Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Tidak sesuai keinginan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian..


Pagi itu, Ardian bertolak ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Ada hal yang harus dia bahas dengan Papinya. Karena sudah menghubungi Papinya sebelum berangkat tadi, dia langsung dipersilahkan masuk ke ruang kerja Pak Sucipto begitu sampai rumah.


"Ada apa kamu mau bertemu Papi." Pak Sucipto langsung melontarkan pertanyaan begitu melihat pintu terbuka.


"Assalamualaikum, Pi.." Ardian berjalan mendekat lalu menyalami Papinya dengan sopan. Duduk di sofa depan papinya, matanya menelisik setiap sudut ruang kerja Pak Sucipto yang sudah dicat ulang. "Apa aku boleh meminum minuman ini?" Ardian malah mengacungkan secangkir teh yang masih mengepulkan asap di atas meja. Tidak menghiraukan pertanyaan Pak Sucipto.


Pak Sucipto terdiam beberapa saat menatap putranya. "Apa kamu tidak mendengarkan pertanyaan Papi tadi?" ucapnya kemudian.


Ardian membuang nafas kasar seraya menatap Papinya. "Seharusnya tamu itu dipersilahkan duduk terlebih dahulu baru diberikan pertanyaan."


"Papi tidak pernah menganggap kamu sebagai tamu, Nak."


"Tapi aku yang merasa menjadi tamu. Aku bukan penghuni rumah ini lagi. Jadi, aku adalah tamu saat ini."


Pak Sucipto mendengus. "Terserah kamu kalau begitu. Sekarang katakan, apa tujuan kamu datang kemari."


Ardian menatap Papinya beberapa saat. "Aku mau mengambil sisa gaji yang seharusnya aku terima."


"Maksud kamu apa?"


"Ardian tau kalau Papi sudah memanipulasi gaji aku. Aku tau Papi sudah mengatur semuanya."


"Papi berhak atas uang itu, Ardian. Kamu mendapat jabatan ini tidak lepas dari campur tangan Papi. Apa kamu tidak berpikir, mana ada orang bisa jadi GM dengan pengalaman kerja kurang dari tiga tahun."


"Aku sudah memperkirakan semua itu, Pi. Aku juga tidak berharap akan berada di posisi ini sebelumnya. Aku hanya ingin bekerja dan mendapatkan upah sesuai dengan hasil pekerjaanku. Dan tiga bulan ini, aku sudah menunjukkan kinerja yang baik untuk perusahaan. Aku sudah bekerja dengan sangat baik sehingga keuntungan perusahaan berlipat ganda."


"Nah itu makanya.. Papi senang mendengar pencapaian kamu yang mencapai target. Tapi, Papi tetap akan mengambil gaji kamu."


"Aku tidak keberatan seandainya Papi mengambil seperempat atau bahkan sepertiga dari gaji itu. Tapi, Papi mengambil setengahnya. Aku bukannya perhitungan atau apa sama orang tua. Tapi, aku juga punya keluarga sekarang, Pi. Aku harus menafkahi anak istriku."


"Ayra tidak pernah menuntut banyak sama kamu. Apa yang tidak Papi ketahui tentang menantu Papi itu. Dia gadis yang sangat mencintai hidup sederhana. Ya.. walaupun harta Kakek dan orang tuanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Menurut Papi, dia tidak akan membutuhkan uang bulanan dari kamu." Pak Sucipto mengangkat bahunya seraya tersenyum licik ke arah putranya.

__ADS_1


"Tapi tetap saja aku yang wajib menafkahinya, Pi, dia istriku. Kakek juga sudah menargetkan uang yang wajib aku berikan kepada istriku setiap bulannya."


"Heh, palingan Pak Akmal hanya menggertak kamu. Pak Akmal itu orangnya sangat baik itu yang harus kamu tau. Walaupun ucapannya terkadang sangat menusuk, tapi dia itu tidak akan tega."


Ardian menelan ludahnya menatap Papinya dengan tajam. "Aku berhak atas gaji itu, karena aku yang bekerja. Apa Papi sekarang kekurangan uang sehingga gaji anak sendiri Papi ambil tanpa meminta persetujuan?"


"Kamu menuduh Papi maling, Nak?" Pak Sucipto berdiri karena kesal.


"Bukan maling, tapi pekerjaan yang sederajat dengan maling."


"Jaga mulut kami, Ardian. Papi tidak menyangka kamu akan mengatakan itu pada orang tua kamu sendiri."


"Aku tidak mau mengatakannya. Tapi, Papi yang membuatku harus mengatakan ini." Ardian mengalihkan pandangannya. Teringat kata-kata istrinya yang sangat tidak setuju dengan keputusannya untuk menemui orang tuanya pagi ini.


Ardian sudah berusaha sabar. Tapi, semakin kesini gaji yang dia terima semakin berkurang. Bahkan di bulan ketiga ini, gajinya yang diambil Papinya sampai enam puluh persennya. Pagi ini dia sampai berbohong kepada istrinya kalau dia akan langsung ke Kantor. Benar Ardian langsung ke Kantor, tetapi hanya sampai gerbangnya saja. Begitu sampai gerbang dia langsung putar balik dan bertolak ke rumah orang tuanya.


Flashback on...


