
Pak Sucipto dan Bu Renata mengalah. Mereka yang mengalah mendatangi rumah Santi. Walaupun pada awalnya mereka merasa sungkan. Tetapi, saat melihat sikap Santi dan Chayra membuat mereka bisa bernafas dengan lega. Akhirnya perlahan-lahan rasa sungkan itu berubah menjadi kehangatan.
Chayra mengirimkan pesan pada suaminya kalau pertemuan dengan kedua orang tuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Lama Chayra menunggu sampai Ardian membalas pesannya.
Oke terimakasih, Sayang. Nanti aku telepon kalau sudah selesai rapat.
Chayra tidak membalas pesan itu karena takut mengganggu suaminya. Kembali melanjutkan obrolannya dengan kedua mertuanya. Renata beberapa kali menatap sambil mengusap perut Chayra yang membuncit.
"Ini kapan keluarnya, Sayang?" Tangan Renata masih mengusap-usap perut menantunya.
"Insya Allah kurang dari tiga bulan, Mi. Mudah-mudahan Mami bisa menemani aku saat melahirkan nanti." Chayra menggenggam tangan mertuanya.
"Kalau Mami lebih baik dikasih tau kalau anaknya sudah keluar, Sayang. Soalnya Mami takut melihat orang melahirkan. Takutnya Mami bukannya menguatkan kamu nanti malah pingsan di tempat. Jadinya kan merepotkan orang. Tapi kamu mau melahirkannya pakai metode apa?"
"Insya Allah aku sih pinginnya normal aja, Bu. Tapi, kalau memang tidak bisa nggak apa-apa juga kalau Caesar."
"Pakai Caesar aja, Nak biar kamu nggak sakit."
"Aku mau pakai yang paling ringan resikonya, Mi. Kata Dokternya kemarin sih, kemungkinan besar aku bisa melahirkan dengan normal karena panggul aku lebar."
"Mami nggak sabar pingin lihat cucu Mami."
Chayra tersenyum. "Mami bisa ikut periksa nanti di bulan yang ke tujuh, kalau Mami memang penasaran ingin melihatnya. Kemarin kami baru mengetahui jenis kelaminnya juga, Mi."
"Lho, kok baru kemarin? Bukannya kemarin bulan keenam."
"Iya, tapi aku sengaja meminta Dokter untuk menyembunyikannya karena Kak Ardian tidak ikut periksa bulan-bulan sebelumnya. Dia terlalu sibuk bekerja sampai Tidaka ada waktu walaupun hanya sekedar untuk menemaniku periksa kandungan."
Renata hanya diam sambil melirik suaminya. Dia tau semua itu terjadi atas perintah yang diberikan suaminya. Pak Sucipto sama melirik istrinya. Mereka berdua saling pandang karena sama-sama merasa bersalah. Pak Sucipto memberikan tugas yang berlebihan atas permintaan istrinya.
"Untung saja Bosnya paham kemarin pas dia minta izin. Kata-katanya malah membuat Kak Ardian serba salah. Atasannya itu katanya istrinya meninggal pas melahirkan anak kedua mereka. Apalagi pas istrinya melahirkan, dia Tidak ada di tempat karena acara kantor ke luar kota. Kok, aku jadi ikut membayangkan kejadian itu, Mi. Sedih akunya kemarin pas Kak Ardian menceritakan itu sama aku."
Renata hanya tersenyum kecut. Dia tau kejadian itu karena ikut memakamkan orang yang diceritakan menantunya. "Mami ikut memakamkan istri GM waktu itu, Nak. Iya.. Mami juga ikut sedih. Papinya GM itu sahamnya paling besar di Perusahaan tempat suami kamu bekerja sekarang. Kalau Papi kamu sahamnya hanya dua puluh lima persen di sana."
Chayra hanya tersenyum menanggapi. Dia masih awam dalam dunia bisnis karena ibunya enggan untuk memperkenalkan dunia itu pada kedua anaknya.
"Suami kamu pulangnya jam berapa, Nak?" Sucipto angkat bicara karena sampai siang Ardian belum ada tanda-tanda akan pulang.
