
Chayra duduk termenung di sebuah bangku di kebun kecil belakang rumahnya. Tempat itu menjadi tempat ternyaman baginya beberapa hari kebelakang ini. Berusaha dengan sangat menerima takdir Allah untuknya. Bu Santi duduk beberapa meter di belakang Chayra. Pesan Dokter waktu itu selalu jadi pertimbangan jika ia ingin meninggalkan putrinya sendirian.
Chayra hanya duduk termenung sambil menatap berbagai jenis sayuran yang memenuhi kebun kecil itu.
Suara berisik dari arah belakangnya memaksanya untuk berbalik dan tersenyum hambar pada tiga sahabatnya yang datang menjenguknya.
"Assalamualaikum, cantik. Apa kabar hari ini?" Tina mencubit lembut pipi Chayra. Namun, ia terkejut karena tangannya langsung ditepis Chayra.
Alesha dan Amira langsung melotot pada Tina. Sorot mata dua gadis itu tajam seperti menusuk ke dalam matanya.
"Sorry," ucap Tina tanpa suara. Menangkupkan tangannya di depan wajahnya sambil tersenyum meringis.
Alesha memutar bola matanya. Beralih menatap Chayra yang kembali termenung usai menepis tangan Tina tadi. "Mm.. Ayra.. kita masuk, yuk. Ini sudah sore. Nanti lho masuk angin terlalu lama di luar." Menyentuh pundak Chayra dengan hati-hati. Takut kalau tangannya ditepis Chayra seperti Tina tadi.
Chayra menarik nafas dalam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mendongak menatap Alesha, "kalian masuk saja duluan, aku hanya ingin di sini." Kembali menatap lurus ke depan.
"Eh, kita mau cerita sesuatu sama lho. Tapi...."
Plok.. plok..
Ucapan Alesha terhenti ketika ia mendengar tepukan tangan Bu Santi. Karena Chayra masih sangat sensitif dengan apapun, mereka tidak ada yang berani ngomong macam-macam.
Menatap handphonenya saat melihat isyarat dari Bu Santi.
Kakek ingin bicara. Kalian masuk saja duluan. Biar aku yang membujuk Ayra nanti.
Alesha menyodorkan handphonenya pada Amira agar membaca pesan dari Bu Santi.
"Gue takut kalau harus diintrogasi Kakek lagi. Kita kan bukan penculik Ayra. Tapi, Kakek terus-terusan mengintrogasi kita." Bisik Amira.
"Kita harus pergi menemui Kakek demi Ayra." Jawab Alesha dengan berbisik juga.
Amira menghela nafas berat, melanjutkan pesan dari Bu Santi pada Tina yang berdiri di sampingnya.
"Kita..?" Tina menunjuk dadanya. "Gue takut, Kakek serem kalau marah." Ucapnya tanpa suara.
Alesha dan Amira mengangguk serentak. Alesha sedikit menunduk dan kembali menyentuh pundak Chayra. "Mm.. Ayra, kami tinggal sebentar ya.."
Chayra hanya mengangguk tanda setuju.
Di ruang tamu..
Tiga gadis tadi sudah di sambut oleh anggota keluarga Chayra yang lain. Tatapan Pak Akmal langsung tertuju pada mereka begitu mereka masuk ruangan itu.
"Silahkan duduk. Kita perlu susun rencana agar cucu saya bisa mendapatkan keadilan."
Amira menelan ludahnya, tetapi ia berjalan ke arah sofa, diikuti oleh Alesha dan Tina.
"Kalian memang bodoh. Iya.. kata-kata itu memang pantas untuk kalian." Ucap Pak Akmal sambil menunjuk satu persatu orang yang bersamanya di ruangan itu.
Tiga gadis yang baru ikut bergabung tersentak dan menatap Pak Akmal dengan bingung.
Ternyata kemarahan Pak Akmal belum reda. Kejadian ini sudah berlalu hampir satu minggu. Namun, pria paruh baya itu belum ada tanda-tanda akan meredam amarahnya.
