Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Terungkap


__ADS_3

Husein diam beberapa saat menunggu jawaban dari Alesha dan Tina. Menatap mereka berdua secara bergantian berharap ada yang buka suara. akhirnya dia hanya menghela nafas berat karena tidak ada yang mulai bicara. "Dia sering mengendap-endap keluar rumah di tengah malam." Melanjutkan cerita untuk memancing mereka bicara mungkin itu lebih baik. "Aku beberapa kali mendapatinya membuka cadar dan pakaian tertutupnya di tengah jalan saat dia keluar malam. Aku bingung bagaimana harus bersikap padanya. Saat aku membentaknya, seketika itu juga air matanya akan luruh. Aku paling tidak kuat melihat wanita menangis. Saat aku melihat wanita bercadar tadi saja, aku merasa bagaimana gitu. Itulah mengapa aku bertanya siapa wanita itu."


"M.. maafkan kami, Mas Husein." Tina akhirnya bisa keluar suaranya.


Husein tersenyum lemah pada Tina. "Kenapa Amira menyakiti wanita tadi? Apa Amira ada masalah dengan wanita itu?" Husein ternyata masih penasaran dengan tingkah istrinya tadi. Amira terlihat begitu kasar di matanya saat dia melihat istrinya mencengkram dagu Chayra.


Tina melirik Alesha, meminta persetujuan untuk mulai menceritakan kejadian sebenarnya pada Husein. Alesha hanya memberikan anggukan kecil. Baginya, Husein berhak tau banyak tentang istrinya.


"Mm... wanita bercadar tadi adalah Chayra sahabat kami juga."


Husein mengerutkan keningnya. "Sahabat kalian.. Tapi Amira tidak pernah menceritakan tentang dia padaku. Dia hanya menceritakan dua orang temannya yaitu Alesha dan Tina. Dia tidak pernah memperkenalkan gadis bercadar sebagai salah satu temannya."


"Itu karena persahabatan kami sedang mengalami sedikit masalah." Jawab Tina kembali melirik Alesha. Yang dilirik hanya menunduk menatap layar handphonenya.


Alesha enggan untuk ikut menjelaskan. Dia memilih untuk menyibukkan diri dengan handphonenya.


"Terus siapa laki-laki yang tadi menarik tangan wanita itu?" Kembali Husein melontarkan pertanyaan.


"Dia suaminya Ayra sekaligus mantan kekasih Amira." Alesha langsung mengangkat wajahnya. Dia sepertinya harus ikut bicara karena Tina terlihat ragu-ragu untuk menjawab.


"Maksud kamu?" Husein memperbaiki posisi duduknya.


"Tapi Mas Husein harus mendengarkan semua yang aku katakan. Aku tidak mau ada kata tidak percaya saat aku bercerita nanti."


Husein mengangguk menyetujui permintaan Alesha. Akhirnya Alesha menceritakan secara detail rincian kejadian. Dia bahkan sampai menceritakan kejadian pemerkosaan Chayra. Kepergian Amira dan kebencian Amira yang memuncak setelah mengetahui kalau Ardian jatuh cinta pada Chayra.


Husein hanya tercengang mendengar cerita Alesha. Dia tidak menyangka kalau serumit itu cerita persahabatan itu. Yang membuat Husein lebih heran lagi. Sikap Chayra yang meminta Ardian untuk menikahinya.


"Itulah cerita yang sebenarnya. Amira masih mengharapkan Kak Ardian sampai sekarang. Dia bahkan melakukan berbagai cara untuk membuat pasangan itu berpisah. Tapi, sekuat apapun manusia berusaha, hanya Allah yang berhak menentukan hasilnya. Menurut saya, Amira hanya mempersulit kehidupannya dengan memikirkan kehidupan orang lain. Seandainya dia berbenah diri dan menjalani dengan baik kehidupannya bersama Mas Husein, dia tidak akan segila ini jadinya."


