Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
MUA amatiran


__ADS_3

Chayra menunggu suaminya pulang dengan raut wajah khawatir. Ardian bilang kalau rapat sudah selesai dan dia akan segera pulang. Tetapi saat dia menanyakan hasil rapat, Ardian menjawab nanti saat dia sudah sampai di rumah.


Adzra yang sedang berdiri bersandar di sofa depan mamanya memandang dengan heran. Anak itu seolah-olah meminta penjelasan dengan sikap mamanya yang seperti orang yang sedang kebingungan.


Chayra segera meraih tubuh putranya dan bergegas keluar rumah saat terdengar deru mesin mobil suaminya di Garasi. Chayra hanya tersenyum saat melihat bukan suaminya yang keluar, tetapi papa mertuanya.


"Oh cucuku..." Pak Sucipto merentangkan tangannya seraya berjalan mendekati Chayra dan Adzra. Chayra segera meraih tangan mertuanya dan menciumnya dengan khidmat. "Papi sehat?"


"Alhamdulillah, Papi sehat, Nak. Apalagi sekarang Papi merasa sangat sehat dan bahagia karena yang Papi impi-impikan selama ini terwujud." Pak Sucipto mengambil alih Adzra dari gendongan Chayra lalu merangkul pundak menantunya. "Suami kamu bisa seperti ini sudah pasti karena campur tangan kamu, Sayang. Suami kamu sukses seperti sekarang ini benar-benar di luar dugaan Papi."


Chayra hanya tersenyum karena bingung mau menanggapi dengan kalimat apa.


Pak Sucipto berbalik karena Ardian belum ada tanda-tanda akan muncul di belakangnya. "Ardian... kamu sedang apa di dalam?"


"Tunggu sebentar, Pi. Aku sedang menyelesaikan sesuatu."


"Cepat keluar! Istri kamu sudah tidak sabar ingin melihat kamu."


"Iya.. iya sebentar lagi."


Chayra mengerutkan keningnya. Apa yang sedang dikerjakan suaminya sehingga harus diselesaikan di dalam mobil. Ia beralih menatap mertuanya, bertanya dari sorot mata tetapi mertuanya hanya mengangkat bahu.


"Papi masuk saja duluan, biar aku yang menunggu Mas Ardian di sini."


"Apa tidak apa-apa kalau Papi masuk duluan?"


"Tidak apa-apa, Pi."


Pak Sucipto tersenyum lalu berlalu meninggalkan Chayra, masih dengan Adzra di gendongannya.


Chayra mendekati mobil suaminya lalu menggedor-gedor pintunya dengan pelan. "Kamu sibuk dengan apa, Mas."


Ardian yang terkejut langsung menyembunyikan sesuatu di tangannya lalu menurunkan kaca mobilnya. "B.. bukan apa-apa, Sayang. Aku akan keluar sekarang." Ardian mengusap wajahnya kasar seraya membuka pintu mobil.


Chayra membulatkan matanya saat melihat papan nama yang terpampang di dada suaminya. "M.. masya Allah, Mas... k.. kamu..." Suara Chayra tercekat di tenggorokan. Ia menutup mulutnya tidak percaya.


Ardian menelan ludahnya seraya tersenyum karena tidak bisa berkata-kata. Hanya tangannya yang terangkat untuk memeluk istrinya.


"Kamu terpilih, Mas?"


"I.. iya, Chay.. alhamdulilah... Itulah mengapa Papi ikut kemari untuk merayakan ini."


"Alhamdulillah.. Mas. Semoga kamu bisa menjaga amanah ini ke depannya."


"Aamiin.. Sayang.." Ardian mempererat pelukannya. "Ayo kita masuk ke dalam. Papi dan Adzra sudah menunggu kita di dalam. Nanti jam sembilan malam kita ada acara di hotel Queen."

__ADS_1


"Acara apa, Mas?" Chayra mendongak menatap suaminya.


"Acara syukuran perayaan pengangkatan General Manager baru. Yang akan hadir nanti para anggota Dewan Direksi dan para Manager saja. Hanya acara syukuran kecil-kecilan."


"Terus aku harus mempersiapkan apa?"


"Kamu hanya perlu menjadi pendampingku saja, Sayang. Tidak usah berdandan berlebihan seperti orang lain. Tetaplah jadi dirimu sendiri dan jangan mencoba untuk belajar menjadi orang lain."


"Terimakasih, Mas." Chayra menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


***********


Pak Sucipto pulang setelah pukul lima sore. Chayra dan Ardian melepas kepergiannya dengan senyuman.


"Mas, aku mau menghubungi Tina sebentar."


"Untuk apa?"


"Makanya tanganku dilepas dulu. Aku sedang membutuhkan teman yang perempuan sekarang, Mas."


"Makanya katakan dulu untuk apa, Sayang." Ardian masih menahan tangan Chayra.


"Aku butuh masukan dari sesama wanita untuk acara nanti malam. Aku tidak bisa hanya mendengar pendapat Mas Ardian saja. Pendapat orang itu perlu dipertimbangkan agar nanti aku tidak memalukan."


Ardian membuang nafas dengan kasar. "Aku kan sudah bilang, jadilah dirimu sendiri, Chay."


"Waktu Maghrib masih lama, Sayang. Adzra juga kan belum kamu mandikan."


"Kenapa tidak mandi sekalian dengan dia. Sekali-kali mandiin anak. Masa setelah naik jabatan kamu tidak mau mandiin anak lagi, Mas?"


