Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pertemuan yang menyakitkan


__ADS_3

Chayra mempersiapkan diri untuk pulang ke rumah. Hari ini suaminya akan pulang dari luar kota. Dia tidak mau merepotkan suaminya untuk menjemputnya nanti jika dia tidak pulang sekarang.


"Bu, aku pamit dulu ya.."


"Hati-hati dijalan, Nak. Bi, jangan ngebut, kamu akan membawa kakak dan keponakan kamu."


"Siap, Bu.. aku mana pernah ngebut walaupun aku sendiri."


"Mm.. bagus kalau begitu."


"Bian pamit, Bu.. assalamu'alaikum.."


"Wa'alikumsalam.." Bu Santi masuk setelah Bian keluar dari gerbang rumah.


"Bi, kita mampir ke Kafe Dahlia sebentar. Kakak tidak sempat makan tadi." Chayra memberikan instruksi pada adiknya agar Bian tidak langsung menggerakkan mobilnya menuju rumah.


"Tapi aku akan ditraktir kan, Kak."


"Iya, Dek.. masa Kakak akan makan sendirian."


"It's ok.. let's go.. Kafe Dahlia.. I'm coming..!"


"Eh, ngapain pakai teriak-teriak segala. Kayak orang nggak pernah makan di Kafe aja kamu ini."


"Maklumlah, Kak.. anak muda kayak aku kan nggak punya banyak duit untuk mampir atau nongki-nongki di Kafe. Uang jajan palingan hanya cukup untuk sekedar jajan di Kantin Sekolah."


"Hmm... anak jaman sekarang bahasanya aneh-aneh."


"Udah.. Kak Ayra jangan banyak protes. Tunggu sebentar aku mau menghubungi teman-temanku."


"Ngapain menghubungi teman-teman kamu, Dek?"


"Aku butuh teman yang seumuran, Kak. Kak Ayra kan lebih tua dari aku. Terus.... Kak Ayra juga perempuan. Aku butuh teman bicara yang nyambung denganku." Bian melirik kakaknya dengan tangan sibuk mengetik di handphonenya. Melihat tatapan aneh kakaknya, Bian menghentikan aktivitasnya lalu menatap Chayra. "Kak Ayra kenapa menatapku seperti itu? Tenang saja, Kak. Teman-temanku tau diri kok. Tau ditraktir, mereka tidak akan memesan makanan yang aneh-aneh alias yang mahal-mahal."


Chayra akhirnya menghela nafas berat seraya menggeleng-geleng pelan.

__ADS_1


"Nggak boleh perhitungan, Kak. Banyak sedekah biar rizkinya berkah. Nggak perlu punya banyak uang. Yang perlu itu keberkahan. Uang tidak akan dibawa mati."


"Kakak sudah tau, Dek. Yang ada Kakak terlalu banyak sedekah sama kamu, makanya pipi kamu gembuuuulll kayak gini." Chayra menarik pipi Bian gemas. Udah gede juga, punya pipi kayak bakpao seperti ini."


"Sakit, Kak... aku udah gede.." perhatian Bian teralihkan saat handphonenya berbunyi. Bibirnya tersenyum sumringah saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Tunggu saja di parkiran. Aku sedang menuju kesana sekarang." Bian mematikan sambungan telepon. Beralih menatap kakaknya yang masih diam menunggunya selesai bicara. "Kak Ayra tunggu pembalasan yang indah dariku."


Chayra melototkan matanya. Tetapi Bian dengan santainya hanya mengangkat bahu lalu menjalankan mobilnya kembali.


Tiga orang teman Bian sudah menunggu begitu mereka sampai di Parkiran. Kafe sedang ramai pengunjung terlihat banyaknya kendaraan di area parkiran yang berukuran medium itu.


"Kakak pesan ruang VIV untuk kami biar nyaman makannya."


"Mau-mau Kakak dong, mau pesan ruangan apa."


"Wuiih... Kakak lu sadis bener, Bi. Kakak jangan galak-galak sama kami, nanti cantiknya luntur."


Chayra melengos mendengar ucapan salah satu teman adiknya. "Kalian ini baru kemarin bisa membersihkan ingus udah bisa mengeluarkan kata rayuan. Udah bisa cari duit nggak?!"


"Ehehehe... maaf, Kak. Kami kan cuma bercanda."


"Biar aku yang gendong, Kak. Sebagai maaf karena sudah lancang mengatakan Kakak cantik walaupun Kakak memang benar-benar cantik."


Chayra membuang nafas kasar seraya memutar bola matanya. Bicara dengan anak labil seperti ini membuatnya harus menahan emosi. "Masuk.. masuk..! Jangan ada yang bicara lagi. Kalau ada yang bicara, Kakak batalkan traktirannya."


Semua langsung terdiam. Mereka dengan tertib mengekor dibelakang Chayra, seperti anak ayam yang takut kehilangan induknya.


Chayra menarik nafas panjang beberapa kali saat selesai makan. Uang belanja kebutuhan dapur untuk satu minggu ke depan habis untuk satu kali makan. Bian benar-benar membalas perbuatan Chayra yang menarik pipinya tadi dengan pembalasan yang benar-benar menguras emosi jiwa sang Kakak. Bagaimana tidak menguras emosi jiwa, Bian mengajak ketiga temannya untuk memesan menu premium yang membuat isi kartu debit kakaknya berkurang satu persen.