Sempat mendengar cerita Amira tentang Ardian membuatnya harus menyelidiki pria itu. Kecurigaannya semakin bertambah setelah mengetahui kalau Ardian langsung kabur entah kemana sehari setelah dia mengembalikan Chayra pada keluarganya.
Suara deringan handphonenya membuatnya berdecak kesal. "Iya, ada apa?!" Menjawab telepon dengan sinis.
__ADS_1
"............."
"Oh, begitu. Baik, kita akan ke rumahnya sekarang. Aku akan tetap mengejarnya walau sampai ke ujung dunia. Dia belum tau sedang berurusan dengan siapa." Pak Akmal mengeratkan giginya kesal.
"............."
"Tetap awasi rumah itu. Assalamualaikum.."
Pak Akmal menatap layar handphonenya seraya tersenyum sinis. "Zidane, kita berangkat sekarang." Melangkah keluar dari ruang tamu. Namun, ia berbalik lagi, menatap Alesha, Amira dan Tina. "Kalian bertiga harus ikut. Untuk berjaga-jaga kalau nanti aku membutuhkan kalian."
Tiga gadis itu langsung bangkit mengikuti tanpa ada yang melakukan protes.
"Permisi..." Amira memencet bel di rumah besar yang terlihat sepi penghuni.
Seorang pria paruh baya yang menjadi tukang kebun di rumah itu membuka pintu gerbang dengan tergopoh. "M.. maaf, Mbak, cari siapa?"
Amira menyebikkan bibirnya. "Mbak, Mbak.. emang gue Mbak lho. Pemilik rumah ada nggak?"
Pak Akmal yang masih di dalam mobil hanya bisa menghela nafas berat mendengar tutur kata Amira. Terdengar sangat tidak sopan pada orang yang lebih tua di depannya.
Tukang kebun itu terlihat kebingungan mendengar pertanyaan Amira. "Mbak cari siapa?" Tanyanya balik.
Amira memutar bola matanya kesal. "Gue cari pemilik rumah ini." Dengan nada angkuh.
"Mira... ngomongnya sopan dikit apa. Lho ini ngomong sama orang yang lebih tua kayak ngomong sama adik aja." Alesha menepis pelan lengan Amira. Beralih menatap tukang kebun yang hanya berdiri dengan ekspresi datar menerima perlakuan Amira. "Mm.. maaf, Pak. Kami mencari Kak Ardian. Apa orangnya ada di rumah?"
Tukang kebun itu tersenyum ramah pada Alesha. "Oh, maksud Nona tuan Ardian?"
"Hehehe.. iya, Pak."
"Hheemm, si Alesha di panggil Nona. Lha, kok gue malah dipanggil Mbak."
"Hmm.."
Alesha kembali menatap tukang kebun. "Orangnya ada kan, Pak?"
Bapak tukang kebun malah menggaruk kepalanya kebingungan. "Saya kurang tau, Non. Tugas saya kan hanya mengurus taman di rumah ini. Jadi, saya kurang tau orang yang sedang ada di rumah atau tidak ada."
"Kenapa nggak bilang dari tadi? Capek tau.."
"Mira.. nggak boleh ngomong kayak gitu." Alesha kembali menepis lengan Amira.
"Tanya Satpam aja, Non."
"Baik, Pak. Terimakasih.." Alesha menarik tangan Amira agar mengikutinya ke Post Satpam.
Satpam rumah itu langsung bangkit saat melihat dua gadis itu mendekat. "Ada yang bisa saya bantu, Non." Tanyanya ramah. Menautkan alisnya saat menatap Amira yang menyembunyikan wajahnya di pundak Alesha. "Eh, ini... Non Amira, kan? Tumben kemari, Non?"
"Hehehe..." Amira tersenyum meringis. "Kak Ardiannya ada kan, Pak?"
"Ada, Non. Tuan Ardian sedang sakit. Sudah hampir satu minggu mengurung diri di kamar."
