
"Aku mohon lepaskan aku. Anda sudah kelewatan.." Chayra menangis tersedu-sedu. Ia ingin menyembunyikan auratnya yang sudah terpampang bebas. Namun dia tak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Ardian hanya tersenyum sinis. "Ternyata kamu montok dan menarik juga." Ardian menatap Chayra tanpa berkedip. Tangannya menggenggam erat jilbab Chayra karena menahan gejolak di dadanya.
"Hu.. hu.. hu.. punyamu bahkan jauh lebih besar dari miliknya Amira." Ardian berdecak kagum menatap keindahan tubuh Chayra. Tangannya sudah ingin menyentuh wajah Chayra.
"Jangan sentuh aku!" Chayra berteriak histeris. "Lepaskan aku.. lepaskan aku.. huuu.. huuu... Ibu.. tolong Ayra.. Ya Allah lindungi hamba dari manusia ini." Rasa perih di perutnya tidak ia hiraukan lagi. Dia hanya ingin melindungi dirinya. Jangan sampai pria bringas di depannya sampai merenggut kehormatannya. Kakinya menendang-nendang ke sembarang arah.
"Ck..! Lho jangan berisik apa. Teman-teman lho ada di bawah. Gue nggak mau acara balas dendam gue sampai terganggu." Memegang kaki Chayra agar diam dan tak berontak.
Mendengar ucapan Ardian kalau teman-temannya ada di bawah, Chayra semakin berteriak. Berharap suaranya bisa di dengar oleh siapapun yang bisa mendengarnya. "Alesha, Amira, Tina, aku disini. Tolong aku...!"
Ardian menangkupkan tangan kirinya di pipi Chayra. Mencengkram kuat jari jemarinya di pipi gadis itu. "Lho semakin di larang semakin berani. Lho berteriak sampai lidah lho keluar aja, tidak akan ada yang bisa mendengar suara lho." Menghempaskan wajah Chayra dengan kasar.
"Aku mohon, lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan ikut campur dalam urusan anda lagi."
"Cih! sudah terlambat. Gue udah terlanjur sakit hati banget sama lho." Mata Ardian masih saja jelalatan menatap tubuh Chayra. "Gue kan udah bilang dari awal, jangan mencari masalah sama gue. Nah, karena lho tidak pernah mengindahkan ucapan gue itu. Sekarang waktunya lho merasakan yang gue bilang dulu." Kembali mendekati Chayra. "Lho harus dibuat jera agar kedepannya lho tidak berani macam-macam lagi sama gue. Cup!" Mendaratkan satu kecupan di bibir Chayra.
"Berhenti bertindak semau anda! Aku bukan wanita murahan yang bisa anda sentuh semau anda! Aku punya harga diri!" Chayra kembali menendang-nendangkan kakinya. Sangat berharap tendangannya itu bisa mengenai tubuh Ardian. Air matanya kembali tumpah. Benar-benar merasa hancur karena ulah pria bejat yang berdiri dengan angkuh di depannya.
"Lho kenapa nendang-nendang kayak gitu?! Nantang gue lho? Minta gue membuka pakaian lho yang bawah juga."
"Jangan lakukan itu! Aku mohon, jangan lakukan itu."
"Hahahaha.. muka lho kayak orang kerasukan kalau ketakutan seperti ini." Ardian mendekati lemari pakaiannya. Mengambil sebuah kain hitam kecil yang sudah terlipat rapi.
"Lho harus dibuat diam agar tidak banyak tingkah." Kembali mendekati Chayra, menutup mulut dan hidung gadis itu dengan kain hitam tadi.
Chayra memberontak beberapa saat. Namun, ia lemas dan tak sadarkan diri setelah beberapa kali tarikan nafas.
Hal itu membuat Ardian tersenyum penuh kemenangan. Bibirnya langsung mendarat di bibir Chayra. "Nah, kalau lho diam seperti ini, kan gue bisa beraksi semau gue." Memperhatikan lekat wajah gadis yang sudah pingsan di depannya. "Mm.. bibir lho manis juga," tersenyum kecut.
