Suami Kedua

Suami Kedua
Melaksanakan Kewajiban


__ADS_3

Rama kembali membuka matanya, dia sedikit beranjak dengan melirik ke arah Kila yang terlelap dengan memeluk dirinya, “kenapa aku justru memilih untuk tidur di sini?” bisik Rama, diikuti tangannya yang hendak mengangkat tangan Kila di atas perutnya.


Dia memijat kepalanya, saat tubuh bagian bawahnya tiba-tiba bereaksi … Setelah sebelumnya, pandangan matanya itu tak lepas menatap wajah Kila yang menempel di tubuhnya. Rama menghela napas, tiga bulan sudah dia menikahi Citra, tapi selama pernikahan mereka pun … Mereka jarang sekali untuk bertemu, Citra lebih memilih untuk mendapatkan pengakuan dari teman-temannya-


Rama sendiri, tidak mempermasalahkannya. Toh, selama mereka menikah … Tidak ada perubahan yang berarti di hidup Rama, sebelum menikah atau setelah menikah, semuanya sama saja untuknya. Namun, ‘padahal masakannya, tidak lebih lezat dari apa yang koki masak. Tapi kenapa? Aku justru menghabiskan semuanya,’ batin Rama, tanpa sadar jari telunjuknya bergerak mengusap wajah Kila yang masih terlelap.


‘Jika Citra, sering kali mengambil keputusan tanpa berbicara denganku … Tapi dia justru, meminta izinku terlebih dahulu. Kenapa Gilang, memintaku untuk menikahinya?’


“Kak Rama.”


Rama kembali melirik ke arah suara bisikan Kila. “Jangan mengusap telingaku, kak. Itu membuatku merasa aneh saat kakak melakukannya,” sambung Kila berbisik, lengkap dengan wajahnya yang sedikit memerah.


‘Sial! Kenapa, di saat sekarang dia justru terlihat sangat menggoda?’ Rama kembali membatin sembari beranjak hingga wajahnya berada tepat di depan wajah Kila.


“Aku, ingin meminta hak milikku sebagai seorang suami,” tukas Rama, yang membuat kedua mata Kila sedikit melebar.


‘Aku, tidak salah dengar, kan?’ Kali ini Kila yang membatin, dia membuang lirikan matanya ke samping tatkala deru napas memburu dari Rama semakin menyentuh kulitnya.


Mata Kila terpejam, saat sebuah kecupan menyentuh keningnya. Kila menggenggam erat pakaian Rama, ketika bibirnya dan bibir Rama bertemu … Bergumul, hingga napas dan ludah mereka bercampur menjadi satu. “Apa Gilang yang melatihmu?”


Mata Kila kembali terbuka, mendengar apa yang Rama katakan, “bagaimana denganmu, kak? Apa Citra yang melatih-”


Ucapan Kila terpotong, matanya kembali terpejam dengan sedikit erangan saat Rama mengigit lehernya. “Kau selalu mengatakan ingin berusaha untuk menjadi Istriku, kan? Sekarang waktunya untukmu membuktikan semuanya,” ucap Rama, yang kali ini sudah duduk dengan menindih paha Kila.


_______________.


Kila beranjak dari meja rias, dia berjalan walau sedikit tertatih mendekati Rama yang masih terlelap, ‘apa memang seperti ini rasanya setelah melakukan hal tersebut? Aku merasa, ada yang mengganjal di organ kewanitaanku,’ lirih Kila membatin, dengan sedikit menahan rasa perih di bagian yang sama.

__ADS_1


‘Aku tidak menyangka, akan turut menikmati apa yang kami lakukan semalam. Walau kaku, wajahnya sama tampannya dengan Gilang. Kakak, tinggalkan keluargamu dan jatuhlah hanya kepadaku,’ lanjut Kila membatin, diikuti jari jemarinya yang bergerak mengusap rambut Rama.


“Kakak, aku telah menyiapkan air hangat untukmu. Bangunlah, dan bersiaplah untuk bekerja,” ucap Kila, kali ini telapak tangannya mengusap lembut pipi Rama.


Kila kembali tersenyum saat mata Rama terbuka menatapinya, “selamat pagi. Aku telah menyiapkan air dan pakaian di kamar Kakak, setelah ini aku akan menyiapkan sarapan … Bangunlah, ini sudah hampir siang,” ucap Kila yang kembali beranjak berdiri.


Langkah Kila berhenti saat Rama menahan tangannya, “maafkan aku, Kila. Selama ini, aku salah menilaimu.”


