Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Handphone Amira hilang


__ADS_3

Dua jam mengelilingi mall tanpa ada yang berhasil dibeli. Empat gadis itu duduk ngos-ngosan di food court mall yang terletak di lantai dasar.


"Eh, kita sudah dua jam keliling tempat sebesar ini. Kita kok, tidak beli apa-apa ya. Huh, capek gue.." Tina meneguk air mineral dingin di depannya.


"Kalian mau makan apa?" Alesha mengangkat buku menu dan membacakan daftar makanan.


"Samain aja semua.." Timpal Amira


"No no no.. harus beda-beda. Kalau sama semua, kita tidak bisa saling cicip- cicip nanti." Tina merebut buku menu dari tangan Alesha.


"Ayra, lho mau makan apa?" Bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku menu.


"Apa-apa aja deh. Kalian aja yang pilih." Chayra malah sibuk dengan handphonenya.


"Eh, lho malah sibuk dengan calon suami. Empat hari lagi lamaran. Puasa lah saling menghubungi. Itu tangan nggak bengkok apa, nulis terus dari tadi."


"Cuma berkirim pesan aja. Kalau nelpon, video call sudah tidak di bolehkan sejak tiga hari yang lalu."


"Hah, siapa yang larang lho?"


"Tradisi dari daerah asal calon ibu mertua."


Alesha, Tina dan Amira saling pandang keheranan.


"Amazing...!" Ucap tiga gadis itu serentak.


"Hebat, lho. Yakin, kuat nggak mendengar suara calon suami lho?" Amira mengambil botol minum Chayra dan meneguknya sampai tandas.


"Insya Allah, kuat akunya. Kuat banget malah. Eh, kok air minum aku..." Chayra menatap nanar botol minumnya. Belum sempat ia minum, airnya malah sudah dihabiskan oleh dua temannya.


Amira tersenyum meringis. "Sorry, gue haus banget. Nanti deh gue beli kalau lho mau minum."


"Nggak apa-apa kok. Sedekah sama orang yang kehausan.." Chayra tersenyum manis.


"Wiihh, keren. Lho memiliki tingkat keikhlasan yang sangat tinggi." Amira merogoh handphonenya dari dalam tas selempang kecil yang selalu dipakainya kemana-mana. "Lho, handphone gue mana nih?"


Chayra beralih menatap Amira. Mengangkat bahu saat melihat temannya itu masih sibuk mencari.


"Ini beneran nggak ada handphone gue." Mengeluarkan seluruh isi tasnya.


Alesha dan Tina ikut menatap Amira. Mereka mengangkat bahu seperti yang dilakukan Chayra.


"Lho kan ke toilet tadi. Mungkin aja lho tinggalin di sana." Ucap Alesha seraya menyantap makanan yang sudah terhidang di hadapannya.


"Gue kan nggak bawa tas tadi. Kan gue tinggalin di sini."


"Mungkin lho nggak bawa, tapi lho nggak ingat." Timpal Tina.


Amira berpikir. Apa mungkin ia tidak bawa handphone. Tapi, seingatnya saat menjemput Chayra tadi, dia sempat melakukan panggilan dengan Chayra. "Mm... nggak, gue bawa kok. Gue kan sempat nelpon dengan Ayra sebelum gue sampai rumahnya."


Tiga temannya mengangkat bahu serentak.


"Sudah, nanti kita cari bersama-sama. Kita habiskan makanan ini dulu. Nanti malah keburu dingin gara-gara mencari handphone."


"Mm.. gini aja. Ayra, lho coba hubungi nomor handphone gue. Kalau aktif berarti handphone gue baik-baik aja. Tapi, kalau tidak aktif, berarti handphone gue entah dimana sekarang."

__ADS_1


"Lacak aja keberadaannya."


"Coba hubungi saja dulu. Nggak usah ribet-ribet."


Chayra mengangguk mengikuti instruksi dari Amira. "Nomor kamu aktif kok, Mir. Ini, kamu bisa dengar sendiri." Chayra meletakkan handphonenya di dekat telinga Amira.


"Itu berarti handphone lho masih aman. Sudah, kita makan dulu. Nanti kita pikirkan lagi nasib handphone lho." Ucap Tina.


Amira hanya mengangguk pasrah. Walaupun raut wajahnya mulai terlihat gelisah. Minggu kemarin dia dibelikan handphone, sekarang malah dia sudah menghilangkan benda itu.


* * *


Malam itu usai mendirikan shalat Isya, Chayra ke ruang keluarga karena ada yang ingin disampaikan Pak Ismail kepadanya. Namun, handphonenya tiba-tiba berbunyi. Ia urungkan niatnya dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas tempat tidur.


Ayra, lho keluar sebentar jemput gue. Gue ada didepan rumah lho.


Chayra menautkan alisnya membaca pesan itu. "Ngapain Amira datang kemari malam-malam." Ucapnya lirih. Mengetik balasan untuk Amira.


Kenapa kamu tidak langsung mengetik pintu saja. Terus ucap salam beres, kan?"


"Eh, tadi siang perasaan handphonenya hilang. Alhamdulillah lah kalau dia sudah menemukannya." Ucapnya lagi.


Ting..!


Chayra kembali menatap handphonenya.


Gue takut, please jemput gue. Kak Ardian sedang mencari gue.


