
Wajah Feby seketika memanas saat pertama kalinya mendengar Chandra memanggilnya Sayang. Sedangkan Chandra yang melihat reaksi istrinya terdiam dalam bahunya, perlahan ia memutar sedikit badannya lalu menegakkan kepala Feby.
“Kenapa, hem?” tanya Chandra dengan menatap intens mata Feby.
“Nggak apa-apa.” Jawabnya sedikit gugup lalu membuang muka.
Chandra pun semakin dibuat penasaran karena merasa aneh dengan istrinya. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Chandra sekali lagi.
“Nggak… nggak apa-apa, Chan. Aku hanya belum terbiasa saja dengan panggilan kamu.” Jawab Feby akhirnya.
Chandra tersenyum. Kini ia pun paham kalau sikap salah tingkah Feby lantaran panggilan sayangnya.
“Mulai sekarang kamu harus terbiasa, Sayang.” Jawab Chandra lalu menghadiahi ciuman lembut pada bibir manis istrinya.
Feby yang belum siap hanya bisa diam saat bibir Chandra tiba-tiba menempel pada bibirnya. setelah itu Chandra melepasnya.
“Kamu juga harus terbiasa dengan ciuman mendadak dariku. Dan kamu juga harus membalasnya. Sekarang buka mulut kamu!” ucap Chandra dan itu seperti menghipnotis Feby.
Tatapan mata Feby juga dalam. Dia membuka sedikit mulutnya. Lalu Chandra sedikit memiringkan kepalanya untuk bisa kembali mencium bibir istrinya.
Ciuman yang awalnya begitu lembut, kini semakin menuntut. Terlebih Feby sudah membuka mulutnya seolah siap dengan serangan yang diberikan oleh suaminya. benar saja, Chandra pun dengan leluasa melu-mat bibir Feby sambil memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Feby.
Chandra sangat menikmat rasa manis dalam mulut istrinya. Rasa yang sejak dulu telah membuatnya candu. Meskipun Feby sudah pernah menikah, namun rasa itu sama sekali tidak berubah.
Tanpa sadar tangan Feby mengalung ke leher Chandra. Sedangkan Chandra sendiri memegang kepala Feby dan semakin memperdalam ciumannya.
Ciuman itu terlepas untuk beberapa saat. Keduanya saling terengah hampir kehilangan pasokan oksigen. Tak ingin kegiatan pemanasannya itu diketahui pramugari, Chandra pun mengajak istrinya masuk ke dalam kamar yang tersedia dalam pesawat itu.
__ADS_1
Arggh
Pekik Feby saat Chandra tiba-tiba saja menggendongnya. Namun Chandra sama sekali tidak bereaksi. Dia melenggang begitu saja membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, dengan pelan Chandra menurunkan Feby di atas ranjang dengan ukuran yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
Chandra juga segera bergabung dengan Feby. Merebahkan tubuhnya tepat di samping Feby lalu kembali mengulangi kegiatan pemanasannya.
Feby pun kini sudah mulai terbiasa. Dia membalas ciuman Chandra. Posisi mereka sama-sama miring berhadapan dengan bibir saling bertaut. Kaki Feby pun secara reflek sudah bergerak naik melingkar ke pinggang Chandra. Ciuman mereka semakin dalam dan penuh gai-rah.
“Stop, Chan!!” lirih Feby setelah melepas pagutan bibirnya.
“Kenapa, hem?” tanya Chandra dengan suara serak yang tertahan.
“Bukankah kita sudah berjanji untuk melakukannya nanti saat sudah tiba?” Feby mengingatkan.
Chandra pun akhirnya mengalah. Dia menormalkan degupan jantungnya lalu memeluk Feby dengan erat sambil mengecup keningnya.
Chandra justru merasa geli dengan cubitan yang didapat dari istrinya. Lalu ia kembali mengeratkan pelukannya.
Perjalanan yang mereka tempuh sangat lama. Sekitar kurang lebih lima belas jam. Chandra melihat istrinya yang sudah tertidur pulas dalam pelukannya hanya bisa tersenyum bahagia. Akhirnya cinta sejatinya kini bisa ia miliki seutuhnya. Chandra berjanji dalam dirinya akan selalu membahagiakan Feby dan tidak akan membiarkan orang lain merebutnya ataupun menyakitinya.
“Aku sangat mencintaimu, Sayang!” ucapnya lalu mengecup seluruh wajah istrinya yang sudah terlelap damai. Dan akhirnya Chandra juga ikut terlelap.
***
Feby merasakan hawa berbeda saat pesawat pribadi milik mertuanya baru saja mendarat di sebuah lapangan terbang yang berada tidak jauh dari kediaman Sean. Tak lama kemudian Chandra menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya.
__ADS_1
“Kita mau kemana?” tanya Feby.
“Langsung pulang saja, ya? Apa kamu mau jalan-jalan?” Feby menggelengkan kepalanya.
Perjalanan dari lapangan udara menuju rumah hanya sepuluh menit. Setelah itu mereka tiba di rumah besar milik keluarga Sean yang pernah Chandra singgahi sendirian selama beberapa tahun.
Rumah itu tampak sepi namun sangat bersih. Feby sungguh takjub dengan kemewahan yang ada dalam rumah itu. Dia juga melihat sendiri tingkat keamanan rumah itu. Tidak perlu dijaga oleh bodyguard namun dijaga oleh alat tekhnologi canggih hasil rakitan Chandra yang dibantu oleh Fredy saat itu.
“Apakah tidak ada orang yang menghuni rumah ini?” tanya Feby saat memasuki ruang keluarga.
“Tidak ada. Selama grandma Anne dan grandad Jo meninggal, rumah ini hanya tiga hari sekali dibersihkan oleh pembantu suruhan Kak Fredy.” Jawab Chandra.
Feby mengangguk saja walau dia sama sekali tidak mengenal orang-orang yang baru saja Chandra sebutkan. Mungkin lain kali dia akan menanyakannya.
Chandra membiarkan istrinya berjalan mengelilingi rumah untuk melihat-lihat beberapa ruangan. Sedangkan ia memilih duduk santai sambil memainkan gadgetnya. Chandra masih memantau pergerakan Tuan Ibra saat ini.
Chandra kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu pergi menyusul istrinya yang saat ini sedang berdiri di tepi jendela besar sebelah ruang tamu untuk melihat pemandangan kota di saat langit sudah memperlihatkan senjanya.
Beberapa langkah sebelum mendekati istrinya, Chandra bisa melihat posisi istrinya yang tersorot oleh cahaya matahari dari jendela itu hingga menampakkan siluet tubuh seksii Feby.
Grep
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading‼️