Kila hanya membuat senyuman kecil di bibirnya, ketika Rama mengatakan hal tersebut, “apa semua tuduhanku telah bersih? Apa akhirnya kakak menerimaku sebagai seorang istri? Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut sebelumnya … Jadi jangan meminta maaf.”


Rama menarik tangan Kila, hingga perempuan itu jatuh di atas tubuhnya, “perusahaan itu milikku … Ada banyak sekali pegawai yang bisa menjaganya. Untuk hari ini, aku benar-benar hanya ingin ditemani olehmu-”


“Apa ini sebuah permohonan?”


“Kau bisa mengatakannya seperti itu,” ucap Rama, diikuti tangannya yang menarik tali pada kimono handuk yang masih Kila pakai.


_______________.


Kila melirik ke arah beberapa Asisten Rumah Tangga, yang tersenyum-senyum menatapi mereka berdua … Bahkan Mainun pun, turut melakukan hal yang sama. “Apa kau tidak menyukai makanannya?”


Kila menoleh ke arah Rama yang berbicara, “ini bukan karena aku tidak menyukainya. Hanya saja, melihat kakak yang lahap memakannya, membuat perutku kenyang.”


“Jangan berbicara omong kosong! Jika ada makanan yang ingin kau makan, pesan saja!”


Kila meraih peralatan makannya sambil melirik ke arah seorang perempuan yang berjalan dengan sebuah gagang telepon di tangannya, “Tuan, Nyonya menelponmu,” tukas perempuan itu dengan balas melirik ke arah Kila.


Rama yang juga turut melirik ke arah Kila, meraih lalu menempelkan gagang telepon tanpa kabel tersebut di telinganya, “ada apa, Citra?” tanya Rama sambil duduk dengan menyandarkan punggungnya.

__ADS_1


“Sayang, aku sekarang sedang berada di bandara. Apa bisa menjemputku?” tukas suara perempuan dari balik telepon.


Rama kembali melirik pada Kila, “aku sekarang sedang makan malam, kalau kau ingin menunggu-”


“Hanya makan malam, kita bisa makan malam di luar … Aku mengetahui restoran baru yang lezat dari teman-temanku. Kita ke sana, ya,” bujuk Citra, Rama masih terdiam belum menanggapi apa pun.


“Aku hanya ingin memakan masakan rumah-”


“Teman-temanku membawa pasangannya ke sana, hanya aku saja yang belum. Aku bahkan mengambil penerbangan lebih cepat agar bisa makan malam denganmu,” sambung Citra yang dengan cepat memotong perkataan Rama.


Rama mengangkat pandangannya, saat dia merasakan genggaman yang dilakukan oleh Kila di tangannya. Dia menghela napas, saat wajah Kila mengangguk membalas tatapannya, “baiklah, aku akan menjemputmu,” jawab Rama sambil menutup panggilan.


Dia tertunduk dengan menatapi gagang telepon di tangannya, ‘jika aku tidak melakukannya, maka dia akan merengek pada Mama … Aku, belum memberitahukan pernikahanku dan Kila pada Mama, kondisinya sekarang masih belum memungkinkan,’ batin Rama sembari tetap menunduk.


“Kak?”


Rama mengangkat kembali wajahnya menatap Kila, “ada apa? Kakak membuatku khawatir kalau seperti itu,” sambung Kila dengan meletakan kedua tangannya menggenggam tangan Rama.


“Citra pulang, aku harus menjemputnya sekarang,” jawab Rama yang dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Kila.


Rama beranjak, dengan meletakan telepon itu di meja sebelum dia berjalan jauh meninggalkan ruang makan, ‘kau bahkan meninggalkanku begitu saja saat mendapatkan panggilan dari Istri tercintamu? Aku sudah katakan, untuk jangan membuatku malu di depan mereka, kan?’ batin Kila dengan melirik ke arah beberapa pelayan yang menatapnya.


Kila beranjak berdiri, “bi Mainun, tolong rapikan meja makannya, ya-”


“Apa Nyonya, ingin dibawakan sesuatu ke kamar?”


Kila menggeleng menanggapi perempuan paruh baya itu, “aku hanya ingin beristirahat malam ini, Bibi. Terima kasih untuk makan malamnya,” jawab Kila lirih, dia tersenyum ke arah mereka lalu melanjutkan langkah meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


‘Aku memberikan kehormatanku begitu saja … Apa ini yang dinamakan, habis manis sepah dibuang?’


‘Aku semakin bersemangat untuk menghancurkan mereka,’ Kila kembali membatin dengan sesekali mengusap punggungnya kala melangkah.


__ADS_2