Suami Kedua

Suami Kedua
Ingin Menjebakku?


__ADS_3

Kila kembali duduk saat Citra sendiri telah duduk di kursi yang berseberangan dengan mereka. “Apa nasinya sudah cukup? Aku akan menambahkannya lagi kalau kakak mau,” ungkap Kila dengan menoleh ke arah Rama yang telah meraih alat makan di tangannya.


“Sudah cukup,” jawab Rama singkat kepadanya.


Pandangan Kila beralih ke arah Citra yang hampir tak berkedip menatapi mereka, “kak Citra, aku dengar jika kakak menyukai Ayam yang dimasak dengan saos Tiram. Jadi aku, memasaknya khusus untukmu," ucap Kila, dia beranjak meraih sepiring penuh ayam yang dia masak lalu meletakannya di samping piring milik Citra.


Kila mengangkat tangannya, “berikan aku piringmu, kak! Aku, akan mengambilkan nasi untukmu,” sambung Kila, bibirnya lagi-lagi membuat senyum kecil saat Citra melotot ke arahnya.


Kila menghela napas dengan menarik tangannya kembali, “maaf, sepertinya aku sudah berlebihan. Aku, tidak akan melakukan hal ini lagi kalau apa yang aku lakukan membuat kalian tidak nyaman,” Kila kembali berulah untuk menarik perhatian Rama di sampingnya.


“Kak,” ucap Kila sambil menoleh ke arahnya, “maafkan aku, tapi sepertinya aku tidak bisa berhenti untuk bekerja. Kalian lanjut saja makan, aku ingin pergi mengambil seragam kerja yang aku tinggalkan di kost,” sambung Kila dengan berbalik menjauhi meja makan.


“Apa kata-kataku sebelumnya tidak cukup untukmu?”


“Aku sudah mengatakan akan memenuhi semua kebutuhanmu, bukan?” Rama melanjutkan perkataannya, sambil menoleh ke arah Kila yang telah menghentikan langkah.


“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”


Kila berbalik dengan menatap mereka bergantian, “berdiam diri di sini? Aku, sudah mencoba untuk menjadi anggota keluarga ini. Aku, memasak makanan kesukaan kalian dengan harapan … Setidaknya kalian bisa menerima keberadaanku. Untuk apa aku berdiam diri di tempat yang menganggapku seperti orang asing?”


Kila tertunduk dengan tangan beberapa kali mengusap mata, “di mana aku meletakan obat sakit kepalaku itu?” Kila bergumam sambil berbalik meninggalkan mereka.


“Kenapa kau tidak berterima kasih akan apa yang dia berikan?” tukas Rama sembari menoleh ke arah Citra saat Kila sendiri sudah meninggalkan mereka.


“Berterima kasih? Berterima kasih untuk menukar suamiku dengan seporsi ayam yang aku pun tidak tahu mungkin ada sesuatu di dalamnya-”


“Apa yang kau maksudkan?” Rama kembali bertanya kepadanya.

__ADS_1


Citra mengayunkan tangannya hingga beberapa piring dan gelas di hadapannya terjatuh dari atas meja, “cobalah sadar Rama! Perempuan Ular itu sedang memanfaatkanmu!” ucapnya sambil beranjak dari kursinya.


“Dia ingin menghancurkan pernikahan kita, dia ingin menghancurkan kebahagiaan kita. Jika kau masih mempertahankannya, aku tidak ada cara lain selain meminta bantuan Mama untuk mengusirnya!”


“Aku menikahimu karena permintaan Mama, jadi kau juga mengancamku dengan menggunakan Mama. Seperti itu?”


“Aku mencintaimu, karena itu aku menerima lamaranmu dulu. Aku akan menjadi Istri yang lebih baik dari sekarang, jadi buang perempuan itu dari rumah kita-”


Rama yang beranjak berdiri, menghentikan kata-kata yang sebelumnya Citra ucapkan, “kau mencintaiku? Jika iya, seharusnya sudah sedari awal kau mengurusku dengan benar. Apanya yang mencintai, kau bahkan tidak pernah menyambutku tiap kali aku pulang dari bekerja,” ungkap Rama dengan melangkah meninggalkannya sendirian.


Citra meraih beberapa piring berisi makanan lalu melemparkannya ke lantai, sebelum dia kembali duduk dengan napasnya yang menggebu penuh kesal, ‘perempuan itu berbahaya. Aku harus menyingkirkannya dari rumah ini secepatnya! Nyonya Rahardian hanya boleh dimiliki olehku … Aku sudah bersusah payah mempermainkan kakak-beradik itu. Usahaku, tidak akan kubiarkan berakhir sia-sia,’ batin Citra yang tanpa sadar telah memukul kuat meja di hadapannya.