"Masih rapat tadi, Pi, pas aku mengirim pesan. Aku udah bilang kalau ada Papi dan Mami di rumah sedang menunggu. Mm.. Papi dan Mami bisa shalat dulu sambil menunggu Kak Ardian pulang. Setelah itu kita makan siang bersama. Kebetulan Ayra dan Ibu masak banyak tadi karena tau Mami sama Papi mau datang."
Renata mengangguk. "Musholla dimana, Nak?"
__ADS_1
"Ada di belakang, Mi. Ayo, Ayra antar sekarang."
Usai melaksanakan shalat Zuhur bersama, Chayra langsung mengajak kedua mertuanya ke ruang makan. Baru akan mengambilkan nasi untuk Renata, handphonenya yang dia letakkan di dekat tempat duduknya berbunyi dengan nyaring.
"Eh, itu handphone kamu kenapa nyaring sekali bunyinya. Memang sholawat sih, tapi kalau segitu berisiknya apa tidak mengganggu indera pendengaran kamu." Renata menautkan alisnya mendengar handphone yang berbunyi dengan volume penuh.
"Eheheh ng... nggak, Mi. Aku mah udah biasa mendengarnya berbunyi nyaring. Malahan kalau volumenya terlalu kecil takutnya aku nggak dengar." Chayra meraih handphonenya. "Kak Ardian yang nelpon, Mi. Aku jawab sebentar ya.." Beranjak dari meja makan. "Assalamualaikum, Kak."
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Mami sama Papi masih di rumah?"
"Masih. Katanya mau menunggu Kak Ardian pulang. Ini kami mau makan siang bersama."
"Oh iya sudah. Selamat makan kalau begitu. Aku batu keluar dari ruang rapat. Belum shalat juga ini."
"Kakak shalat dulu kalau begitu. Aku mau menemani Mami dan Papi makan dulu."
"Iya.. eh, nanti dulu aku mau menanyakan sesuatu sama kamu. Hampir saja lupa."
"Mau menanyakan apa sampai takut lupa."
"Bagaimana sikap Mami dan Papi sama kamu?"
"Baik kok, Mami malahan usap-usap perut aku terus dari tadi. Kenapa bertanya begitu? Papi dan Mami kan selalu bersikap baik sama aku."
"Alhamdulillah kalau Kakak bisa berpikir seperti itu. Oh iya, kenapa Kak Ardian bisa pulang cepat. Bukannya ada jadwal sampai jam tiga sore?"
"Nggak jadi, Sayang. Bos ada acara, jadi rapat yang kedua diundur menjadi besok pagi. Nasib anak Sholeh. Sudah tau kali kalau aku ada yang lagi nungguin di rumah."
"Huh, iya sudah.. assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam..." Ardian tersenyum setelah mengakhiri panggilannya. Ingin rasanya segera pulang untuk ikut berkumpul bersama Mami dan Papinya. Momen langka yang sangat jarang terjadi dalam kehidupannya. Ia segera bergegas untuk mengambil air wudhu. Menghemat waktu agar bisa cepat pulang.
"Kayak lagi tergesa, Yan." Dodit yang baru masuk ruangan Ardian terkejut melihat Ardian yang baru saja menggelar sajadah. Eh, ternyata Dodit sudah tidak kaku lagi. Tidak memanggil Ardian dengan Bapak lagi. Memang dia juga lebih tua tapi entah kenapa kaku kalau ngomong sama Ardian. Namun, akhir-akhir ini dia tidak kaku lagi. Mungkin karena Ardian yang selalu ngomong pakai bahasa simpel kalau pada dirinya.
"Mau langsung pulang?" Tanyanya lagi.
"Iya, ada Papi sama Mami di rumah lagi nungguin aku pulang."
"Untung saja rapatnya dibatalkan hari ini. Bapak sama Ibu akan sangat lelah menunggu kalau kamu sampai pulang sore. Kenapa tidak shalat di rumah saja biar cepat sampai rumah."
"Nanggung ah. Biar nanti kalau sampai rumah bisa langsung peluk istri aku."
__ADS_1
"Kalau Papi sama Maminya nggak di peluk?"
"Biasanya nggak pernah. Kayak yang risih mereka kalau aku peluk. Katanya kayak anak kecil aja."
