
Malam panjang penuh dengan kenikmatan tidak hanya dilalui oleh pasangan pengantin baru Xander dan Silvia saja, tapi pasangan pengantin lama Sean dan Lidia juga sedang melaluinya. Baahkan waktu hampir menjelang subuh, mereka baru saja menyelesaikan pelepasannya yang entah ke berapa kalinya.
Sean begitu puas malam ini. dia merasa seperti pengantin baru. Dn yang membuatnya lebih senang yaitu Kavi, anak mereka yang masih bayi sama sekali tidak mengganggu kegiatan intim kedua orang tuanya. Anak Sean itu benar-benar pengertian.
“Sayang, sekarang istirahatlah! Jika Kavi nanti bangun, biar aku saja yang membuatkannya susu.” Ucap Sean setelah menutupi tubuh polos istrinya dengan selimut tebal.
“Baiklah. Terima kasih, Sayang!” balasnya lalu Lidia segera menutup matanya yang sudah diambang lelah yang begitu mendera.
Sean pun segera ikut tidur. Namun dia tetap siaga jika tiba-tiba Kavi terbangun.
Pagi harinya, Sean beserta istri dan anak-anaknya tengah sarapan bersama di restaurant hotel. Rencana Sean yang semula akan langsung berangkat pergi liburan, terpaksa ia tunda dulu karena Lidia meminta berkunjung ke rumah Jenny terlebih dulu.
“Kamu beneran nggak apa-apa jika kita berkunjung ke rumah Jenny dulu? Semalam Gita tidak ikut datang ke pesta, aku sangat merindukannya.” Tanya Lidia.
“Nggak apa-apa, Sayang. Aku tahu kamu sangat merindukan Gita yang sejak kecil sudah kamu rawat. Chandra juga pasti merindukan saudara-saudaranya. Benarkan, Chan?” jawabnya lalu bertanya pada Chandra.
“Iya, Yah. Chan ingin bertemu Gita sam Daniel.” Jawab Chandra sambil mengunyah makanannya.
Sean mengangguk tersenyum. Baginya kebahagiaan anak istrinya lebih penting dari segalanya. Jika nanti Chandra menginginkan untuk menginap di rumah Jenny pun Sean tidak mempermasalahkannya.
Usai sarapan, Sean dan keluarganya segera check out lalu pergi ke rumah Jenny. Semalam saat di pesta, Lidia juga sempat mengatakan kalau ada waktu akan mengusahakan datang berkunjung ke rumah Jenny. Dan wanita yang seusia Lidia itu pun sangat senang dan akan menyambut kedatangannya.
Sebelum sampai kediaman Jenny, Lidia meminta singgah dulu ke toko penjual bonek dan juga mainan yang akan ia berikan pada Gita dan Daniel. Bahkan Chandra yang memilihkan boneka yang akan diberikan pada sepupunya itu.
__ADS_1
Seampainya di kediaman Jenny, Chandra lebih dulu turun dari mobil dan segera berlari menghampiri dua sepupunya yang kebetuan sedang bermain di teras depan rumah. Gita teriak terkejut sambil memanggil nama Chandra. Begitu juga dengan Daniel yang seusia dengan Chandra.
Mendengar keributan di luar rumah, Iqbal pun keluar rumah. dia melihat ternyata yang datang adalah Sean dan keluarganya. Lalu Iqbal mempersilakan masuk.
Jenny senang dengan kedatangan Sean dan Lidia. Sementara anak-anaknya mereka biarkan bermain bersama.
Sean mengatakan pada Iqbal dan Jenny kalau dirinya akan tinggal menetap di luar negeri karena perusahaannya yang tidak bisa ditinggalkan. Namun Sean tidak menceritakan semua masalah yang telah menimpa keluarganya selama ini.
“Meskipun kalian tinggal di luar negeri, tapi aku harap kita tetap saling berkomunikasi. Aku tidak ingin hubungan kekeluargaan kita terputus.” Ucap Jenny.
“Kamu jangan khawatir, Jen!” Jawab Lidia.
Akhirnya hari itu rencana Sean dan Lidia yang hanya ingin berkunjung sebentar ke rumah Jenny berubah menjadi menginap selama satu hari. Hal itu karena Chandra yang tidak mau diajak pulang dan masih ingin menghabiskan waktunya bersama Gita dan juga Daniel.
“Apa kalian tidak ingin menambah momongan lagi?” tanya Sean sambil melirik Iqbal dan Jenny bergantian.
“Tidak. Gita dan Daniel saja sudah cukup membuatku pusing jika mereka sedang bertengkar.” Sahut Jenny cepat.
Sedangkan Iqbal hanya mengendikkan bahunya acuh seolah pasrah dengan keinginan sang istri. Bagaimanapun juga jika Jenny tidak menghendaki memiliki anak lagi, Iqbal tetap menghargainya. Karena dia juga tidak mau melihat istrinya kualahan jika harus mengurus tiga anaknya, meskipun memakai jasa baby sitter.
Sean dan Lidia hanya tersenyum menanggapinya. Lalu mereka kembali melanjutkan makannya. Lidia menyelesaikan makannya terlebih dulu dan segera mengambil alih Kavi dari gendongan Jenny.
“Sekarang, gantian kamu yang makan. Kavi juga sepertinya mau tidur.” Ucap Lidia.
__ADS_1
Usai makan malam, mereka kembali menghabiskan waktunya dengan berbincang-bincang di ruang keluarga sambil mengawasi anak-anak mereka yang sedang asyik bermain.
“Chandra benar-benar sosok kakak yang bisa melindungi adik-adiknya nanti.” Ucap Jenny tiba-tiba.
“Iya, kamu benar Jen. Dia sangat dewasa. Bahkan dewasa belum waktunya menurutku.” Sahut Lidia.
Tanpa terasa air mata Jenny menetes saat melihat Chandra. Dia teringat dengan sosok mendiang Billal yang mirip dengan Chandra. Billal yang dewasa dan bijaksana, sekaligus penyayang. Khusunya terhadap dirinya dan juga Gita.
“Kenapa kamu menangis, Jen?” tanya Lidia heran.
“Maaf. Aku hanya rindu sama Om Billal.” Jawabnya sambil mengusap air matanya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1