Suami Kedua

Suami Kedua
Mengantri


__ADS_3

Walaupun masih belum percaya dengan ucapan kakaknya, Viana lebih memilih amannya saja. Mungkin suatu saat ia akan mengorek informasi itu lagi. tentunya tanpa sepengetahuan Chandra.


“Ada apa kamu kesini?” tanya Chandra yang kini sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Aku mau pinjam charger ponsel.”


Chandra segera beranjak dan mengambil charger ponselnya untuk Viana. Setelah itu dia mengusir adiknya.


“Ish.. nggak perlu dorong-dorong gitu juga kali, Kak.” Gerutu Viana.


“Cepat, aku sudah ngantuk.” Chandra beralasan sambil pura-oura menguap.


Setelah Viana keluar dari kamarnya, Chandra mengunci pintu itu dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi. Chandra membuka kembali laptopnya dan melihat-lihat foto Feby.


Entahlah, kenapa Chandra bisa tertarik dengan perempuan itu. Bahkan sejak pertemuan pertamanya dulu saat di bandara. Ini juga kali pertama Chandra tertarik dengan lawan jenis. Ya meskipun usia mereka terpaut empat tahun. Dan Chandra lebih muda dari Feby. Namun, usia bukanlah patokan atau sesuatu yang menghalangi seseorang dalam meraih kebahagiaannya.


Puas melihat semua foto Feby dan sudah ia simpan di tempat yang paling aman, Chandra menutup laptopnya dan istirahat.


Keesokan harinya, setelah menyelesaikan sarapannya, Chandra segera pergi. Kali ini dia pergi sendiri dan tidak mengajak adiknya.


“Chan, mau kemana?” tanya Sean yang melihat anaknya seperti terburu-buru.


“Chan ada urusan sebentar, Yah!”


“Besok datanglah ke kantor. Ayah membutuhkan bantuan kamu. Dan harusnya hari ini kamu akan Ayah ajak menemui teman Ayah untuk membahas pekerjaan. Tapi berhubung kamu sedang terburu-buru, jadi besok saja.”

__ADS_1


Chandra hanya mengangguk lalu segera pergi.


Chandra mengendarai mobilnya keluar dari area kompleks perumahannya. Niatnya keluar hanya ingin membeli ponsel Feby. Ya, meskipun jam segini masih belum ada Mall yang buka. Setidaknya dia keluar rumah terlebih dulu sebelum diganggu oleh adiknya. Apalagi Viana.


Mobil Chandra membelah jalanan yang cukup lengang di hari minggu pagi ini. dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil Chandra berhenti sejenak di sebuah taman kota yang sedang banyak orang menghabiskan waktunya disana. Sebagian ada yang jogging mengelilingi taman.


Entahlah, ini hanya kebetulan atau memang sedang berjodoh. Chandra melihat Feby juga ada di taman itu. Terlihat perempuan itu sedang mengantri di stand penjual bubur ayam. Meskipun Feby hanya memakai pakaian yang sederhana dan sopan, Chandra bisa melihat kecantikan natural yang terpancar dari wajahnya.


Hati Chandra tergelitik untuk ikut mengantri di stand penjual bubur ayam itu, walau dia sama sekali tidak suka dengan makanan itu.


Chandra berdiri di urutan paling belakang, namun dia masih bisa melihat punggung Feby. Stand itu memang sangat ramai. Mungkin rasanya yang enak atau harganya yang terjangkau, hingga yang mengantri sangat banyak. Tidak hanya itu, pembeli yang makan di tempat juga sangat banyak.


Setelah beberapa saat, barisan Chandra semakin maju. Dan Feby sudah mendapatkan pesanannya. Perempuan itu tampak menenteng dua kantong plastic yang masing-masing ada dua box bubur ayam. Namun Feby tak langsung beranjak dari tempat itu. Dia hanya bergeser sedikit dan sepertinya sedang mencari seseorang.


Tanpa sadar Chandra sudah berdiri di antrian paling depan. Dan sialnya bubur ayam sudah habis. Sudah ikut antri panjang, malah nggak dapat bagian. Untung saja dia tidak benar-benar menginginkan makanan itu.


“Yah, gimana sih Bang. Padahal saya sudah ikut rela ngantri berdesak-desakan. Masak ngga ada sedikitpun, Bang?” tanya Chandra dengan mengeraskan suaranya agar didengar Feby yang berada tepat di sampingnya.


Dan benar saja, Feby menoleh ke  arah Chandra karena ia meerasa tak asing dengan suara itu. Sedangkan Chandra pura-pura tidak melihatnya.


“Ini, buat kamu saja.” Ucap Feby tiba-tiba sambil menyodorkan satu box bubur ayamnya.


“Kak, ayo! Mama udah telepon, minta kita segera pulang.” ucap seorang pemuda seusia Chandra yang menghampiri Feby.


Chandra yang sudah menerima box bubur ayam pemberian Feby pun menoleh pada pemuda itu, yang ternyata adalah Fico. Adik Feby.

__ADS_1


Fico pun sempat menoleh ke  arah Chandra. Chandra juga masih sangat hafal dengan wajah pemuda itu. Dulu dia juga sangat akrab dengan Fico. Tapi nggak tahu apakah Fico masih ingat dengan Chandra atau tidak.


“Kak, sepertinya dia itu-“


“Maaf, aku nggak bisa menerimanya. Aku akan cari di tempat yang lain saja.” Potong Chandra dengan cepat lalu memberikan box bubur itu kembali pada Feby dan segera pergi dari tempat itu sebelum Fico mengenali wajahnya.


Chandra segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan taman itu.


“Sudah, ayo pulang! katanya Mama minta kita segera pulang.” ajak Feby pada Fico yang masih diam seperti sedang mengingat sesuatu.


Kini Fico dan Feby sudah masuk ke mobil dan segera pulang.


“Kak, siapa laki-laki tadi?”


“Oh, aku nggak kenal. Dia hanya ikut mengantri beli bubur tapi nggak kebagian.” Jawab Feby.


“Sepertinya aku kenal dengan laki-laki itu. Tapi dimana ya?”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading‼️


__ADS_2