Alesha dan Amira saling pandang.
"S.. sakit apa, Pak?" Alesha kembali bertanya.
"Kalau masalah itu saya kurang tau, Non. Non Amira masuk aja untuk memastikan Tuan sakit apa. Saya juga kasihan sama dia. Sudah orang tua tidak ada di rumah. Eh, saat sakit begini hanya diurus pembantu." Satpam itu menggeleng-geleng pelan. Terlihat prihatin dengan keadaan Tuannya."
__ADS_1
"Lho, bukannya Om dan Tante sudah balik, Pak?" Amira terkejut mendengar ucapan Satpam itu.
"Eh, belum, Non. Tuan dan Nyonya rencananya akan pulang minggu depan.
Amira terdiam. Kemarin Ardian bilang mau menjemput mami dan papinya ke Bandara. Lalu sekarang malah begini ceritanya.
"Silahkan masuk saja, Non. Tumben juga bertanya banyak sama Bapak. Biasanya juga langsung masuk."
Amira tersenyum kecut. "Nomor handphone Kak Ardian tidak bisa dihubungi. Jadi, aku harus bertanya dulu."
"Oh, gitu, Non. Iya, sudah, silahkan masuk."
"Iya, Pak." Amira kembali menatap Alesha. "Ayo.."
"Eh, gue nggak berani."
"Takut sama siapa? Toh, orangnya juga lagi sakit."
"Iya sih... tapi.."
"Demi Ayra, Lesha.."
Alesha menarik nafas panjang. "Huh, bismillahirrahmanirrahim.. mudah-mudahan Allah melancarkan semua ini."
"Aamiiin...." Amira langsung menarik tangan Alesha agar mengikuti langkahnya.
Langkah mereka terhenti ketika sampai di ruang tengah. Seorang pelayan mendekat dengan raut wajah khawatir. "M.. maaf, Non. T.. Tuan Ardian melarang siapapun untuk masuk ke kamarnya."
"Gue kekasihnya, Bi. Sudah ah, gue cuma mau menengok keadaannya saja."
"T.. tapi Tuan baru saja beristirahat, Non."
"Tenang saja, Bi. Kami cuma mau menengok keadaanya saja. Soalnya, sudah beberapa hari ini dia tidak menghubungi Amira. Itulah sebabnya kami berencana untuk menengoknya dari kemarin. Kami hanya akan melihatnya kalau memang dia sedang beristirahat." Alesha berusaha meyakinkan pelayan itu.
"Mm.. bagaimana ya Non. Tapi.. Bibi takut kena amukan Tuan nanti."
"Insya Allah, tidak akan, Bi."
"Biar aku yang akan bilang ke Kak Ardian kalau aku yang memaksa untuk masuk ke kamarnya." Ucap Amira.
"Bibi tidak usah takut."
"Eh, i.. iya, Non."
"Kalau gitu kami ke atas dulu ya, Bi. Lanjutkan saja pekerjaan Bibi. Tidak usah mengkhawatirkan kami karena kami tidak akan berani macam-macam."
Pelayan itu hanya mengangguk lemah seraya berlalu.
"Huh.." Amira menarik nafas panjang setelah kepergian pelayan itu. "Untung saja kita lolos. Tumben juga ada penjagaan ketat seperti ini. Biasanya semua orang tidak ada yang pernah ada yang mau ikut campur kalau gue masuk ke kamar Kak Ardian. Apa karena dia sakit ya.."
"Apa lho merasa ada yang tidak beres?" Tanya Alesha seraya menginjakkan kakinya dianak tangga pertama. Tangannya mendorong Amira agar berjalan di depannya.
"Gue juga agak curiga sih. Eh, lho kenapa dorong gue kayak gini. Apa lho cuma berani sampai disini?"
"Bukan begitu, Mira. Tapi kan lho yang tau letak kamarnya dimana."
Amira hanya tersenyum meringis terus seraya melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
********