
Xander terpaksa menyudahi ciuman itu meski dirinya masih ingin lebih lama menikmati bibir manis Silvia yang diam-diam sudah seperti candu baginya. Xander tidak ingin fokus pekerjaannya terganggu hanya karena masalah asmara. Dengan melihat perubahan Silvia pagi ini sudah cukup membuat hati Xander bahagia.
Sementara itu Silvia masuk ke ruangannya untuk mengcopy laporan yang diinginkan oleh Xander. Perempuan itu mengusap bibirnya yang masih menyisakan bekas ciumannya dengan Xander. Ada rasa kecewa dalam hati Silvia lantaran Xander menydahi ciuman itu. Namun dia tidak boleh egois. Bagaimanapun juga hubungan mereka berdua masih abu-abu. Perubahan penampilannya hari ini adalah wujud dari ungkapan perasaan Xander.
“Baiklah, aku pergi dulu. Aku titipkan kantor pada kamu selama aku pergi. Untuk masalah meeting, kamu cancel.” Pamit Xander.
“Baik, Tuan.” Jawab Silvia.
Xander segera melenggang pergi ke bandara. Namun langkahnya terhenti saat mendengar Silvia memanggilnya. “Ada apa?” tanyanya.
“Tuan, hati-hati!” ucap Silvia lalu menundukkan kepalanya.
Xander mengangguk sambil tersenyum tipis. Sejenak dia mengacak pelan rambut Silvia lalu pergi meninggalkan kantor.
Setelah melalui proses panjang, Xander sudah tiba di bandara kota J. dia segera memesan taksi yang akan mengantarnya ke kantor Sean. Pria itu mengambil ponselnya hendak mengirim pesan pada Silvia untuk mengabarkan kalau dirinya sudah tiba di tempat tujuan. Mungkin Silvia sedang sibuk dengan pekerjaannya, karena Xander tak kunjung mendapatkan balasan.
Taksi yang ditumpangi Xander sudah tiba di depan kantor Sean. Setelah membayar ongkos taksinya, Xander segera masuk.
Cklek
Sean terkejut saat melihat kedatangan Xander. Pasalnya sahabatnya itu tidak memberitahu kapan akan berangkat dan tiba. Setelah kemarin memintanya datang, Xander hanya mengatakan siap.
“Duduklah, aku akan memanggil OB untuk mengambilkan minuman untukmu.” Ucap Sean.
Xander hanya mengangguk. Dia mengistirahatkan sejenak tubuhnya sambil duduk di sofa yang ada di ruangan Sean. Pria itu kembali membuka ponselnya berharap ada pesan balasan dari Silvia. Namun lagi-lagi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Xander mendesahh pelan. Perasaannya mendadak jadi gundah. Apakah memang seperti ini rasanya jika hati sudah tertambat dengan hati yang lain. Kemudian Xander mengusap wajahnya dengan kasar.
“Ada apa?” tanya Sean yang sejak tadi melihat aneh wajah sahabatnya.
“Nggak ada apa-apa. Aku hanya butuh kopi sebelum memulai tugasku.” Jawab Xander sekenanya.
Tak lama kemudian pintu ruangan diketuk dan datanglah seorang OB membawa nampan berisi dua gelas kopi. Kini Sean dan Xander duduk berhadapan dan siap membahas rencana yang akan mereka susun. Sebelumnya Xander memberikan hasil laporan keuangan kantor cabang pada Sean.
“Lalu apa yang rencana kamu selanjutnya?” tanya Xander.
“Kemarin aku sudah meminta bantuan Marsha untuk meretas data penting perusahaan David yang saat ini dipegang oleh Bryan. Karena hanya Marsha yang mempunyai keahlian itu. Nanti setelah mendapat kabar darinya, aku minta kamu melanjutkan misi itu. Rupanya baj***n itu tidak kapok dengan peringatan yang aku berikan. Jadi dengan memakai cara ini, aku bisa menghancurkan perusahaan David yang ada di negara ini sampai akar-akarnya.” Ucap Sean penuh amarah sambil mengingat setiap perbuatan Bryan yang terus berusaha menghancurkan keluarganya.
__ADS_1
“Baiklah. Lalu bagaimana dengan keberadaan Jeff di kota ini?” tanya Xander.
“Biarkan saja. Dia bekerja juga menunggu perintah dari Bryan. Kalau setelah ini Bryan tidak bisa berbuat apa-apa lagi, aku yakin Jeff juga tidak akan melakukan apapun.” Jawab Sean.
Xander membenarkan. Karena menurut cerita yang sempat Silvia dengar saat itu kalau pria bernama Jeff sangat terpaksa untuk melakukan perintah Bryan.