Mata Ardian menelisik setiap senti tubuh Chayra. Hampir tidak bisa berkedip menatap keindahan tubuh wanita yang sudah berhasil dia buka pakainya setengahnya. Ia mendaratkan ciuman di beberapa bagian tubuh Chayra. Matanya tiba-tiba gelap karena dibutakan nafsu. Dan..
Hal yang tidak diinginkan itu pun terjadi. Ardian dengan beringas memangsa tubuh Chayra. Perlahan, dia membuka tali yang mengikat tangan gadis itu. Melancarkan aksinya, melampiaskan semua kekesalannya pada gadis itu dengan menikmati tubuhnya. Semua aksinya berjalan lancar. Tidak ada yang berhasil menggagalkannya, walaupun di depan rumahnya sudah ada ketiga teman gadis yang ditidurinya itu.
*********
__ADS_1
Pagi itu, Hari masih gelap karena orang baru saja selesai melaksanakan shalat Subuh di Masjid.
Namun, suara ketukan pintu memaksa sang pemilik rumah untuk bangkit membukakan pintu untuk tamu mereka.
"Siapa yang bertamu sepagi ini?" Pak Ismail bangkit untuk membukakan pintu. Bu Santi, Bu Ainun dan Zidane ikut bangkit.
"Bu Santi, buka pintunya. Ya Allah, kenapa lama sekali sih?!" Bu Sulis menggedor pintu dengan keras. Terdengar jelas kalau dia sedang panik.
Pak Ismail yang menggapai pintu lebih dulu langsung membuka pintu. "M.. maaf, Bu, kami di ruang tengah tadi."
"Ya Allah, Pak Ismail si Ayra, Pak. Si Ayra ada.. di.. bawah.. pohon, Pak.."
Pak Ismail tertegun dengan ucapan Bu Sulis. Begitu juga dengan Bu Santi dan juga Bu Ainun yang sudah berdiri di belakang Pak Ismail. Sedangkan Zidane langsung sujud syukur.
"Alhamdulillah... Ya Allah..." Zidane bangkit.
Bu Sulis menggaruk-garuk kepalanya seperti orang yang bingung. "Tapi, anu, Pak, Bu.."
Bu Santi tiba-tiba mendekat dan mengguncang tubuh Bu Sulis. "Putri saya dimana, Bu. Dimana Ayra?"
"Anu, Bu itu.. apa namanya.. Ayra.. Ayra.. di temukan suami saya.. yang.. baru pulang dari.. Masjid, di bawah pohon besar di sebrang jalan di sebelah selatan rumah saya, Bu." Cerita Bu Sulis sambil mengusap air matanya. "Tapi... kondisinya.. terlihat sangat mengkhawatirkan.."
Zidane adalah orang yang merasa paling bersalah atas kejadian ini. Dia yang mengabaikan Chayra malam itu dan menolak permintaan Abahnya untuk mengantar Chayra.
Bu Ainun menjerit histeris saat melihat keadaan Chayra. Sedangkan Bu Santi tertegun, menatap nanar keadaan putrinya yang tidak memakai penutup kepala. Rambutnya berantakan dengan luka lebam di ujung bibirnya. Kancing gamisnya pun dipasang asal-asalan. Siapa pun yang melihatnya sudah bisa menebak, kalau gadis itu adalah korban pemerkosaan.
Pak Ismail bergerak cepat, langsung membopong tubuh gadis malang itu. Berjalan dengan cepat seperti orang yang berlari. Mumpung hari masih gelap dan belum banyak warga yang melintas. Lampu senter dari handphone yang di genggamnya menjadi penunjuk jalan.
Pak Ismail membaringkan tubuh Chayra di sofa ruang tamu. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Namun, ia tidak pedulikan hal itu. Bu Santi langsung ambruk memeluk putrinya. Air matanya tidak terbendung lagi. Menangis sesenggukan dalam posisi memeluk Chayra yang belum ada tanda-tanda akan sadar.
