Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Air bisa memadamkan api


__ADS_3

Sore menjelang malam, Chayra mulai sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Minggu malam selalu menjadi malam yang dinanti-nantinya. Biasanya Ardian akan pulang lebih cepat.


Tadi siang Ardian menghubunginya, kalau dia akan pulang bersama Dodit. Hal itu membuatnya harus mempersiapkan makan malam sebelum waktu Maghrib tiba. Tidak lupa ia menghubungi Tina. Kedatangan Dodit malam ini tidak luput dari rencana Ardian beberapa minggu yang lalu, untuk memperkenalkan Dodit dengan Tina.


Tapi...


Chayra duduk di depan Bi Idah yang sedang mengupas bumbu dapur. Ia menatap handphonenya dengan kesal. Berulang kali ia mencoba menghubungi Tina, tetapi temannya itu tidak menjawab panggilannya.


"Ada apa, Non?" Bi Idah tidak tahan untuk tidak bertanya karena melihat majikannya yang seperti orang gelisah.


Chayra meletakkan handphonenya lalu menatap Bi Idah. "Mas Ardian mau membawa temannya malam ini. Aku disuruh untuk menghubungi Tina, Bi. Tapi, Tinanya tidak ada respon sama sekali. Orangnya lagi sibuk kayaknya.."


"Apa Non Ayra sudah mencoba menghubunginya ke nomor telepon yang ada di rumahnya?"


Sepersekian detik Chayra merenung. "Mm.. belum sih, Bi. Tapi..." Chayra kembali menatap Bi Idah.


"Dicoba saja dulu, Non."


Chayra meraih kembali handphonenya. Sambil menggendong Adzra, ia berlalu dari hadapan Bi Idah. Hatinya terasa gusar karena. sampai jam segini dia belum bisa menghubungi Tina.


Ia mencoba menghubungi Alesha terlebih dahulu. Kakak iparnya itu harus bisa hadir juga malam ini. Sejak Alesha menikah dengan Zidane, temannya yang satu itu jadi jarang berkumpul karena banyaknya peraturan yang harus ditaatinya.


"Assalamu'alaikum, Lesha.."


"Wa'alaikumsalam, Ayra. Tumben nih menghubungiku, ada apakah gerangan?"


"Aku mau mengajak kamu makan malam di rumah. Tina juga, Sha. Tapi, sampai sekarang orangnya tidak bisa dihubungi."


"Tina lagi asyik berkebun, Ayra. Aku baru saja pulang dari rumahnya."


"Eh, sejak kapan jomblo sejati itu suka dengan tanaman. Perasaan dari dulu dia itu paling anti kalau masalah kotor-kotor. Maksud aku memegang tanah untuk kotor-kotoran."


"Nggak tau juga. Aku kan jarang ke rumah Papa. Tapi, halaman belakang rumahnya sudah penuh dengan pohon cabai, tomat, lobak, wortel dan banyak lagi. Sampai gatal tangan aku ingin memetiknya tadi."

__ADS_1


"Jadi pengen kesana kalau begini ceritanya."


"Ngomong-ngomong ada acara apa sampai mengundang kami makan malam segala?"


"Ng... nggak ada, cuma pingin kumpul-kumpul aja. Kak Zidane udah pulang?"


"Nggak ngantor dia. Di Kantor nggak ada kerjaan katanya. Aku ke rumah Papa diantar Mas Zidane, tapi dia langsung pulang karena ada email masuk."


"Kamu mau nginap di rumah Papa?"


"Tidak, aku mau menunggu jemputan. Sebenarnya Mama juga mau pulang hari ini, tapi aku tidak diizinkan untuk menginap sama Mas Zidane." Alesha menghela nafas berat. Menikah dengan Zidane membuatnya harus menaati banyak peraturan yang dibuat suaminya. Karena suaminya tumbuh di lingkungan Pesantren membuatnya biasa hidup dengan peraturan.


"Kok nggak cerita dari kemarin kalau Mama mau pulang?"


"Kita kan jarang saling kontak sekarang. Aku sibuk dan kamu juga sibuk."


"Hmm... tapi kamu bisa kan ke rumah malam ini?"


"Tanya Abang kamu dulu. Eh, kayaknya kalau kamu yang mintakan izin, bakal cepet deh."


Ardian menahan tangan istrinya saat Chayra akan beranjak pergi. "Mau kemana kamu? Jangan kemana-kemana, duduk sini!" Ardian menepuk sofa di sebelahnya. "Kamu keasyikan ngobrol sampai tidak sadar suami kamu pulang. Ngobrol sama siapa sih? Kenapa kamu bilang suami orang sensitif tadi? Jangan suka mengomentari rumah tangga orang, Sayang. Bagaimana kalau orangnya tidak biasa bercanda dan menganggap omongan kamu serius."


"Astagfirullahal'adzim, Mas. Aku tadi ngomong sama Alesha. Terus yang aku sebut sensitif itu Kak Zidane. Tau Kak Zidane, kan?"


Ardian tersenyum seraya menarik kepala istrinya sampai bersandar di dadanya. "Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu ngomong sama dia."


"Ini kan aku ngomong, Mas. Tadi kan kamu bertanya sebelum aku menjelaskan apapun. Makanya jangan suka curigaan jadi orang." Chayra menarik diri sambil merengut kesal.


