Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Keisengan Chayra


__ADS_3

Sejak pembicaraannya dengan Ardian malam itu. Chayra bisa bersikap biasa-biasa aja pada suaminya. Tidak kaku maupun tegang saat mereka bersama. Gadis itu malah berani bersikap agresif. Ternyata saat kita saling terbuka dengan pasangan. Itu bisa jadi penghancur tembok kekakuan.


Begitu pula dengan Pak Ismail. Sejak mendengar pengakuan Chayra, dia bisa bersikap wajar pada Ardian. Mau duduk bersama, tidak lagi menghindari Ardian. Iya.. walaupun keinginannya untuk membuat Ardian lebih paham agama masih menggebu-gebu. Pak Ismail tetap memaksa Ardian untuk memahami kitab-kitab dasar.


Seperti terlihat pagi ini. Pak Ismail sedang menyuruh Ardian menghapal huruf jar yang terdapat dalam ilmu nahwu.


"Kamu belum boleh pulang kalau kamu belum menghafal huruf jar. Ini hari terakhir kamu disini. Punya bekal apa kamu untuk membimbing putriku."


Ardian hanya bisa menunduk. Tangannya mengais-ngais karpet berbulu yang di dudukinya.


Chayra yang duduk di sofa hanya menatap suaminya dengan kasihan. Pak Ismail memang tidak memukul Ardian. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulutnya benar-benar membuat hati menjadi perih.


Chayra bersiap untuk bangkit, ingin menghampiri Ardian. Namun, tatapan tajam Pak Ismail membuatnya duduk kembali.


"Bacakan sekali lagi huruf jar yang Abah sebutkan tadi."


"Bismillahirrahmanirrahim, huruf jar ada sembilan yaitu. min, ilaa, 'an, 'ala, fii,...." Ardian lupa kelanjutannya. Menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.


"Kenapa kamu diam? Kamu siap menjadi suami Ayra, itu berarti kamu harus siap dengan semua tuntutan Abah. Jangan hanya mau mengambil enaknya saja. Malu dong, istri sangat paham ilmu agama. Masa jadi suami huruf jar saja tidak tau."


"B.. bukannya Ardian tidak siap, Abah. Tapi, aku lupa kelanjutannya.." tersenyum meringis seraya melirik Pak Ismail. Kembali menunduk saat mendapati Pak Ismail sedang menatapnya tajam.


"Tapi kamu ingat kan, jumlahnya?"


Ardian mengangguk. "Insya Allah, kalau jumlahnya aku masih ingat. Huruf jar itu ada sembilan."


"Terus rukun Islam, rukun iman kamu sudah hafal?"


Ardian melirik Pak Ismail. "Alhamdulillah, kalau itu Ardian sudah hafal." Menjawab dengan mantap.


"Rukun wudhu, rukun mandi, rukun shalat, apa kamu sudah hafal juga?"


Ardian kembali mengangguk. "Chay sudah mengajarkan itu dari awal."


"Istri kamu yang mengajarkan itu semua, bukan orang tua kamu?!"


"Abah!" Bu Ainun mendekat dan menepuk pelan paha suaminya. "Abah jangan bertanya terlalu dalam. Itu urusan pribadi Nak Ardian. Bersyukurlah karena dia mengenal Ayra."


Pak Ismail mendengus. "Orang tuanya tidak berperan dengan baik dalam mendidik anak mereka."


"Cukup, Abah. Jangan menyinggung keluarganya Nak Ardian. Itulah mengapa dia ingin lebih dekat dengan Abah. Dia ingin seperti Ghibran, yang paham agama. Tapi, Allah sudah menggariskan kehidupan yang seperti ini untuknya. Dia juga sedang belajar. Insya Allah, satu dua tahun ke depan dia akan terbiasa dan banyak memahami agama. Seperti yang Abah inginkan."


Ardian masih menunduk. Dia tidak merasa tersinggung dengan ucapan Pak Ismail. Karena semua yang dikatakan Pak Ismail tidak ada yang salah.


Bu Ainun beralih menatap Ardian yang masih menunduk di depannya. "Jangan membanding-bandingkan Ardian dengan Ghibran. Ummi sungguh tidak suka dengan hal itu. Biarkan Ardian dan Ayra hidup dengan cara mereka sendiri."

__ADS_1


Bu Ainun mendekati Ardian. "Kamu kembali ke dalam kamar kamu, Nak. Ummi yang akan ngomong sama Abah kamu. Dia sudah keterlaluan." Melirik suaminya kesal. Yang dilirik terlihat masa bodoh. "Ayra, ajak suami kamu ke kamar, Nak."


"Iya, Ummi." Chayra bergegas menghampiri suaminya. Dia pun, bersikap masa bodoh menanggapi tatapan tajam Pak Ismail.


Chayra menahan senyum saat dia memasuki kamar, terdengar suara omelan Umminya untuk Pak Ismail. Ibunya, Santi menghindar dan masuk ke dalam kamar. Tidak mau ikut campur dengan urusan suami istri itu.


"Kamu kenapa senyum, Chay? Senang ya, melihat aku dimarahin Abah seperti tadi?" Berbalik menatap istrinya setelah menutup pintu kamar.


"Astagfirullah, nggak, Kak. Aku tersenyum karena Ummi."


"Kenapa Ummi yang baik hati itu?" Duduk di sisi ranjang.