__________


Chayra terkejut bukan main saat keluar dari Kafe. Ingin menghindar, tetapi terlambat. Orang yang sedang berdiri di dekat mobil yang mereka pakai keburu melihat ke arahnya. Orang yang ternyata Ghibran itu berlari kecil ke arah adik kakak yang sedang berjalan bergandengan tangan menuju parkiran.


"Bian..!"

__ADS_1


Bian yang sedang mengajak Adzra bicara langsung menoleh ke arah sumber suara. "Eh, Kak Ghibran, sedang apa disini, Kak?"


"Mau makan siang. Tapi, pas sedang memarkirkan motor aku melihat mobil kamu disana. Sekalian aja menunggu kamu keluar." Ghibran melirik ke arah Chayra. Dadanya masih saja bergemuruh jika berhadapan dengan wanita itu. Walaupun mereka sudah memiliki jalan hidup masing-masing, tidak membuat pria itu bisa melupakan Chayra. Mencoba menikah dengan wanita lain tidak membuatnya melupakan Chayra begitu saja. Malahan dia sering mengigau dalam tidurnya menyebut-nyebut nama Chayra. Entah apa yang membuatnya sangat sulit melupakan wanita itu.


Chayra hanya tersenyum lalu menunduk saat melihat Ghibran menatapnya. Walaupun tertutup cadar, tetapi Ghibran bisa melihat senyuman itu. "Apa kabar, Zahra?" Tanyanya seraya menelan ludahnya.


"Alhamdulillah aku baik, Kak. Kapan kemari, Kak?"


"Mm.. sudah satu bulan aku disini. Aku bekerja di Perusahaan kakak kamu. Aku ingin mencari pengalaman kerja. Bosan dengan pekerjaan lama."


"Oohh, gitu ya, Kak?"


"Memangnya Zidane tidak pernah cerita apa-apa sama kamu. Atau ini, adik kamu tidak pernah menceritakan kalau aku bekerja membantu Zidane sekarang?" Ghibran menunjuk Bian yang masih asyik dengan Adzra. Anak itu hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan Ghibran.


"Kita duduk saja dulu. Tidak enak ngobrol sambil berdiri seperti ini." Ghibran menunjuk bangku panjang yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Tidak usah, Kak. Kami mau langsung pulang saja."


Ghibran terkejut mendengar jawaban Chayra. "Kenapa terburu-buru, Zahra? Kita baru beberapa menit bertemu dan kamu sudah mau pergi. Apa kamu sengaja menghindar dariku? Apa suami kamu yang tidak bertanggung jawab itu membuat batasan kamu bertemu denganku?"


"Astagfirullahal'adzim, Kak Ghibran kenapa ngomong gitu sih?! Kakak baru kali ini bertemu dengan Kak Ayra. Seharusnya Kak Ghibran menjaga omongan Kakak." Bian langsung menimpali karena benar-benar terkejut mendengar ucapan Ghibran. Tidak ada hujan tidak ada angin, pria itu tiba-tiba meradang dengan sendirinya.


"Aku tidak merasa salah ngomong, Bi. Apa kamu juga marah karena aku mengatakan kakak iparmu itu tidak bertanggung jawab? Aku mengatakan hal yang sebenarnya, Bi. Kalau dia bertanggung jawab, kenapa dia membiarkan istrinya berpergian hanya bersama kamu saja?"


"Kak Ardian tidak menemani Kak Ayra karena dia sedang berada di luar kota. Kak Ayra menginap di rumah sejak Kak Ardian pergi. Hari ini Kak Ardian akan pulang, itulah mengapa aku mengantar Kak Ayra untuk pulang. Tapi karena Kak Ayra tidak sempat makan di rumah, kami jadinya mampir kemari terlebih dahulu."


Ghibran tersenyum sinis mendengar penjelasan Bian. "Heh, itu hanyalah alasan yang biasa diucapkan seseorang untuk melindungi. Dia lebih mementingkan uang daripada keluarga. Kasihan sekali kamu, Zahra. Sudah menikah dengan laki-laki tak tau di untung seperti itu, lagi tidak bertanggung jawab."


"Aku tidak butuh kasihan dari Kak Ghibran. Aku sendiri yang mengetahui bagaimana suamiku berjuang untuk membahagiakan kami. Ayo, Dek.. untuk apa kita meladeni orang seperti ini. Perdebatan tidak akan berakhir jika salah satu dari kita tidak mengalah." Chayra menarik tangan adiknya agar segera meninggalkan Ghibran.


Chayra langsung mengusap air matanya begitu mereka masuk ke mobil. Bian yang melihat hal itu merasa kasihan melihat kakaknya. "Kak Ayra tidak apa-apa kan?"


Chayra mengangguk seraya mengusap air matanya. "Antar Kakak pulang sekarang, Dek. Kakak mau istirahat untuk menenangkan diri."


Tidak mau membuat kakaknya menunggu, Bian langsung memutar balik mobilnya. Mengapa Ghibran harus bertemu dengan mereka disaat seperti ini. Entah mengapa Ghibran juga sangat sensitif jika itu berhubungan dengan kakaknya. "Kak Ayra jangan menangis lagi. Apa Kakak mau, Kak Ardian melihat Kakak menangis saat dia pulang nanti? Anggap saja kejadian tadi hanya gangguan syaiton yang harus segera dihapus jejaknya."

__ADS_1


"Terimakasih nasehatnya, Dek." Chayra kembali mengusap air matanya.


*********


__ADS_2