
Akhirnya pemeriksaan bisa dilewati oleh Chayra, walaupun harus melewati berbagai drama yang dilakukan oleh Alesha dan Tina. Dua teman Chayra itu benar-benar bersikeras untuk ikut masuk ke dalam ruangan. Perawat berulang kali menjelaskan kalau konsentrasi Dokter akan terganggu jika terlalu banyak orang yang masuk.
"Terus ini orang tuanya kenapa boleh masuk?" Tina menunjuk Bu Renata yang ikut masuk ke ruang pemeriksaan.
Perawat itu menarik nafas dalam. Ia harus menambahkan tingkat kesabarannya menghadapi dua wanita yang sangat cerewet di depannya. "Beliau orang tua Pasien, Dek. Jadi Dokter mengizinkan beliau masuk. Sedangkan Adek yang dua karena terlalu berisik, takutnya tidak muat di dalam ruangan dan sudah pasti akan mengganggu konsentrasi Dokter."
"Sudahlah, Tina. Ayo kita tunggu saja disini." Alesha yang sudah menyerah akhirnya menarik tangan Tina.
"Ssstttt... tunggu dulu." Tina kembali berbalik menatap Perawat di depannya. "Kami berdua tidak gendut kok, Sus. Satu kursi untuk di duduki berdua juga bisa."
Perawat itu berusaha tersenyum. "Tapi masalahnya, kursinya cuman ada dua di dalam. Satu untuk Pasien dan satu lagi untuk yang menemaninya. Karena tadi yang menemaninya dua orang, sudah pasti salah satu dari mereka harus berdiri."
"Udah ah, kamu ini ngeyel deh dibilangin. Tunggu saja disini.." Alesha kembali menarik tangan Tina, kali ini dengan cara lebih keras agar gadis itu mengikutinya.
"Eh, tunggu Dek."
Tina dan Alesha langsung berbalik mendengar panggilan Perawat itu.
"Ada apa lagi, Sus. Apa kita boleh masuk sekarang karena Suster kasihan?"
"Tetap tidak boleh. Saya cuma mau bilang, kalau Adek mau masuk ke ruang Pemeriksaan, Adek harus hamil dulu. Sekalian jadi Pasien biar nggak ada yang larang."
Alesha dan Tina saling pandang lalu melengos seraya berlalu.
Perawat itu hanya menahan senyum melihat ekspresi dua gadis itu.
"Ngeremehin banget sih, tu orang?!" Tina menunjuk Perawat itu dengan ekor matanya.
"Sebenarnya dia nggak ada niat seperti itu. Tapi, lho terlalu banyak omong tadi, makanya sekalian di sekak mati biar lho nggak ada kata-kata lagi untuk melawan."
"Sebel gue.."
"Coba lho nurut tadi pas gue ajak kabur dari hadapannya."
"Ini kan gue udah nurut."
"Nurut sih nurut. Tapi lho nunggu dia habis kesabarannya dulu baru lho nurut."
"Ew..." Tina hanya memutar bola matanya kesal.
Chayra keluar beberapa menit setelah perdebatan mereka berakhir.
"Cepet banget keluarnya?" Alesha langsung bangkit begitu melihat Chayra berjalan dengan di papah suaminya.
__ADS_1
"Pemeriksaannya memang sebentar, tapi nunggu obatnya yang lama."
"Kan bisa beli di luar biar nggak menghabiskan waktu. Apotek masih banyak kok di luaran sana."
"Tapi masalahnya aku nggak suka berbelit-belit. Sekalian bayar pemeriksaan sekalian tebus obat. Obat disini paten semua. Kalau di luar aku nggak tau."
Tina menghela nafas. "Gitu aja sensitif amat sih."
"Udah sana, kalian tunggu aku di luar. Biar aku sendiri yang menunggu obatnya. Bantuin istri gue jalan itu dia udah kewalahan. Nggak ada rasa kasihan banget sih jadi teman." Ardian berlalu setelah melihat Tina dan Alesha menggamit tangan istrinya.
Hampir satu jam menunggu di dalam mobil, barulah terlihat Ardian yang berjalan mendekat.