"Cie... kalau dibelain, bilangnya Ummi baik hati. Terus kalau Abah, sebutannya apa?"


"Abah yang tega sama menantu." Jawab Ardian datar.


"Hahaha... kenapa tidak jahat saja?"


"Aku mah nggak berani bilang gitu. Nanti kena semprot lagi. Kata-katanya itu lho, ampun deh, pedes banget." Ardian membuang nafas kasar. "Tapi, ya.. demi dirimu, Chay. Aku harus tahan banting. Berusaha menganggap ucapan Abah itu hanya angin lalu. Masuk telinga kanan, keluar lewat telinga kiri." Sambil mempraktekkan.


"Kakak hanya perlu berjuang untuk mendapatkan hati Abah."


"Kemarin aku berjuang untuk mendapatkan hatimu. Setelah perjuangan itu mulai menampakkan hasil. Kini aku harus kembali berjuang lagi untuk mendapatkan hati Ustadz Ismail bin .... lupa aku nama Abahnya Abah."


"Kamu sedang menggodaku, Chay.." Ardian menatap istrinya tak kalah dalam.


"Tidak, Ardian. Aku hanya sedang menguji kekuatan imanmu yang sekarang. Apakah masih gampang tergoda atau bagaimana."


"Insya Allah, imanku lebih kuat sekarang. Tapi, itu berlaku untuk wanita di luaran sana. Untuk kamu, aku tidak bisa menahan diri. Jangankan digoda seperti ini, Sayang. Kamu menatapku lama saja, adik yang di bawah akan berdiri." Menarik tubuh Chayra sampai jatuh di atas pangkuannya. "Tuh, kan dia bangun." Melingkarkan tangannya di pinggang Chayra.


Chayra meloncat bangun. Tidak mau kalau adik kecil suaminya benar-benar bangun. "Jangan sekarang, Kak. Diluar masih ada pertandingan sengit antara Ummi dan Abah. Jangan sampai kita dipanggil saat sedang melakukannya nanti."


"Terus aku harus menidurkannya sendiri sekarang?"


"Resiko ditanggung pemilik tubuh. Siapa suruh bangun. Cuma di goda sedikit kok."


"Tega kamu, Chay."


Chayra cekikikan melihat ekspresi memelas suaminya. "Adek, tidur ya. Nanti malam bangunnya. Sekarang masih pagi. Apalagi ada perdebatan sengit diluar. Takutnya Adek dimarahin Abah sama Ummi. Tau kan, kita lagi nginap di rumah orang. Kalau di rumah sendiri, terserah Adek mau bangun jam berapapun tidak akan ada yang larang." Chayra menepuk-nepuk paha Ardian.


"Chay... dia bukannya mau tidur kalau kamu seperti ini. Dia malah semakin bangun. Semakin segar dianya." Menunjuk adiknya yang terlihat semakin tegak berdiri.


Chayra tidak bisa menahan tawanya. Malah sengaja menyentuh pelan adik suaminya lalu berlari keluar dari kamar.


"Astagfirullah..." Ardian berteriak histeris. "Chay... apa yang kamu lakukan.."

__ADS_1


Pak Ismail dan Bu Ainun menatap heran ke arah Chayra.


"Ada apa, Nak? Suami kamu kenapa itu?" Bu Ainun berjalan mendekati Chayra. Gadis itu langsung menutup pintu kamar.


"Suami kamu kenapa, Ayra?"


"Hehehehe.. tidak apa-apa, Ummi. Jangan tarik pintunya. Kak Ardian sedang kesakitan."


"Kamu apakan suami kamu?"


"Tidak apa-apa, Ummi. Kami cuma sedang bercanda. Ummi kembali saja rapat."


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menampakkan wajah Ardian yang lesu.


"Ehheheh, ada Ummi ternyata." Ardian salah tingkah. Rencananya dia mau menarik istrinya untuk masuk tadi. Namun, melihat Bu Ainun berdiri di depan pintu, dia jadi bingung mau melakuan apa.


"Kamu diapakan Ayra, Nak? Kenapa muka kamu pucat begitu?"


"Ehheheh, tidak, Ummi. Kami cuma sedang bercanda. Iya kan, Chay... hehehe..."


Chayra tersenyum meringis. "Iya, Ummi.."


"Ada apa itu, Ainun?" Pak Ismail berteriak dari ruang tamu.


"Ummi tinggal kalau begitu. Ummi kira ada apa-apa tadi." Bu Ainun menggeleng-geleng pelan seraya meninggalkan pasangan itu.


"Iya, Ummi, iya.."


Ardian langsung menarik tangan Chayra untuk masuk kembali ke dalam kamar.


"Apaan sih, lepas. Aku mau ke ruang tamu. Aku dipanggil Abah."


"Nggak percaya. Kamu harus bertanggung jawab. Adikku tidak mau tidur. Huh, untung saja Ummi tidak melirik ke bawah tadi."


Chayra cekikikan. "Ssstttt... jangan berisik. Nanti Ummi dan Abah kaget kayak tadi."


Ardian menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat. "Sebentar ya, Sayang. Iya, sebentar saja. Please.."


"Dua menit.."


"Mana cukup, Sayang."


"Yah, katanya tadi sebentar, kan?"


"Pakai waktu yang masuk akal dong, Sayang." Tangan Ardian sudah tidak bisa dikondisikan. Merayap kemana-mana seperti nyamuk yang haus darah.

__ADS_1


__ADS_2