Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kejutan demi kejutan dari Pak Suami


__ADS_3

Ardian mengajak istrinya untuk shalat berjama'ah setelah melampiaskan semua rasa sesak yang dirasakannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Chayra yang mulai mengkhawatirkan putranya buru-buru mengajak suaminya untuk pulang.


"Kita shalat dulu, Sayang. Nanti kita terlalu telat shalatnya kalau harus pulang dulu. Belum lagi ada Adzra nanti. Takutnya kamu malah nggak bisa shalat lagi."


Sepersekian detik Chayra terdiam. Suaminya sudah tidak kaku lagi seperti tadi. "Tapi disini ada mukenah nggak, Mas?"


Ardian terdiam. "Mm... aku cari dulu di kamar Mami."


"Tunggu, Mas!"


Ardian kembali berbalik. "Ada apa?"


"Mami ada disini nggak?"


Ardian mengangguk. "Aku mengikutinya tadi pagi saat berangkat ke Kantor."


"Tapi, kenapa mobilnya tidak ada disini, Mas?"


Ardian membuang nafas kasar seraya menatap istrinya. "Mami sudah menjual mobil itu, Sayang. Nanti aku ceritakan semuanya. Kalau aku cerita sekarang, yang ada kita akan menunda shalat lagi." Ardian kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Chayra bergegas mengikuti suaminya. "Aku ikut, Mas."


"Ikut saja, nggak ada yang larang." Ardian hanya melirik istrinya sambil terus berjalan.


Ardian mengetuk pintu kamar Maminya perlahan. "Mami ... Mami ada di dalam kan? Aku mau pinjam mukenah untuk Chay."


Pintu terbuka, menampakkan wanita yang menjadi penghuni kamar. "Ada apa, Nak? Kapan kamu kemari?" Bu Renata keluar masih dengan memakai mukenah. Sepertinya dia baru selesai mendirikan shalat.


Melihat maminya seperti itu membuat Ardian melebarkan senyumannya. "Mm ... barusan, Mi, bareng Chay juga." Tangannya menunjuk Chayra yang berdiri di belakangnya.


Mendengar namanya disebut, Chayra menongolkan kepalanya dari belakang punggung suaminya. Ia tersenyum meringis seraya mendekati Bu Renata. "Maaf, Mi, Ayra langsung dibawa Mas Ardian ke dalam kamar tadi. Ayra juga tidak tau kalau Mami ada di sini."


Bu Renata tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, Nak. Ngomong-ngomong ada apa kalian mencari Mami?"


"Chay mau pinjam mukenah, Mi. Tadinya aku mengajaknya kemari niatnya sebentar. Tapi, kami malah keasyikan ngobrol, sampai tidak sadar kalau waktu Ashar sudah masuk sejak kami menginjakkan kaki di teras rumah."


"Tunggu sebentar, Mami ambilkan di lemari."


"Lihat, Chay.. Mami berubah sekarang. Mami mau shalat, Sayang."


"Alhamdulillah, Mas. Aku juga seneng lihatnya."


*******


Malam itu...


Chayra bersandar manja di dada suaminya. Saat pulang dari rumah lama tadi, Adzra di bawa oleh Bu Santi, sehingga sekarang mereka bisa bersantai.

__ADS_1


"Mas, nggak ada Adzra di rumah kok terasa sepi kayak gini." Chayra mengusap-usap dada Ardian.


"Ini yang kita butuhkan dari kemarin, Sayang. Kita butuh waktu berdua agar kita bisa bicara saling terbuka."


"Hmm ..." hanya itu jawaban Chayra. Kepalanya semakin menempel di dada suaminya.


"Chayra Azzahra.." Ardian tersenyum sambil membelai lembut kepala istrinya.


"Apa?" Chayra mendongak.


"Kamu meracuniku pakai apa sampai aku segila ini sama kamu? Atau kamu pakai pelet jaran goyang?"


"Hah ... apaan itu, Mas?! Mana aku tau yang begituan." Chayra memukul pelan dada Ardian.


"Terus kenapa aku sampai seperti ini, Sayang? Aku itu kayak di pelet sama kamu."


"Huh, aku pelet kamu pakai do'a, Mas. Habis shalat itu aku selalu menyebut namamu. Terus aku selalu meminta kebaikan untuk keluarga kecil kita, Mas. Mm.. saat aku belum mencintaimu dulu ... aku juga selalu berdo'a."


"Apa do'a yang kamu ucapkan?" Ardian menautkan alisnya menahan senyum sambil menarik pipi istrinya perlahan.


"Mm ... aku bilang gini," Chayra menegakkan duduknya. Menengadahkan tangannya seperti sedang berdo'a. "Ya Allah.. jika laki-laki ini memang jodoh terbaik yang engkau berikan untuk hamba, bukakan pintu hati ini agar bisa saling menerima dengannya."


"Benarkah itu yang selalu kamu katakan dalam do'a?"


"Mm.." Chayra mengangguk mantap. "Kita makan malam dulu, Mas." Chayra beringsut turun dari ranjang.


"Astagfirullahal'adzim, Mas. Kalau mau yang itu, bukannya kenyang malah bertambah lapar nanti. Kita kan harus mengeluarkan banyak tenaga untuk itu."


Ardian tertawa puas melihat ekspresi kesal istrinya. "Ayo kita makan kalau begitu. Nanti setelah makan kamu harus memenuhi kewajiban kamu sebagai istri."


"Huh, tadi sore ngomong ngawur ngelantur nggak jelas. Sekarang malah minta jatah."


