas meja kecil di samping ranjang. Dia membawa mangkuk tersebut ke luar dari dalam kamar sambil terus berjalan dengan sangat pelan untuk memperlama waktu. ‘Seharusnya kak Rama sudah pulang di jam seperti ini, ke mana dia?’ batin Kila sambil melirik ke seluruh arah, mencoba untuk mencari keberadaan suaminya itu.
Kila bernapas lega lalu tersenyum kecil saat lirikan matanya itu terjatuh ke arah Rama yang tengah berbicara dengan Hadi memasuki rumah, “kak Rama? Kakak sudah pulang?” sapa Kila hingga membuat pandangan Rama beralih kepadanya.
Laki-laki yang berdiri di samping Rama sebelumnya, membungkukkan tubuhnya saat Rama mengangkat sebelah tangannya lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua. “Aku sudah pulang. Mangkuk apa itu?” tanya Rama seraya melirik ke arah mangkuk yang Kila bawa.
Kila menggeleng dengan memeluk erat mangkuk tersebut, “bukan apa-apa, kak. Aku tadi memintanya hanya untuk mengompres … Sudahlah, bukan hal yang penting,” ungkap Kila dengan kembali mengangkat wajahnya.
“Kakak tidak menanggapi pesan yang aku kirimkan, aku sudah terlanjur meminta mereka untuk jangan memasak karena kita akan makan malam … Tapi karena kakak tidak menanggapinya, aku akan meminta mereka menyiapkan makan malam sekalian aku mengembalikan mangkuk ini,” sambung Kila sambil membuang pandangannya ke samping.
“Aku benar-benar tidak tahu malu, dengan mengajak suami seseorang untuk makan malam denganku di saat Istrinya sedang sakit-”
“Citra sakit?”
__ADS_1
Kila kembali menoleh ke arah Rama, “apa kakak tidak mengetahuinya? Bahkan Ibu Mertuamu datang ke sini,” ungkap kila sekali lagi dengan berjalan meninggalkan Rama.
“Kila!” Rama beberapa kali memanggil namanya, tapi Kila masih bergeming, mengacuhkan panggilannya begitu saja.
‘Citra sakit?’ Rama membatin sambil melangkahkan kakinya berjalan, ‘akan merepotkan kalau saja Mama mengetahui apa yang terjadi,’ sambung Rama berbisik di dalam hati dengan kedua kakinya yang terus berjalan menaiki tangga.
Rama mengetuk pintu kamar, dengan memanggil nama Citra berulang-ulang. Sebuah tamparan keras menyentuh pipi Rama saat pintu di depannya itu terbuka. “Berani sekali kau menikahi perempuan lain saat kau masih memperistri Putriku!” bentakan seorang perempuan mengikuti tamparan di pipi Rama.
“Anakku sampai sakit karena perbuatan kalian!” Dia lagi-lagi membentak dengan memukul-mukul Rama beberapa kali.
“Mama, jangan memukul kak Rama, Ma,” ungkap suara Citra yang turut menimpali bentakan Ibunya.
“Apa kalian sudah selesai?!”
“Apa ini, balasan kalian kepadaku? Jangan karena aku diam, kalian bisa melakukan apa pun yang kalian inginkan,” ungkap Rama sembari menatap tajam mereka berdua bergantian.
“Aku ke sini, hanya karena ingin mengambil pakaianku … Dan ingatlah! Rumah siapa ini,” sambung Rama, dia berjalan masuk ke dalam kamar dengan melewati mereka.
Di sisi lain, Kila berjalan masuk ke dalam dapur dengan kepala tertunduk. Dia melemparkan senyum, ke arah beberapa asisten rumah tangga yang hanya terdiam menatapinya. “Nyonya,” ucap Mainun saat Kila meletakan mangkuk yang ada di tangannya itu ke meja.
“Maafkan Saya, Nyonya … Saya tadi pergi untuk mengurus sesuatu jadi saya-”
“Tidak apa-apa, Bibi. Kenapa Bibi harus meminta maaf?” ungkap Kila dengan tersenyum menatapnya.
__ADS_1
“Tolong siapkan makan malam untuk mereka, kami batal untuk pergi makan malam hari ini,” sambung Kila sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.
‘Aku sudah membuat mereka khawatir, apa lagi yang harus aku lakukan, ya,’ Kila membatin diikuti langkahnya yang berjalan menuju ruang tamu.
‘Sepertinya, cara yang bagus hanyalah bersikap seperti Istri yang sedang dikecewakan … Aku membutuhkan simpati mereka untuk menolongku nanti,’ Kila lanjut membatin dengan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.
Kila membaringkan tubuhnya di sofa, dengan matanya yang menerawang jauh ke depan. “Nyonya Kila,” Kila mengangkat wajahnya saat suara perempuan memanggil namanya.
“Bi Mainun? Apa yang Bibi lakukan di sini?” tanya Kila sambil beranjak duduk saat Mainun membawakannya secangkir teh hangat.
“Semuanya, mengkhawatirkan keadaan Nyonya,” ungkapnya sambil duduk di lantai dengan sebuah nampan di pangkuannya.
“Mengkhawatirkanku? Tapi aku baik-baik saja,” ungkap Kila dengan meraih kedua tangan perempuan tersebut, “duduklah di sofa, Bibi. Duduklah di sampingku,” sambung Kila sambil menuntun Mainun agar duduk di sampingnya.
Mainun terdiam, tubuhnya terpaku saat Nyonya muda yang seharusnya dia layani tiba-tiba memeluk erat tubuhnya, “dari kecil, aku hanya tinggal bersama Nenekku … Aku tidak tahu bagaimana rasanya berkeluh-kesah dengan orangtua. Namun, izinkan aku untuk menangis di pundakmu, Bibi,” ungkap Kila kembali, air matanya benar-benar jatuh saat perempuan paruh baya yang ia peluk itu membalas mengusap kepalanya.
Sedangkan Rama yang baru saja turun dari lantai dua, menghentikan langkah saat suara isakan terdengar di telinganya. Dia berjalan, lalu berhenti kembali saat matanya tersebut terjatuh ke arah Kila yang sedang menangis di pelukan Mainun, ‘apa terjadi sesuatu? Dia mengatakan aku tidak membalas pesannya, padahal jelas-jelas aku sudah melakukan hal tersebut sejak sore tadi. Dia justru berjalan begitu saja tanpa mendengarkan penjelasanku dan sekarang dia menangis seperti itu … Apa yang sebe-’ Rama berhenti membatin saat dia tersadar seorang perempuan telah berdiri di sampingnya.
“Tuan, salep ini sangat bagus untuk menghilangkan memar. Saya ingin memberikannya kepada Nyonya Kila, tapi menurut saya Nyonya Kila akan lebih bahagia jika Tuan yang memberikannya-”
“Salep? Memar?”
“Sebenarnya, Tuan … Tadi sore, Nyonya Kila,” jawab perempuan tersebut dengan sedikit tersendat.
__ADS_1