"Aku jadi gemes lihat tampang kamu kayak gini." Tangan Ardian mulai jahil mencubit pipi istrinya.


"Mas, please deh.. nanti Adzra mengira kamu KDRT sama aku. Lihat tuh tampang anak kamu udah menyek-menyek mau nangis dia."


Ardian menatap putranya yang duduk di sofa tempat Chayra duduk tadi. Ia tersenyum seraya mendekati putranya yang sudah membuang dotnya. Anak itu langsung memukul-mukul wajah Ardian saat Ardian mendekatinya. "Astagfirullahal'adzim, Nak.. sakit..."

__ADS_1


"Hahaha... makanya jangan suka ganggu aku kalau tidak mau kena amukan Adzra." Chayra duduk bersedekap menikmati pemandangan itu. Setelah lama melihat suaminya berusaha menenangkan Adzra, barulah dia teringat sesuatu.


"Mas, katanya Pak Dodit mau ikut pulang bersama kamu, terus mana orangnya?"


"Dia sibuk. Rencana batal karena Dodit ada acara dengan Nyonya Sekretaris menyebalkan."


Chayra menautkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Kenapa menatapku seperti itu, Chay? Kenapa menanyakan Dodit? Kenapa emangnya kalau dia tidak bisa ikut kemari? Gelisah kamu, memikirkan dia?"


Chayra langsung melototkan matanya. "Astagfirullah, Mas. Aku paling nggak suka kamu ngomong sembarangan kayak gitu. Apalagi ngomongnya pakai emosi." Chayra memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia mencoba menetralkan kadar emosi yang sudah mulai naik. "Astagfirullahal'adzim...." Chayra kembali menatap suaminya. "Maaf, Mas. Aku meninggikan suaraku tadi. Aku... aku hanya terkejut mendengar omongan kamu."


Ardian hanya terdiam. Sepertinya dia juga sedang menahan amarah. Tidak tau juga kenapa emosinya tiba-tiba naik saat mendengar istrinya menanyakan Dodit. Tidak bisa dipungkiri kalau dia merasa ada sesuatu yang aneh saat mendengar pertanyaan istrinya tadi. "Maafkan aku.." akhirnya hanya kata itu yang terucap. Rasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk membuatnya sering emosi tanpa sebab. Akhir-akhir ini dia sering sekali pulang dengan wajah kuyu. Tidak sekali dua kali juga sering marah tanpa sebab. Walaupun masalah hutang maminya sudah kelar, tidak membuat pekerjaannya lebih ringan. Dia justru harus lebih giat lagi bekerja untuk membayar kembali sahamnya yang dipegang Pak Akmal. Iya.. walaupun Pak Akmal tidak menuntut apapun darinya. Tetapi dia harus memikirkan itu karena itu miliknya.


Chayra menarik nafas dalam. "Ada masalah lagi di Kantor, Mas?"


Ardian kembali terdiam. Pertanyaan itu selalu dilontarkan istrinya kalau dia sering emosi tanpa sebab seperti ini. Terdengar sangat tidak masuk akal kalau suaminya marah hanya karena dia menanyakan Dodit. Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau Dodit akan pulang bersamanya dan ikut makan malam di rumah. Dia juga yang meminta istrinya untuk menghubungi Tina, karena dia ingin mengenalkan Dodit pada Tina.


Chayra masih menunggu jawaban suaminya, walaupun Ardian terlihat enggan untuk bicara. Sekian menit menunggu, tetapi suaminya masih diam. Chayra akhirnya mendekati suaminya. Ia mencium pipi kanan suaminya, disambung ke pipi kiri dan berakhir di bibir. "Maaf kalau aku lancang, Mas. Aku sudah berulang kali memperingatkan kamu. Masalah Kantor jangan sampai dibawa ke rumah. Lihat tuh, anak kamu masih sangat kecil kalau harus sering-sering mendengar emosi yang meledak-ledak. Kamu jarang wudhu' ya, sekarang, kenapa mudah sekali tersulut emosi?"


"Aku selalu shalat, Chay. Kenapa malah su'udzon sih?!" Ardian menahan tangan istrinya yang masih memegang pipinya.


"Aku nggak bilang kamu jarang shalat, Mas. Aku bertanya kamu jarang wudhu, makanya tidak bisa mengontrol emosi. Tau nggak, kenapa kita disuruh wudhu' kalau emosi?" Chayra menatap manik mata suaminya.


Ardian hanya tersenyum menunggu kelanjutan kata istrinya. Hatinya mulai terasa sejuk.


"Setan itu diciptakan dari api, Mas. Hati kita terasa panas karena ada setan yang sedang menghasut kita untuk terus berbuat buruk. Kalau kita menjaga wudhu', insya Allah setan tidak bisa menghasut kita, karena air akan memadamkan api." Chayra masih menatap lembut suaminya.


*********


Assalamu'alaikum Guys...


Maaf Othor tidak bisa up story dari kemarin. Ada tetangga yang mengadakan syukuran. Sebagai tetangga yang baik, Othor pergi bantu-bantu walaupun kebanyakan nganggur disana..😁😁😁

__ADS_1


Salam hangat dariku...🤗🤗🤗


__ADS_2