Husein mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak menyangka kalau wanita yang selama ini menjadi istrinya merupakan wanita yang gagal move on. "Orang tuaku sangat membanggakan menantunya itu." Husein tersenyum getir. "Aku bahkan tidak tega untuk menceritakan kalau aku bukanlah orang pertama yang menyentuhnya. Aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka seandainya mereka mendengar cerita ini."

__ADS_1


Alesha hanya tersenyum menanggapinya. Dia tidak tau mau memberikan respon apa atas kekecewaan yang dirasakan Husein. "Baik, kami rasa tidak ada yang perlu kami jelaskan lagi pada Mas Husein. Kami harus pulang karena ada suami yang menunggu kepulangan istrinya di rumah. "Ayo, Tina kita pulang. Mari, Mas... assalamualaikum.." Alesha langsung menarik tangan Tina.


"Eh, tapi kan Mas Husein belum selesai ngomong sama kita.." Tina berusaha melepaskan genggaman tangan Alesha yang mencengkram pergelangan tangannya.


Alesha menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Tina dengan tatapan kesal. "Tugas kita sudah selesai, Tina. Kita sudah menjelaskan pada Mas Husein semua yang ingin dia tau tentang istrinya. Selanjutnya itu terserah dia. Kita pulang sekarang atau gue tinggalin lho di sini sendirian." Kembali menarik tangan Tina. Tidak perduli lagi dengan umpatan yang keluar dari mulut sepupunya itu. Baginya, pulang dan merebahkan tubuh di atas ranjang lah hal yang paling dia inginkan sekarang.


*********


Ardian melepas cadar yang menutupi wajah istrinya. Mengusap sisa-sisa air mata yang masih mengalir di pipinya. "Maafkan aku bersikap kasar tadi." Menangkup pipi Chayra yang selalu menghindari tatapan matanya. "Aku.. aku tidak suka kamu terlihat lemah di depan Amira, Sayang."


"Kak Ardian terlalu berlebihan. Amira tidak menyakitiku tadi."


Ardian mendengus. Dia sudah melihat bukti nyata, tetapi istrinya masih saja berniat untuk melindungi sahabatnya. "Tidak menyakiti kamu bagaimana maksudnya? Dagu kamu sampai merah gini. Ini juga ada bekas kukunya."


Chayra meringis saat Ardian mengusap bekas kuku Amira yang sedikit mengeluarkan darah. "Pelan-pelan, Mas. Sakit tau nggak.."


"Heh, tadi katanya kamu tidak disakiti. Kalau sudah seperti ini apa namanya? Apa kamu mau menunggu sampai ada robekan baru kamu akan mengakui kalau kamu disakiti." Ardian meninggikan suaranya seraya melengos kesal. "Bagaimanapun pendapat kamu tentang dia, tetap saja aku tidak suka kamu melakukan pembelaan disaat dia salah."


Chayra hanya terdiam karena tau dirinya salah. "Tapi aku baik-baik saja, Mas." Kembali Chayra bicara, tetapi kali ini dengan suara pelan dan menundukkan kepalanya.


Ardian kembali mengusap wajahnya dengan kasar saat terdengar ketukan di pintu kamar. "Ada apa, Dek?" Tanya Ardian saat melihat Bian berdiri di depan pintu.


"Ada Mas Gondrong menunggu Kak Ardian di ruang tamu. Cepetan keluar, aku nggak mau menemaninya duduk lagi kayak kemarin. Orangnya nggak asyik banget."


Ardian mengerutkan alisnya. "Mas Gondrong siapa maksud kamu?"


"Tuh, teman Kakak yang kemarin datang pas malam-malam itu. Yang tampangnya sok friendly padahal wajahnya sangar kayak kucing garong."


Ardian termenung sejenak. "Astagfirullah, Kate maksud kamu?"


"Eh, iya aku kok lupa namanya. Padahal bahasa Inggrisnya kucing, hehehe..." Bian berlalu setelah menertawakan kebodohannya.

