Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Berdiskusi dengan Dodit


__ADS_3

Dodit melongo seraya menelan ludahnya melihat daftar tagihan hutang di meja Ardian. "Ini.. ini beneran tagihan hutang nyokap lho, Ar?"


Ardian mengangguk tanpa ekspresi. "Itu nominal uang yang wajib aku miliki setiap bulan, Dit. Itu tagihan perbulannya. Kalau totalnya, aku belum bisa memikirkan sampai sejauh itu."


"Terus dengan kebutuhan rumah tangga kamu?"


"Aku hanya memberikan sepuluh juta kepada Chay. Di dalamnya sudah termasuk gaji Asisten dan Satpam di rumah. Belum lagi bayar air, bayar listrik, kebutuhan Adzra dan pengeluaran setiap hari."


"Kan anak lu masih minum ASI, Ar. Apa yang akan dikeluarkan, aku rasa tidak ada yang khusus untuknya."


"Adzra pakai Pampers, Dit. Belum lagi MP-ASI-nya. Kamu kira semuanya tidak di beli?"


"Kalau itu tidak akan menghabiskan uang satu juta kok."


"Tetap saja membutuhkan uang. Bayar listrik saja sampai satu juta kata Chay."


"Hahahah... ternyata lu jadi GM, tapi lu nggak punya duit. GM kere, hahaha..." Dodit benar-benar merasa terhibur mendengar penderitaan Ardian.


Ardian hanya mendengus sambil menyandarkan punggungnya di sofa.


"Kamu tau nggak Ar, sepuluh tahun mendampingi Pak Randi, tak pernah sekalipun dia mengeluhkan soal uang. Dia fine fine aja tuh. Terus, aku sering sih dengar dia teleponan masalah uang. Tapi, dia santai aja 'nanti aku transfer' itu jawabannya. Lah, lu ini yang aneh. Gaji lu besar, tapi istri kok sampai mengeluarkan uang pribadi. Kalau nggak salah Pak Randi memberi jatah khusus untuk istrinya itu dua puluh juta, Ar. Itu hanya untuk pribadi. Kalau untuk sehari-hari beda lagi uangnya."


"Kenapa kamu malah membanding-bandingkan aku dengan Pak Randi, Dit? Ya jelaslah dia bisa kayak gitu, dia kan jadi GM tanpa tanggungan. Aku, jadi GM tapi nggak pernah digaji sesuai dengan posisiku."


Dodit hanya terdiam. Hanya matanya yang masih menatap daftar hutang di tangannya.


"Kira-kira utang itu bisa habis tidak dengan gajiku setahun ke depan?"


"Mm..." Dodit melirik Ardian lalu kembali menatap kertas di depannya. "Kayaknya tidak, Ar. Kalau dua tahun sih kayaknya bisa. Soalnya kan kamu harus menafkahi keluarga juga." Dodit meletakkan kertas daftar hutang, menatap Ardian seraya menarik nafas panjang. "Kamu ini terlalu fokus menghadapinya. Kenapa tidak dibawa santai aja biar tidak kepikiran. Hidup di dunia itu harus dinikmati karena hanya sekali."


"Aku tau itu, tapi jumlahnya yang fantastis ini yang membuatku tidak bisa santai. Apalagi ini tanggung jawab aku."


"Kenapa tidak menjual habis saham di Perusahaan biar kamu tidak terlalu berat untuk membayar semua ini. Kalau kamu menjualnya, setidaknya tujuh puluh persen dari hutang ini akan terbayar."


Ardian menggeleng. "Aku tidak mau menjual habis hasil jerih payah Papi, Dit."


"Tapi tanggung jawab kamu akan berkurang kalau ini sudah berkurang." Dodit menunjuk kertas di depannya. "Kamu bisa melunasi setidaknya lima dari semua daftar ini. Jadi beban yang kamu pikirkan setiap bulan akan berkurang. Itupun yang akan lunas yang memiliki jumlah over dosis. Jadi kamu hanya perlu memikirkan yang kecil-kecil saja setiap bulan."

__ADS_1


Ardian menatap Dodit. Sahamnya yang lima persen bernilai tujuh milyar. Seandainya dia menjual itu akan banyak keringanan untuk beban hutang ini. Tapi, dia harus kehilangan harta satu-satunya yang dia miliki.


"Pikirkan lagi, Ar. Aku siap membeli saham itu kalau kamu sudah siap."


Ardian tersenyum kecut. "Kemungkinan saham itu tidak akan sampai jatuh ke tangan kamu. Kamu tau kan, kalau Dewan Direksi semuanya ingin memperkuat posisi. Jika aku akan menjualnya, mereka akan berebutan untuk membelinya. Apalagi saat ini penghasilan perusahaan sedang berkembang pesat karena kerjasama dengan Investor dari Tiongkok itu." Ardian membuang nafasnya dengan kasar lalu melirik ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat. Seharusnya mereka sudah kembali ke Kantor. "Kita kembali sekarang, Dit. Kita sudah telat."


"Tidak ada agenda penting siang ini. Tapi, kita harus taat pada aturan. Let's go..." Dodit bangkit seraya meraih jasnya yang tersampir di sandaran sofa.


"Tunggu sebentar, aku mau pamit sama Mami dan Chay dulu."


"Aku tunggu di mobil."