Tak lama kemudian ada panggilan masuk dari ponsel Sean. Ada nama Leon yang tertera disana. Sean menerima panggilan itu dan melakukan pembicaraan yang cukup serius. Bahkan raut wajah Sean seketika berubah masam. Hingga membuat Xander penasaran.
“Ada apa?” tanya Xander.
“Leon dan Marsha mengalami kendala. Mereka memintaku datang sekarang juga.” jawab Sean.
“Baiklah. Ayo kita kesana sekarang juga.”
Sean dan Xander segera menuju sebuah restaurant dimana saat ini Leon dan Marsha sedang menunggu. Perasaan Sean semakin cemas saat tadi Leon mengatakan kalau Marsha sedang kesulitan membobol system pertahanan di perusahaan milik David. Namun Marsha masih terus berusaha.
Mereka berdua sudah tiba di restaurant. Sean dan Xander segera menuju ruangan VVIP sesuai yang dikatakan oleh Leon. Disana tampak Marsha masih sibuk mengoperasikan laptopnya. Sedangakn Leon juga ikut memantau hasilnya.
“Bagaimana?” tanya Sean yang baru saja mendudukkan tubuhnya.
Ketiga pria itu sama-sama diam dan membiarkan Marsha bekerja. Raut wajah Marsha beberapa kali berubah dengan jemari yang masih sibuk menari di atas keyboard. Bahkan sesekali dia mengusap keringat di keningnya. Padahal ruangan yang ia tempat saat ini ber ac.
“Sorry, Kak Sean. Sepertinya Tuan David mempunyai orang ahli yang bisa melindungi system pertahanan perusahaannya.” Ucapnya dengan wajah lesu.
Sean tidak bisa berbicara lagi. dia masih berusaha mencari cara lain. Namun menurutnya memang cara itu adalah yang paling jitu. Dan sepertinya David sudah berjaga-jaga sebelum kecolongan.
“Fredy!!!” tiba-tiba Marsha berteriak menyebut nama guru pembimbing Chandra. Ketiga pria itu tidak mengerti apa maksud ucapan Marsha.
“Aku yakin pasti Fredy bisa melakukan ini semua, Kak. Keahlian dia jauh di atasku. Coba Kak Sean hubungi dia sekarang juga.” pinta Marsha.
Sean pun segera meraih ponselnya dan segera menghubungi Fredy yang saat ini sedang mengajar Chandra di rumahnya. Namun belum sempat Sean mendial no ponsel Fredy, pria itu terlebih dulu menghubunginya.
“Ya halo, Fred?”
“…..”
__ADS_1
“Apa?”
Sean segera berdiri dan keluar dari ruangan VVIP itu setelah mendapat kabar bahwa Lidia jatuh pingsan setelah ada pria asing datang ke rumahnya hendak menculik istrinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Xander.
“Fredy menghubungiku saat ini istriku jatuh pingsan setelah kedatangan pria asing ke rumah.” jawab Sean.
Xander, Leon, dan juga Marsha pun mengikuti Sean pergi. Mereka bertiga sangat terkejut mendengar kabar buruk itu. Padahal di luar rumah ada dua orang penjaga yang ditugaskan menjaga keamanan rumah. lalu bagaimana bisa ada orang masuk dan mencelakai Lidia.
Beberapa saat kemudian Sean sudah tiba di rumah. dia melihat istrinya yang masih belum sadarkan diri di atas sofa ruang tengah dengan Bi Rani yang sesekali memberikan minyak angin pada hidung Lidia.
“Bagaimana kejadiannya, Fred?” tanya Sean.
Fredy pun menjelaskan kalau tadi dirinya dan Chandra sedang berada dalam ruang gym. Setelah itu dia mendengar teriakan Bu Dewi, baby sitter Viana yang sedang berusaha membangunkan Lidia yang tergeletak di lantai. Bu Dewi yang ada disana juga menjelaskan bahwa dia melihat ada seorang pria masuk dan langsung membekap mulut Lidia. Bu Dewi mendekati pria itu sambil mengayunkan vas bunga. Namun sayang lemparan vas bunga itu meleset dan pria asing itu segera berlari dan menjatuhkan Lidia begitu saja.
“Lalu dimana keberadaan dua bodyguard yang berjaga di luar? Dan juga Pak Doni?” tanya Sean dengan marah.
“Maaf, Tuan. Suami saya tadi sedang berada di belakang rumah. sedangkan saat ini dua bodyguard Tuan masih belum sadarkan diri.” Jawab Bi Rani.
Amarah Sean semakin meluap. Ternyata orang suruhan Bryan dan David bukan orang sembarangan. Sean segera naik ke lantai dua. Dia ingin melihat rekaman cctv secara langsung.
“Gawat, Sean! Kantor cabang sedang bermasalah.” Ucap Xander tiba-tiba.
.
.
.
*TBC
Happy Reading‼️
__ADS_1