"Lama amat sih?!" Tina langsung protes saat Ardian membuka pintu mobil di depan tempat duduknya. Dari tadi dia ngoceh terus karena capek menunggu. Sedangkan petumpang yang lain geleng-geleng mendengar ocehan Tina yang tidak ada ujungnya.
"Gue kan udah bilang dari tadi, kalau yang lama itu pas pengambilan obatnya. Soalnya Apoteker nya istirahat untuk shalat Maghrib dulu tadi, makanya agak lama. Udah ah, cerewet banget sih lho. Nggak usah ikut apa tadi biar nggak ada yang berisik terus." Ardian mengambil tempat duduk di samping istrinya.
"Kita shalat Maghrib dulu kalau begitu. Pak belok ke Masjid raya di depan ya..." Santi langsung memberi instruksi pada Pak Supir tanpa menunggu persetujuan dari yang lain. Kebanyakan mereka juga dalam hati masing-masing ingin shalat terlebih dahulu agar perasaan lebih tenang saat akan melanjutkan perjalanan. Kecuali Mami dan Papinya Ardian yang memiliki perasaan yang berbeda. Gaya hidup yang berbeda membuat mereka tidak terlalu taat beragama. Tapi, untuk menolak ajakan besannya secara langsung tidak mungkin mereka lakukan. Akhirnya mereka berdua ikut mengangguk menyetujui ajakan Bu Santi.
Tina terlihat lebih bersemangat setelah mereka selesai mendirikan shalat. Omelan yang dari tadi keluar karena terlalu lama menunggu ternyata ikut terbuang bersama dosa-dosanya saat mengambil air wudhu tadi. "Kita mau membeli apa dulu nih..?" Ucapnya sambil mendorong stroller belanja.
"Kak, aku mau belok ke toko buku dulu. Nanti telepon aku kalau Kakak sudah mau pulang." Bian yang dari tadi diam seribu bahasa memisahkan diri dari gerombolan wanita. Ternyata dari tadi dia sudah risih mendengar Tina yang nyerocos terus. Untung saja dia membawa headset untuk menutup telinganya dari keberisikan yang benar-benar mengusik telinga.
Pak Sucipto dan Bu Renata juga ikut pamit. Mereka berdua belok ke salah satu restoran karena ada janji dengan seseorang.
"Yess..." Tina langsung mengepalkan tangannya begitu Pak Sucipto dan Bu Renata berlalu.
"Hehehe... jelas senanglah, Mas. Aku jadi lebih bebas ngomongin apapun yang gue ingin ucapkan. Tadi merasa diintrogasi kalau mau ngomong macam-macam."
Plak..!!
Alesha memukul kepala Tina dari belakang.
"Aw... lho kebiasaan deh, suka banget mukul kepala gue." Tina menepis lengan Alesha kesal.
"Mulut lho itu, Tina. Gue udah muak banget denger lho ngomong terus dari tadi. Pak Sucipto dan Bu Renata aja geleng-geleng terus dari tadi. Mungkin mereka juga memilih berpisah karena telinga mereka sakit mendengar lho ngomong terus. Mana cepet dapat jodoh kalau lho tidak bisa mengontrol ucapan lho."
Tina melongo mendengar ucapan sepupunya. "Apa iya, Allah menahan jodohku gara-gara aku banyak omong?" Mengerjap-ngerjap menatap Alesha sambil mengayun-ayunkan tangannya.
"Iya.. sudah ah, kita kemari mau menemani Ayra belanja untuk keperluan saat bersalin nanti. Nanti kita bahas lagi masalah jodoh lho yang tersangkut di tiang listrik." Alesha berlari kecil mengejar Chayra yang sudah beranjak meninggalkan mereka.
Dua jam berkeliling membuat tenaga mereka terasa terkuras habis. Chayra langsung melempar tubuhnya di atas ranjang saat sampai rumah. Memang memiliki rasa kepuasan sendiri saat terpenuhi apa yang diinginkan. Tapi, berkeliling terlalu lama ternyata membuat tubuhnya membutuhkan istirahat.