_____________.


Rama berjalan keluar dari kamar milik Kila saat dia tidak menemukan keberadaan Kila di dalamnya. Dia terus berjalan menyusuri rumah sambil bertanya ke beberapa asisten rumah tangga yang kadang kala berpapasan dengannya. Langkah Rama berhenti, dia sedikit bernapas lega setelah menemukan keberadaan Kila yang tengah duduk di pinggir kolam renang.


“Apa yang kau lakukan di sini?”


Kila menoleh menatap Rama yang telah berdiri di sampingnya, “aku hanya mencoba untuk menenangkan diri,” ucap Kila, dia menunduk sambil mendayung kakinya yang terendam ke dalam air kolam.


“Abaikan saja dia!”


Kila membaringkan tubuhnya sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas, “selama kami masih berbagi suami yang sama. Aku tidak bisa mengabaikannya.”


“Orang ketiga akan selalu salah, perebut suami orang akan selalu salah apa pun keadaannya. Karena memang itu yang terjadi … Aku yang sebelumnya tidak pernah disentuh sejauh itu oleh laki-laki, menginginkan suamiku hanya menyentuhku terus-menerus. Memikirkan suamiku menyentuh perempuan lain, entah kenapa membuatku sesak.”


“Aneh, bukan?” tukas Kila sambil beranjak lalu berdiri menatap Rama, “aku merasa kesal jika kau memperhatikan perempuan lain, tapi aku juga sadar akan statusku yang menjadi orang ketiga di pernikahan kalian. Jangan bersikap baik padaku, hatiku belum sembuh untuk menerima rasa sakit lagi,” ungkap Kila sambil melangkah jauh meninggalkan Rama.

__ADS_1


‘Aku akan selalu menanamkan rasa bersalah padamu. Jadi jangan terlalu lama untuk bersimpati padaku,’ batin Kila sebelum langkahnya terhenti oleh Citra yang telah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Apa yang ingin kau lakukan di depan kamarku?”


“Menjauh dari Rama atau aku akan membuatmu menyesal!” ancam Citra kepadanya.


“Kalau aku tidak ingin melakukannya?”


“Kau!” tukas Citra. Kedua mata Kila membelalak saat Citra tiba-tiba menampar wajahnya sendiri beberapa kali, sebelum dia menangis sambil menyentuh pipinya sendiri.


“Aku ke sini hanya ingin meminta maaf kepadamu, kenapa kau harus menamparku?”


‘Astaga, apa dia sedang mencoba untuk menjebakku? Aku tidak menyangka akan melihatnya secara langsung. Trik seperti ini, sering aku lihat di sinetron-sinetron suara hati bini,’ Kila lanjut membatin, dia menghela napas saat lirikan matanya itu terjatuh ke arah bayangan Rama yang terpantul di cermin-cermin kecil yang sering kali digantung di seisi rumah.


“Apa yang terjadi?”


Kila masih terdiam mendengar suara Rama, sambil menoleh ke arah Citra yang berlari lalu merangkulkan lengannya di Rama. “Rama, dia menamparku? Padahal aku ingin meminta maaf kepadanya,” tangis Citra sambil membenamkan wajahnya di lengan Rama.


'Perempuan ini, apa dia berencana untuk mencari masalah denganku?’ batin Kila, dia tertunduk sambil menggaruk keningnya.


“Apa aku diberikan izin untuk membela diri?” tukas Kila dengan menghela napas menatap mereka.


“Aku bermain air di kolam sebelum ke sini. Bagaimana aku menamparnya kalau tanganku saja sudah kedinginan seperti ini? Menampar seseorang biasanya akan membuat tangannya memerah … Kenapa tidak mencoba untuk melihat tangannya sendiri? Atau, sekalian saja berikan aku izin untuk menamparnya agar memperkuat pendapatku ini,” sambung Kila sambil mengangkat sebelah tangannya ke atas.


Kila kembali menghela napas, “aku kedinginan, perutku lapar lalu difitnah. Jika memang tidak ingin melihat wajahku lagi, kumohon jangan menyakiti dirimu sendiri … Karena aku, akan pergi tanpa perlu diusir-”


“Kila!” panggil Rama yang menghentikan langkah Kila, “ganti pakaianmu, kita akan makan di luar. Aku, akan membelikanmu apa pun, sebagai ganti dari masakan yang belum sempat aku makan. Aku menunggumu di mobil,” ucap Rama, dia menarik tangan Citra hingga terlepas dari tangannya sebelum lanjut melangkah meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2