"Oh, iya sudah. Silahkan lanjutkan shalatnya. Aku mau keluar untuk makan siang. Niatnya tadi mau mengajak kamu. Tapi, kamunya mau pulang duluan."
"Heheh, maaf ya.. insya Allah lain kali kita makan siang bersama. Aku benar-benar tidak bisa hari ini."
"Iya nggak apa-apa. Aku duluan, assalamualaikum.." tidak lupa Dodit mengucap salam karena tau kalau Ardian senang dengan orang yang suka menebar salam.
"Dia bilang apa, Dit." Pak Randi pak GM bertanya pada Dodit yang baru keluar dari ruangan Ardian. Ternyata Dodit menemui Ardian atas perintah dari Pak Randi.
"Dia mau pulang duluan katanya, Pak. Ada orang tuanya yang sedang menunggunya di rumah." Jawab Dodit. Dia tidak memberi tahu Ardian kalau Pak Randi yang mengajaknya makan siang bersama. Takutnya Ardian tidak berani menolak kalau mengatakan Pak Randi yang mengajaknya.
Pak Randi mengerutkan alisnya. "Pak Sucipto dan Bu Renata maksud kamu?"
"I.. iya, Pak."
"Kenapa harus ditunggu. Memangnya mereka pisah rumah?"
"Iya, Pak. Ardian tinggal di rumah mertuanya."
Pak Randi semakin tidak mengerti. Merasa agak aneh mendengar seorang laki-laki yang tinggal di rumah mertuanya. "Iya sudah, kita turun sekarang."
Dodit mengangguk ragu. Pak Randi terlihat masih penasaran dengan kehidupan yang dijalani Ardian. Ardian yang tiba-tiba dijadikan Asisten barunya tanpa diminta persetujuan darinya. Sempat kesal, tapi itu permintaan langsung dari Papinya. Tapi, akhirnya dia tidak jadi protes saat melihat kinerja Ardian dan sopan santun anak itu.
Ardian bergegas turun dari mobilnya saat sampai rumah. Dia menarik nafas lega saat sampai rumah. Kemacetan yang terjadi karena dia memilih pulang di jam istirahat kantor membuatnya harus menaikkan tingkat kesabarannya.
"Assalamualaikum," Ardian menongolkan kepalanya ke dalam rumah. Terlihat sepi. Ardian akhirnya masuk karena tidak ada orang yang menyambutnya. Saat meletakkan tasnya di dalam kamar, ternyata kamar itu juga sepi. Kemana semua orang batinnya. Saat keluar untuk mengambil air minum di dapur, barulah ia mendengar suara keramaian. Oh ternyata semuanya kumpul di belakang rumah pantesan sepi. Dia akhirnya bergegas ke belakang.
"Assalamualaikum..." Ardian berjalan mendekati semuanya. Menghampiri istrinya terlebih dahulu. Mendaratkan satu ciuman di dahi istrinya. Barulah dia menghampiri kedua orang tua dan mertuanya.
Renata memeluk hangat putranya. Ardian hanya tersenyum lemah. Jarang-jarang Maminya memeluknya seperti itu. "Pantesan kamu betah tinggal disini, Nak. Ternyata mertua kamu orangnya sangat hangat. Ini halaman rumah juga dipenuhi sayuran. Jadinya nggak repot-repot untuk beli. Kalau mau masak mie instan pakai sayur tinggal berjalan sedikit ke belakang rumah dapat yang fresh.
"Menghemat biaya juga, Mi. Punya halaman luas itu di manfaatkan. Bukan seperti Mami, halaman luas tapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Malahan hanya ditumbuhi rumput liar."
"Eh, kamu ini main protes aja sama Mami
Mami kan orangnya sibuk banget.
"Hmmm... sibuk menghabiskan uang Papi kali."
__ADS_1
Renata menjewer telinga putranya. Percakapan itu berlangsung sampai masuk waktu Ashar. Chayra beberapa kali tersenyum bahagia melihat suaminya yang tertawa tanpa beban. Hal yang sangat dirindukan pria itu. Berbincang hangat dengan orang tuanya walaupun membicarakan hal yang tidak penting.
********"