Ardian yang melihat kelakuan istrinya langsung berjalan mendekat. "Chay, shalat dulu, Sayang. Kamu itu kenapa malah tidur." Ardian malah ikut merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Nanti dulu, Mas sebentar saja. Ini bulu mata aku menyatu yang bawah sama yang atas. Kayak ada lem yang membuatnya lengket."
Ardian berbalik memeluk tubuh istrinya. "Aku juga ngantuk banget. Teman kamu yang satu itu benar-benar banyak omong. Benar kayaknya kata Alesha tadi. Dia itu terlalu banyak omong, makanya jodohnya nggak turun-turun." Mata Ardian ikut terpejam. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk membangunkan istrinya jam tiga nanti.
********
Malam itu..
Barang belanjaan yang sudah dibeli tiga hari yang lalu masih tersimpan di sudut ruangan. Chayra belum ada waktu untuk merapikannya karena suaminya selalu saja melarangnya untuk membereskan semuanya sendiri.
Setelah selesai makan malam, Bu Santi beranjak ke ruang keluarga, Chayra dan Bian membuntuti Ibunya dari belakang. Ardian menyusul belakangan karena ada telepon dari atasannya yang membuatnya harus sedikit menjauh dari yang lain.
"Mm... Sayang bantu aku menyiapkan koper untuk besok ya.."
Chayra langsung menoleh ke arah suaminya yang baru ikut bergabung. "Loh, Mas Ardian memangnya mau berangkat besok? Kenapa nggak bilang dari kemarin. Aku sih udah menyiapkan pakaian untuk tiga hari ke depan. Sudah di susun di dalam lemari, tinggal dimasukkan ke dalam koper."
"Bantu saja suami kamu, Nak. Mungkin dia harus menyiapkan yang lain untuk persiapan." Bu Santi langsung menyahut.
"Yang Ibu katakan sangat benar. Aku harus menyiapkan beberapa berkas untuk Pak GM."
Chayra menautkan alisnya. Melihat ekspresi suaminya, dia sedikit curiga. Tetapi, dia akhirnya bangkit untuk merapikan koper suaminya.
Sampai di dalam kamar, Chayra langsung mengambil koper kecil yang tersimpan di sebelah lemari pakaiannya. "Ini kok kopernya sudah diisi. Mas...." baru saja akan berbalik, Chayra terkejut karena suaminya sudah berada di belakangnya. Ardian langsung menggiring istrinya ke ranjang.
"Mas, ini maksudnya apa?"
"Aku butuh kamu malam ini." Ardian langsung menyambar bibir istrinya.
Ting....!
Notifikasi pesan masuk membuat dua orang yang sedang menikmati waktu bersama itu menghentikan aktivitasnya.
Ardian berdecak. "Siapa sih, ganggu orang aja." Ardian cemberut melihat istrinya yang bangkit dari ranjang. "Nanti saja lihatnya, Sayang. Kita selesaikan yang sudah terlanjur ini dulu." Menahan tangan Chayra yang sudah siap melangkah.
"Sebentar saja, Mas."
"Aku besok mau berangkat ke luar kota. Hanya malam ini malam terakhir aku. Aku nanti tiga malam disana. Nggak kebayang deh, aku nggak akan bisa tidur nyenyak kayaknya."
Chayra mengurungkan niatnya untuk mengambil handphonenya lalu kembali duduk di samping suaminya. "Kita kan baru pemanasan, belum juga ngapa-ngapain. Aku hanya takut kalau ada hal penting, Mas. Kita juga terlalu cepat mengurung diri. Ini baru jam setengah sembilan."
"Aku sengaja mengajak kamu cepat masuk. Kalau diam di ruang keluarga, nanti malah molor waktunya sampai jam sepuluh kamu pasti masih betah ngobrol sama Ibu."
"Oh, jadi tadi modus bilang kopernya belum disiapkan karena hal ini?!"
__ADS_1
"Eheheh..." Ardian cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Habisnya kamu sering lupa waktu kalau sudah bersama Ibu.."
*********