Ardian langsung melototkan matanya. "Siapa bilang begitu, Chay? Aku akan tetap menjadi Ardian yang sekarang walaupun aku menjadi pemilik perusahaan sekalipun."


"Kalau begitu, sekarang aku mau minta tolong pada suamiku yang tampan plus mapan ini untuk memandikan calon penerusnya. Istrinya sedang ada kesibukan yang tidak bisa ditunda. Dimohon untuk kesediaannya." Chayra berlalu meninggalkan suaminya yang masih melongo bingung.


Serangkaian ritual sebelum shalat dilakuan oleh Chayra. Setelah Tina mengatakan bersedia untuk datang menolongnya untuk dandan, Chayra bisa bernafas lega. Ia menunggu sahabatnya itu datang setelah selesai shalat Maghrib. Sambil menunggu, ia memilih gaun malam yang sekiranya cocok dipakainya. "Aku kira-kira cocok pakai baju yang mana Mas ya.." Chayra berbalik menatap suaminya setelah capek milih sendiri. Ada empat paper bag yang diberikan Ardian padanya tadi. Ternyata Ardian berlama-lama di dalam mobil saat pulang dari Kantor tadi, karena sedang memisahkan empat gaun pesta muslimah yang dibelinya secara mendadak saat pulang dari Kantor.


Ardian menghela nafas berat seraya berjalan mendekat. "Pakai yang warna navy saja, Sayang. Atau terserah kamu saja. Kamu mau pakai baju apapun, akan tetap cantik."


Chayra mendengus. "Aku hanya meminta pendapat kamu, Mas. Aku sudah pasti cantik karena aku wanita. Kalau aku tidak cantik, kamu tidak akan kelepek-kelepek seperti sekarang."


"Hehehe.." Ardian hanya bisa tersenyum meringis.


Perhatikan mereka teralihkan saat terdengar suara nyaring dari handphone Chayra. Ardian yang berada lebih dekat dengan benda gepeng milik istrinya itu meraihnya. "Dari Tina.." ucapnya sambil menyerahkan kepada istrinya. Chayra langsung menerima panggilan itu.


"Ayra, gue udah dibawah. Tolong jemput gue ke bawah karena gue nggak tau kamar lho yang mana."

__ADS_1


"Oh iya.. iya.. aku turun sekarang."


"Mau kemana?" Ardian menahan tangan istrinya.


"Mau menjemput Mira di bawah. Lepas, Mas.. waktunya udah mepet ini."


"Galak amat.."


"Udah ah, malas ladenin kamu." Chayra menarik tangannya paksa.


Sekitar satu jam Chayra dirias oleh MUA amatiran. Akhirnya acara salon-salonan selesai juga. "Wah... walaupun aku bukan ahli MUA, tapi kamu terlihat semakin cantik dengan hasil riasan aku ini, Ayra. Kamu memang sudah cantik dari sononya juga sih. Tapi kalau dipoles seperti ini malah terlihat semakin bercahaya." Tina meraih lipstik berwarna merah menyala.


"Eh.. ngapain ambil lipstik yang warna itu?"


"Ini kan malam hari, Ayra. Kami harus pakai lipstik yang nyentreng biar kelihatan."


"Aku kan mau pakai cadar, Tina.."


"Astagfirullah.. aku kok sampai lupa." Tina menepuk jidatnya. "Hahahaha... kenapa nggak kepikiran dari tadi ya. Aku kan nggak perlu capek-capek mikirin warna lipstik kamu."


"Sayang... udah selesai belum, ini sudah jam tujuh."


Chayra dan Tina saling pandang mendengar suara Ardian. Mereka terlalu asyik main salon-salonan sampai lupa waktu.


"Udah, Mas.. Kamu mau ganti baju juga ya..."


"Udah di ganti di kamar sebelah, Sayang. Tinggal nunggu kamu aja."


"Mmm... iya, Mas, aku keluar sekarang." Chayra bangkit seraya menyingkap ujung gaunnya yang memanjang sampai menyapu lantai.


"Waaaah... kamu terlihat seperti Cinderella yang kabur dari acara pesta." Tina menilai penampilan Chayra yang terlihat sempurna di matanya.


"Ssstttt... no komen!" Chayra meraih cadarnya dan meminta Tina untuk mengikatkan talinya.


"Sayang.. udah be..." Ardian yang membuka pintu dengan paksa hanya bisa mengerjap-ngerjap melihat Cinderella di depannya. Spontan tangannya meraih pinggang ramping istrinya. "Kamu terlihat begitu sempurna, Sayang.." matanya menatap lembut ke manik mata istrinya.


"Terimakasih, Mas.."


"Hhmmm....hmmm... Coba, Pak, Bu dikondisikan dulu perasaannya. Ada orang lain di depan kalian yang masih jomblo."


"Astagfirullah, aku lupa, Tin. Sorry... Betewe... hasil riasan lho bagus juga walaupun lho MUA amatiran. Istri gue terlihat semakin cantik."


"Gue emang bukan ahlinya, tapi kalau hanya merias wajah kecil..." Tina menjentikkan jari kelingkingnya.


"Terimakasih atas bantuannya. Kami harus berangkat sekarang."

__ADS_1


"It's ok.. gue mau membereskan alat makeup ini dulu." Ardian dan Chayra meninggalkan Tina. Sedangkan Tina langsung membereskan alat makeup miliknya.


***********


__ADS_2