Malam itu setelah balik dari Kantor, Ardian menyempatkan diri melihat pesan notifikasi dari bank. Ia mengerutkan keningnya saat melihat jumlah uang yang masuk ke rekeningnya. "Apa-apaan ini?!" Ucapnya sambil meletakkan handphonenya dengan kasar. Ia hanya menarik nafas panjang. Satu bulan yang lalu dia berhasil menyingkirkan Anita, kini masalah baru malah datang dari orang tuanya sendiri.


"Ada apa, Mas?" Chayra mendekati suaminya lalu mengusap-usap pundaknya.


Ardian mengangkat wajahnya seraya membuang nafas dengan kasar. "Gaji yang aku terima, Chay. Kenapa semakin kesini semakin berkurang coba? Aku sudah mengerahkan seluruh tenaga dan pikiranku untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Tapi, kenapa Papi semakin bersikap semaunya seperti ini."


"Udah, Mas, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin Papi sedang membutuhkan uang itu. Tidak apa-apa, yang penting untuk belanja kebutuhan setiap hari sudah cukup."


"Aku akan menemuinya besok pagi." Ardian bangkit meraih gelas minum yang disodorkan istrinya.


"Jangan, Mas. Nggak baik loh, marah sama orang tua."


"Aku akan menanyakannya baik-baik, Sayang. Aku tau Papi sengaja melakukan ini. Kalau terus dibiarkan, bisa-bisa gaji yang aku terima hanya sepuluh persennya saja."


"Tapi aku tetap tidak setuju, Mas. Aku yakin kalau Papi pasti sedang membutuhkan uang itu makanya dia mengambil separuh gaji kamu. Toh, di uang kamu itu juga ada nafkah yang harus kamu berikan kepada orang tua kamu."

__ADS_1


"Tapi tidak begini caranya, Sayang. Aku bahkan sudah berniat untuk memberikannya kepada mereka mana yang seharusnya menjadi bagian mereka. Ini sih namanya pencurian, Chay."


"Astagfirullah, Mas. Kamu ngomong apa sih?"


Ardian menarik nafas panjang seraya beristighfar. Kalau masalah ini terus berlanjut, dia takut Papinya akan semakin menjadi-jadi. Entah apa yang diinginkan Papinya sehingga dia sampai setega ini.


Chayra POV...


Aku tersentak mendengar ucapan Mas Ardian. Ya Allah... apa yang ada dipikiran suamiku sehingga berkata demikian. Selama ini dia memang jarang marah. Tapi, sekalinya marah semua yang terpendam dalam hati akan langsung keluar. Seperti malam ini, dia pulang dengan wajah ceria secapek apapun dia. Tidak pernah dia menampakkan wajah kuyu saat aku menyambutnya saat pulang kerja. Tapi, tampangnya langsung berubah saat melihat handphonenya. Oh, ternyata hari ini dia gajian. Aku hanya mendengarnya mendumel tak jelas. Hanya kalimat 'Aku diangkat menjadi GM, tetapi gajiku tak lebih dari karyawan biasa.'


Aku mencoba menasehatinya dengan apa yang aku bisa. Semoga suamiku menyadari kesalahannya. Aku mengucap hamdalah saat mendengarnya melafadzkan istighfar.


Aku berjalan mendekatinya, mengusap-usap pundaknya dengan penuh kasih sayang. "Kenapa, Mas?" Dia mengangkat wajahnya seraya menatapku. Tatapan matanya terlihat sangat menyedihkan.


Aku kembali duduk di sofa setelah mendengar keluh kesahnya. Perhatiannya harus dialihkan agar dia tidak terus-menerus memilihkan masalah ini.


Keesokan paginya, Mas Ardian terlihat segar, mungkin karena sudah di servis semalam. Hm.. aku harus mengingatkannya lagi. Jangan sampai ucapannya semalam, kalau dia akan pergi ke rumah Papi. Aku harus mengatakannya dengan caraku agar dia mau menurut.


"Mas.."


"Mmm..." Dia malah tersenyum sambil mengancing kemejanya. Aku langsung menahan tangannya.


"Ada apa, Sayang?" Ia menatapku sambil menggenggam tanganku yang menempel di dadanya.


"Masalah semalam jangan di perpanjang ya, Mas.." Mas Ardian menghela nafas berat. "Nggak bisa, Sayang. Aku harus bicara dengan Papi agar hal ini tidak terulang."


"Tapi, aku nggak suka kamu yang kayak gini, Mas. Aku lebih suka kamu yang kalem-kalem aja kayak kemarin. Kalau kamu bersikeras memperpanjang masalah ini, aku akan ke rumah Ibu dan menginap disana. Aku nggak mau ketemu sama kamu sampai kamu benar berhenti." Mas Ardian langsung menatapku. Sepertinya ancamanku mempan. Mas Ardian menghela nafas berat lalu menganggukkan kepalanya. "Baiklah.. tapi aku melakukan ini karena kamu. Bukan karena aku memaafkan Papi."


Aku melengos mendengar jawabannya. "Kalau kayak gitu apa bedanya, Mas.."


"Hmm... iya.. iya... aku akan melakukannya dengan ikhlas."


Aku menepuk-nepuk pipinya lalu berjinjit dan memberikan satu ciuman di bibirnya. Hal itu tentu saja membuat Mas Ardian tersenyum kesem-sem. Wkwkwk....

__ADS_1


**********


__ADS_2