Zidane menatap nanar sepupunya itu. Meremas rambutnya untuk melampiaskan rasa yang entah, rasa apa yang sedang dia rasakan saat ini. Matanya memerah dan air mata menetes begitu saja tanpa ia sadari. "Maafkan Kakak, Dek," ucapnya lirih.
"Kita bawa ke kamar saja. Pakaiannya harus diganti," ucap Bu Ainun di sela-sela tangisnya.
"Biar aku yang membawanya." Zidane bangkit dan langsung membopong tubuh adik sepupunya itu tanpa menunggu persetujuan dari yang lain. Menatap tubuh Chayra yang bisa dia lihat. Untuk pertama kalinya dia melihat adiknya itu tanpa jilbab. Air matanya kembali menetes.
Melihat tanda-tanda merah di leher Chayra membuat Zidane kembali meneteskan air mata. Ia memejamkan matanya. Pikirannya benar-benar kacau membayangkan kejadian yang menimpa adik sepupunya itu.
__ADS_1
Membaringkan tubuh Chayra dengan perlahan. "M.. maafkan aku, Dek." Menenggelamkan wajahnya di pinggir ranjang Chayra.
Bu Santi terus menerus melafadzkan istighfar untuk menenangkan pikirannya yang benar-benar kalut. Dia harus kuat untuk putrinya. Kalau dia lemah seperti ini, siapa yang akan menguatkan Chayra nanti. Dia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk yang akan dialami putrinya ke depannya.
Perlahan, ia mengusap air matanya. Mendekati lemari Chayra dan mengambil sebuah jilbab instan untuk menututpi aurat putrinya yang terpampang bebas.
"Maafkan Ibu yang tidak bisa menjagamu, Nak. Maafkan Ibu..." Air mata menetes begitu saja. Mencium dahi putrinya sambil menahan isak tangisnya.
"Abah, Pak Sulaiman dan Bu Sulis duduk di ruang tamu. Tidak ada yang menemani mereka." Bisik Zidane di telinga Pak Ismail.
"Abah akan keluar sekarang."
Pak Sulaiman dan Bu Sulis sudah bersiap untuk pulang saat Pak Ismail sampai di ruang tamu.
"Lho, Pak Sulaiman dan Bu Sulis mau kemana?"
"Eh, Pak Ismail." Pak Sulaiman mengurungkan niatnya dan kembali duduk. "Bagaimana keadaan Ayra, Pak?"
Pak Ismail menghela nafas berat. "Dia belum sadar, Pak."
"Apa sebaiknya Pak Ismail bawa ke Rumah Sakit saja, Pak?"
Pak Ismail diam. Kembali terdengar helaan nafas. "Kami mau melihat keadaannya dulu. Seperti yang Pak Sulaiman lihat tadi. Keadaannya sangat kacau. Mudah-mudahan dia tidak mengalami trauma atas kejadian ini."
Pak Sulaiman tersenyum, kagum dengan ketenangan Pak Ismail menghadapi cobaan seberat ini.
"Mm.. kenapa Pak Ismail tidak lapor polisi sejak awal?" Tanya Bu Sulis.
"Sebenarnya, Santi ingin lapor polisi kemarin. Tapi, saya menolak karena Ayra baru hilang beberapa jam. Saya niatnya ingin menyelesaikan masalah ini secara baik-baik tanpa melibatkan pihak kepolisian. Tapi, ya.. seperti yang Pak Sulaiman dan Bu Sulis lihat sekarang. Semua sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki."
" Apa ada orang yang Pak Ismail curigai sebagai pelakunya?"
"Belum ada bayangan sama sekali, Pak. Mudah-mudahan Allah mempermudah urusan ini."
"Aamiin, Pak. Lapor saja ke polisi sekarang, Pak."
"Kami akan mencari jalan keluar terbaik dulu."
__ADS_1
"Masalah ini harus dibawa ke jalur hukum, Pak. Kasihan Ayra.. mudah-mudahan dia tidak mengalami trauma." Timpal Pak Sulaiman.
*******