"Mmm..." Ardian mengunci pintu ruang kerjanya setelah Dodit keluar. Maminya tidak boleh sampai masuk ke ruangan itu sebelum semua masalah kelar.


"Ngebahas apa sih sama Pak Dodit sampai lupa waktu, Mas?"


"Eh," Ardian tersentak kaget dan langsung berbalik. "Kamu ngagetin aja Sayang. Kamu bilang apa tadi?" Ardian meraih tubuh istrinya dan menjatuhkannya ke dalam pelukannya.


"Kamu ngobrol dengan Pak Dodit lama sampai lupa waktu. Membahas apa emangnya?"


"Mm... biasa Sayang, masalah hutang itu. Nanti kita ngobrol panjang lebar kalau aku sudah pulang kerja." Ardian mengedarkan pandangannya. "Adzra mana, Sayang?"


"Terus Mami?"


Chayra menggeleng. "Nggak tau, Mas. Pas aku mencarinya untuk makan siang tadi, Mami sudah tidak ada di kamarnya."


"Kamu sudah tanya Bi Idah."


"Sudah, Mas. Bi Idah bilang dia melihat Mami keluar memakai mobilnya. Tapi Bi Idah nggak sempat bertanya Mami mau kemana."


Ardian termenung. "Tadi pagi Mami minta uang sama aku."


"Terus kamu memberinya, Mas?"


Ardian menggeleng. "Kamu tau sendiri kan, Sayang. Ekonomi keluarga kita sedang tidak stabil saat ini."


"Tapi kasihan Mami, Mas."

__ADS_1


"Mami itu semakin dikasihani akan semakin menjadi-jadi. Apa dia minta uang juga sama kamu?"


Chayra mengangguk dengan takut-takut.


"Terus kamu memberinya?"Kembali Chayra mengangguk. Ardian melepaskan pelukannya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Pantesan aja Mami bisa keluar, kamu memberinya uang. Coba besok kalau dia minta lagi kamu bilang tidak ada. Apa kamu terasa berat untuk berbohong walaupun itu demi kebaikan?"


Chayra menunduk dalam karena merasa bersalah. "Aku... aku cuma tidak enak sama Mami, Mas."


"Mami akan terus-terusan minta uang kalau kamu memberinya. Atau... kalau kamu percaya sama aku, mulai besok ATM kamu aku yang bawa. Semua kartu yang ada di rumah akan aku bawa ke Kantor. Jadi, kalau Mami minta uang, kamu tinggal bilang ATM dibawa aku. Jadi kamu tidak akan berbohong. Nanti untuk belanja harian, aku kasih cash ke kamu."


"Kalau untuk kebutuhan harian dua ratus ribu aja cukup, Mas."


Ardian tersenyum lembut sambil menangkup pipi istrinya. "Maaf merepotkan kamu. Keluargaku yang bermasalah kamu juga yang ikut kena imbasnya. Aku berangkat dulu ya..."


Chayra mengangguk sambil terus menatap mata suaminya. Tatapan seperti itu membuat Ardian seperti tertantang untuk melakukan lebih. Perlahan, ia semakin mendekatkan wajahnya. Dan... penyatuan bibir pun tidak bisa dihindari.


"Khhmmm...khmmm..."


Duar...!!


Chayra langsung menarik diri dari pelukan suaminya. Ia langsung berjalan menaiki anak tangga tanpa menatap suaminya sedikitpun. Hal itu membuat Ardian ingin tertawa.


Ardian berbalik menatap Dodit yang sedang berdiri di dekat pintu. Pria itu pura-pura menatap ke lain arah. "Ngapain kamu masuk kembali, Dit. Aku kan sudah bilang, kalau aku cuma mau pamit sama Chay sebentar."


"Sebentar dalam hitungan kamu itu berapa menit sih, Ar? Aku sudah dua puluh menit nganggur di mobil, tapi kamu tidak ada tanda-tanda akan keluar dari rumah."


"Masa sih?" Ardian langsung menatap jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat empat puluh lima menit. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum salah tingkah. "Maaf ya, Dit. Tadi aku mencari Mami, tapi ternyata Mami lagi keluar karena Chay memberinya uang."


"Loh, ngapain diberi uang. Utang Bu Renata sudah melebihi kapasitas utang orang normal, Ar. Seharusnya dia tidak usah diberi jatah dulu. Biar dia hanya makan dan tidur diam di rumah. Kalau di kasih keluar seperti ini bukannya meringankan beban malah beban semakin berat nantinya."


"Chay yang memberinya karena Mami minta katanya. Tadi pagi juga sempat minta sama aku, tapi aku bilang belum gajian. Eh, malah cari uang ke Chay lagi. Nyesel aku bilang kalau istriku banyak uang."


"Udah, lain waktu kita bahas lagi. Kita harus menyusun rencana biar Bu Renata bisa segera tobat. Udah tua juga, masih aja seneng bikin masalah." Dodit membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi. "Andaikan Pak Sucipto tidak berjasa padaku, aku pasti sudah mengundurkan diri dari kantor itu. Tapi, pesan beliau agar aku tetap mendampingi putranya selalu terngiang-ngiang."


"Terimakasih, Dit."


"Hmmm... makanya lain kali jangan suka menghabiskan waktu untuk berpamitan. Kita harus on time agar pekerjaan kelar tepat waktu."

__ADS_1


"Hehehe..." Ardian cengengesan.


......................


__ADS_2