"Ya Allah, kenapa sih, tu cowok seneng banget deh ganggu Mira. Maunya apa sih. Huh.."


Di sebrang sana, si pengirim pesan sedang berdecak kesal karena Chayra belum juga mau keluar.


Gue udah menemukannya. Please, gue nggak mau Kak Ardian melihat gue. Gue di seberang jalan di bawah pohon besar. Gue mohon, Ayra.


Chayra menautkan alisnya. Amira biasanya tidak pernah seperti ini. Gaya bahasanya juga sedikit berbeda.


Ini kamu kan, Mira?


Ting...!


Ya ampun, masa lho nggak percaya sih. Ini gue Amira. Lho cepetan dong, Ayra. Gue takut banget nih..


Chayra menarik nafas dalam. Berpikir sejenak sebelum akhirnya mengiyakan permintaan Amira.


Iya, aku keluar sekarang. Tunggu disana dan jangan kemana-mana.


Chayra meletakkan handphonenya. Namun, ia meraihnya kembali. Jarak pohon itu sekitar seratus meter dari rumahnya. Itu berarti dia akan berjalan agak jauh. Kalau dia bawa handphone, akan lebih mudah menghubungi siapa saja kalau terjadi sesuatu.


"Duduk sini, Nak." Bu Santi menepuk sofa di sebelahnya saat melihat Chayra datang dan hanya berdiri seperti orang bingung.


"Eh, anu, Bu. Ayra mau jemput Amira sebentar."


"Kemana?" Bu Santi sedikit terkejut.


"Iya, Nak. Inikan sudah malam." Timpal Bu Ainun.

__ADS_1


"Nggak jauh kok, Ummi. Amira menunggu Ayra di depan."


"Lho, kenapa tidak langsung masuk aja. Biasanya juga dia selalu langsung kemari." Ucap Bu Santi


"Malu katanya, Bu. Mungkin karena ada Kak Zidane. Dia kan kagum sama Kak Zidane.


"Lho, kok aku?" Timpal Zidane.


"Lha.. kan Kak Zidane laki-laki. Amira itu wanita. Wajar dong, kalau dia kagum sama Kak Zidane."


Zidane menyebikkan bibirnya. "Namanya juga orang tampan. Iya.. dimana-mana pasti banyak yang kagum."


"Hoek.. tampang lempeng kumisan kayak gitu."


"Eh, eh, pakai acara hina kumis segala. Ini nih, harga mahal pada diri Zidane. Kumis tipis membuatnya terlihat semakin tampan." Menaik turunkan alisnya sambil mengusap-usap kumis tipisnya.


Chayra menggeleng-geleng pelan. Berdebat dengan Zidane tidak akan ada ujungnya kalau dia tidak mengalah. "Biar Ayra jemput Amira dulu. Kak Zidane tunggu disini. Jangan masuk ke kamar sebelum Ayra kembali."


"Hmm..." jawab Zidane pendek.


"Iya sudah, Nak. Hati-hati, ya. Panggil-panggil nama temanmu itu kalau dia tidak terlihat." Ucap Pak Ismail.


"Kan Ayra cuma mau ke depan, Abah. Di depan juga masih ramai kok. Ini juga baru jam sembilan." Zidane ikut menimpali.


Chayra tersenyum lembut. "Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Chayra celingukan setelah keluar dari rumah. Menatap pohon besar yang di maksud Amira dari depan gerbang rumahnya. "Tidak terlalu jauh. Insya Allah, aman.." ucapnya mencoba menguatkan diri. Dengan mengucap basmalah, ia berjalan pelan mendekati pohon yang dimaksud Amira.


Chayra menautkan alisnya heran. "Kok tidak ada orang," ucapnya pelan setelah sampai. "Mira, Mira, kamu dimana. Ini aku udah datang. Ayo, kita ke rumah sekarang."


Chayra semakin merasa aneh. Tidak ada sahutan dari siapapun. Tempat itu benar-benar terlihat sepi.


"Amira, Amira, kamu dimana?" Panggilnya lagi. Berbalik, mencoba mencari keberadaan Amira.


Namun, ia dikejutkan oleh kemunculan sesosok pria bertopeng yang sudah berdiri di belakangnya.


Chayra langsung mundur. Matanya terbelalak, dadanya berdegup kencang karena dia benar-benar takut. "M.. Mira, k.. kamu j.. jangan bercanda, M.. Mir."


Pria dibalik topeng hanya tersenyum sinis.


"S.. s.. siapa.. k.. kamu.. s.. sebenarnya. Dimana Amira?"


Pria itu kembali tersenyum sinis. Berjalan semakin mendekat pada Chayra.


Baru Chayra akan berteriak minta tolong.


Pria itu membungkam mulutnya dengan sebuah kain hitam. Beberapa saat Chayra meronta berusaha melepaskan diri. Namun, tiba-tiba pandangannya gelap dan tubuhnya lemas.


Pria itu tersenyum kecil melihat Chayra yang lemas tak berdaya. "Bawa masuk ke dalam mobil." Perintahnya pada dua temannya yang keluar dari semak-semak.


Pria itu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya. Tersenyum sinis ke arah Chayra yang baru saja di masukkan ke dalam mobil.


"Pembalasan baru saja akan dimulai," ucapnya pelan sambil tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


* * *


__ADS_2