"Untuk mengobati perasaan yang gamang tadi, Sayang."


Chayra kembali menatap suaminya. "Oh iya, Mas. Nanti kalau Kak Ghibran datang lagi ke Kantor kamu, kamu telepon saja aku."


"Untuk apa?!" Ardian bertanya sinis. "Kamu mau ketemuan sama dia."


"Eh, kok malah su'udzon." Chayra yang sudah melangkah langsung berbalik, ia menepis lengan suaminya lalu kembali duduk. "Jangan berkata yang aneh-aneh. I don't like it.." Chayra menarik pipi Ardian gemas. Ia bangkit lagi, tetapi tangannya ditahan Ardian.


"Mau kemana?"


"Aku lapar, Mas. Kita makan malam dulu."


"Kamu turun saja duluan, aku mau ke kamar mandi sebentar." Ardian melepaskan genggaman tangannya.


Makan malam berlangsung hening karena tidak ada Adzra yang biasanya berisik. Usai makan malam, Ardian masuk duluan ke dalam kamar. Chayra ikut naik setelah Bi Idah datang untuk mencuci bekas makan malam mereka.

__ADS_1


Saat masuk ke dalam kamar, Chayra terkejut mendapati suaminya sedang memakai jaket. "Loh, kok pakai jaket, Mas? Memangnya kamu mau tidur dengan gaya seperti itu?"


"Siapa bilang? Ini baru jam delapan. Kita keluar yuk!"


"Kemana ...?"


"Kemana aja. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan pakai motor."


Chayra masih berdiri ditempat. Dia terlihat bingung dengan rencana dadakan suaminya. "Yakin mau pakai motor, Mas?"


"Kenapa nggak?"


"Terus motornya mana?"


"Ada di depan. Kamu siap-siap aja." Ardian berkata sambil menatap istrinya dari cermin.


"Kamu aneh deh, Mas. Perasaan dari tadi aku mendapat kejutan terus." Jawab Chayra sambil berlalu.


__________


Motor gede milik Ardian melintas dengan gagah di jalan raya yang masih padat penggunanya.


"Mas, kita mau kemana sebenarnya?" Chayra masih terus bertanya karena belum mendapatkan jawaban yang pasti dari suaminya.


"Nggak akan kemana-mana, Sayang. Cuman ngajakin kamu jalan-jalan. Akhir-akhir ini aku selalu pulang malam sehingga nggak ada waktu untuk kamu."


Motor Ardian berhenti di parkiran pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. "Loh, ngapain ke Mall, Mas?" Chayra masih saja terlihat bingung.


"Aku kan sudah bilang, kita butuh waktu untuk berdua. Dari kemarin aku sibuk terus. Aku juga mau menyampaikan sesuatu sama kamu." Jawab Ardian. Tangannya sibuk membukakan helm istrinya.


Ardian POV...


Aku ingin tertawa melihat ekspresi istriku. Sejak kami pulang dari rumah Mami, dia berulang kali terkejut karena semuanya serba mendadak. Aku memang tidak pernah cerita semuanya. Berawal dari rumah yang aku tebus, mobil mami yang aku jual, aku membeli motor gede ini juga tanpa sepengetahuan dia.


Hah, rasanya plong setelah mengatakan semuanya pada Chay. Iya ... walaupun dia terlihat syok. Malam ini aku mengajaknya ke Mall. Eh, dia malah mendengus. Katanya tidak ada yang perlu dibeli karena semuanya masih ada.


Wanita ini memang berbeda. Tentunya beda luar dan dalam dari kebanyakan wanita pada umumnya. Wanitaku ini tidak suka shoping. Membeli sesuatu pasti hanya seperlunya saja. Mungkin itu yang membuat uang tabungannya sampai sebanyak itu. Dia masih muda, tapi uang yang dimilikinya lebih dari uang bos-bos besar.


Kini baru aku mengerti dengan ungkapan yang sering kudengar. Seringkali kekayaan itu tersembunyi dibalik kesederhanaan. Aku akui istriku kena dengan ungkapan itu. Aku mengaku kalah jauh darinya kalau itu masalah pengelolaan uang. Tapi, kalau itu masalah usaha, dia tidak takut mengeluarkan uang. Jiwanya yang seperti ini mirip sekali dengan sifat kakek Akmal. Jiwa pengusaha yang turun temurun.


Aku menggandeng tangannya memasuki Mall. Dia tersenyum sambil melirik tangannya. Aku juga jadi merasa gimana gitu ... tadi sore aku ngegas ngomong sama dia gara-gara ulah mantan kekasihnya. Chay memang tidak bersalah dalam hal ini. Tapi keegoisan Pak Ghibran yang membuatku sakit hati. Aku rasanya ingin menyalahkan wanitaku ini, kenapa dulu dia mau berkenalan dengan laki-laki itu.


Tapi, aku tidak berhak menghakimi masa lalu seseorang. Aku juga memiliki masa lalu yang kelam. Istriku ini bahkan tidak pernah mempermasalahkan masa lalu itu. Kok aku yang sok-sokan ingin menghakiminya gara-gara punya mantan egois.


Aku tersenyum sendiri. Perlahan aku mencium kepalanya setelah kami memasuki Mall. Hal itu membuatnya terkejut. Spontan tangannya menepis lenganku. Matanya menatapku dengan kesal. "Mas ... ini tempat umum." Ucapnya dengan suara lirih.


Aku mengerlingkan mataku menggodanya.

__ADS_1


********


__ADS_2