__ADS_1


Ardian menggeleng-geleng pelan. Kemarin istrinya mengatakan kalau nama temannya seperti nama sepatu. Sekarang adik iparnya malah mengatakan nama temanya adalah bahasa Inggris kucing. "Chay, aku keluar sebentar, ada Kate di luar."


"Iya.." jawab Chayra pendek. Berjalan mengikuti suaminya dari belakang.


"Loh, kenapa ikut? Kamu diam saja di kamar. Nanti aku obati luka kamu itu."


"Ini cuma bekas kuku, K.. Mm.. Mas." Ternyata lidah Chayra masih kaku untuk memanggil suaminya dengan sebutan itu.


"Tetap harus diobati agar tidak infeksi. Sini tangannya aku genggam." Ardian meraih tangan istrinya tanpa memperdulikan lirikan tajam Chayra.


Mereka terkejut saat sampai di ruang tamu. Ternyata tamu malam itu bukan saja Kate, tetapi Husein suaminya Amira juga ada di sana.


Husein langsung berdiri saat melihat kedatangan pasangan suami istri itu. Matanya malah fokus pada tangan Chayra yang digenggam erat suaminya. "S.. selamat malam. Maaf kedatangan saya kemari mengganggu waktu kalian."


"Tidak seperti itu. Silahkan duduk.." Ardian tersenyum ramah mempersilahkan Husein duduk kembali. Sementara dia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Husein, diikuti oleh Chayra.


Lama mereka diam. Kate yang menemani Husein akhirnya mendekati Ardian. "Maaf, Ar. Gue nemuin dia di tempat biasa. Dia kayak yang kebingungan tadi saat mendapati istrinya sedang mabuk berat. Dia langsung bertanya padaku tentang kalian. Katanya, Alesha dan Tina sudah menjelaskan tentang hubungan diantara kalian."


Ardian menautkan alisnya. Mendorong tubuh Kate sedikit menjauh. Kembali menatap Husein yang sepertinya menunggu penjelasan darinya. "Maaf Pak Husein, apa ada yang bisa kami bantu sehubungan dengan kedatangan Pak Husein kemari."


"Saya hanya ingin klarifikasi dari anda. Saya mendapatkan cerita dari Alesha dan Tina kalau anda pernah memiliki hubungan spesial dengan istri saya Amira."


Ardian hampir tertawa mendengar pertanyaan Husein. Dia seperti laki-laki cemburu karena istrinya lebih mencintai orang lain. "Pertanyaan anda tidak salah. Tapi, saat ini saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan istri anda. Aku bahkan tidak tertarik sama sekali padanya. Allah sudah memberikan aku wanita yang seribu kali lebih baik daripada dia. Aku bukan orang gila yang mau menukar bidadari surga dengan batu sungai seperti dia."


Husein melongo mendengar jawaban Ardian.


"Aku memang memiliki masa lalu yang buruk dengan istri anda. Tapi, hal itu adalah hal yang paling aku sesali bahkan mungkin sampai aku mati."


"Maksud anda?"


"Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar pada anda. Saya yakin kalau anda sudah memahami maksud ucapan saya." Ardian m narik nafas panjang. Dan... untuk sekarang, saya hanya mencintai istri saya, Pak. Apalagi saat ini kami sedang menunggu kelahiran buah hati kami. Saya harap, anda segera membawa istri anda kembali ke Turki. Kalau perlu buat dia hamil agar dia tidak sibuk dengan rumah tangga kami. Saya hanya takut, semakin lama dia disini, semakin banyak kerusuhan yang akan dibuatnya."

__ADS_1


"T.. terimakasih, Pak Ardian. Saya pamit kalau begitu, selamat malam." Husein langsung pamit dengan kebingungan yang semakin menjadi-jadi. Barusan dia mendengar istrinya ngomong ngawur ngelantur. Sekarang dia malah mendapatkan ucapan tegas Ardian.


*******


__ADS_2