Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Memasuki tempat terlarang


__ADS_3

Chayra menutup telinganya saat memasuki pintu utama. Dentuman keras bunyi musik membuat gendang telinganya terasa seperti mau pecah.


"Apa kamu baik-baik saja?" Ardian berteriak agar Chayra bisa mendengar suaranya.


"Iya.. kita kembali saja. Suara ini benar-benar mengganggu indra pendengaran."


Ardian menarik tangan istrinya menuju tempat perjanjiannya dengan sang wanita. Chayra hanya menunduk, mengikuti kemana saja langkah suaminya membawanya.


Sebuah pintu terbuka. Ruangan itu diisi beberapa muda-mudi yang sedang duduk di beberapa sofa dengan berbagai gaya. Chayra juga melihat banyak laki-laki yang terlihat seumuran dengan Sucipto mertuanya. Ternyata tempat itu juga menjadi tempat perkumpulan para pria hidung belang.


Di sebuah sofa panjang, terlihat seorang wanita sedang duduk dengan mengangkat sebelah kakinya. Pakaian yang dikenakannya sangat minim bahan, bagian dadanya terbuka. Bisa dibilang, wanita itu hampir saja t***n**ng.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba.." Wanita itu langsung berdiri, tangannya sudah ia rentangkan untuk memeluk Ardian. Berjalan mendekat dengan sempoyongan. Dengan cekatan Ardian berhasil menghindar. Dan...


Bruk!


"Ayra..!" Ardian langsung menahan tubuh istrinya yang hampir ambruk karena tubuh gadis itu jatuh memeluk Chayra.


Perut Chayra seperti diaduk ketika aroma tubuh wanita itu menyeruak ke indra penciumannya.


"Minggir Audy, lho menyakitinya.." Dengan kasar, Ardian mendorong tubuh gadis itu.


"Siapa ini, Ardian..? Kenapa lho bawa Ustadzah ke tempat kencan kita?" Gadis yang ternyata bernama Audy itu berjalan sempoyongan mendekati Ardian.


"Jangan sentuh gue!" Menepis tangan Audy yang menggenggam lengannya.


Chayra menahan tangan suaminya. Membisikkan sesuatu di telinga Ardian.


Ardian menggeleng pelan. Tidak setuju dengan usul istrinya.


Chayra menangkupkan tangannya agar Ardian mengikuti sarannya.


Ardian membuang nafas kasar. Kalau dia pikir ucapan Chayra benar adanya. "Kita duduk saja. Selesaikan masalah ini sekarang juga. Gue bosan berurusan dengan lho."


"Hahaha.. ternyata ancaman itu menjadi umpan untuk memancing lho agar mau menemui gue lagi."


Ardian melongos. "Gue kesini bukan untuk menemui lho. Gue kesini mau menyelesaikan masalah yang lho buat."


"Ngapain takut..? Itukan pekerjaan kita sehari-hari. Lho jangan munafik dong."


"Siapa yang munafik. Istri gue aja tau kalau gue pernah bejat seperti lho." Menarik tangan Chayra dan menggenggamnya erat.


"What...?" Audy langsung memperbaiki posisi duduknya. Dia mengangkat sebelah alisnya sambil matanya menatap Chayra dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Mungut darimana lho manusia gini modelnya?"


Ardian tertawa kecil mendengar pertanyaan gadis itu. Menarik Chayra sampai gadis itu bersandar di dadanya. Di ruangan itu suara musik yang keras tidak terlalu terdengar. Jadi, mereka bisa bicara dengan normal tanpa harus berteriak seperti tadi.


"Lancang sekali mulut lho berkata begitu. Dia ini adalah orang yang membuat gue sadar, bagaimana pentingnya kesehatan. Itulah mengapa, gue tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di tempat ini." Ucap Ardian dengan tegas.

__ADS_1


Audy tersenyum sinis. "Eh, siapa nama lho?" menunjuk Chayra dengan tangan kirinya.


Chayra berusaha bangkit walaupun Ardian menahan pundaknya agar tetap bersandar. Baru akan mulai bicara, Audy menyelanya seakan-akan tidak mengizinkannya bicara.


"Lho nggak salah jodoh, kan? Masa seorang Ustadzah menikah dengan pria seperti Ardian?"


"Allah sudah menentukan jodoh setiap orang. Jodoh itu sudah pasti, Kak. Jadi tidak akan mungkin pernah tertukar."


Audy tersentak mendengar jawaban Chayra. "Owh, ternyata lho benar-benar sopan. Baru kali ini, gue merasa dihormati. Hahaha.. kok, kedengarannya lucu sekali ya.."


"Lho terlalu banyak basa-basi, Audy. Gue sudah datang menemui lho. Jadi, nggak ada alasan lagi lho nyebarin video itu." Ardian menatap Handphone Audy yang tersimpan di atas meja. Kuncinya hanya ada di handphone itu. Kalau dia berhasil mengambil handphone itu sekarang. Maka semua urusannya dengan wanita itu akan selesai.


"Gue menyuruh lho datang kemari sendirian, Ardian. Gue ingin kita seperti dulu, saling membutuhkan untuk saling memuaskan." Timpal Audy tanpa rasa malu. "Tapi.. gue kecewa banget tau nggak?! Lho datang malah menggandeng Ustadzah. Bukannya disemangati malah diceramahi nanti." Audy memutar bola matanya kesal.


Ardian memberi kode pada Chayra dengan jari tangannya. Gadis itu langsung mengerti maksud suaminya. Masalah ini harus segera diselesaikan. Kalau ditunda-tunda nanti malah jadi panjang ceritanya.


"Mm.. aku mau minum, Sayang. Ambilkan minum untukku." Ardian mengangkat dagu istrinya. Kembali memberi kode agar Chayra menuruti perintahnya.


"Tapi.. di meja tidak ada air putih, Kak."


"Ambilkan saja yang itu. Kalau sedikit tidak akan mempan pada tubuhku. Aku masih bisa membawa kamu pulang dengan selamat."


Audy memicingkan mata curiga melihat interaksi dua orang di depannya. Mana ada Ustadzah memberikan suaminya minum dengan minuman memabukkan. Sepertinya ada yang tidak beres. Atau ini hanya ustadzah kaleng-kaleng. Batin Audy. Matanya terus memperhatikan tingkah dua orang itu.


Chayra beringsut mendekati meja. Walaupun agak sulit, dia harus bisa mengambil handphone yang tergeletak di dekat botol minuman itu.


"Kalian berdua jangan kemana-mana. Gue mau ke kamar kecil sebentar. Jangan coba-coba untuk kabur karena ancaman masih mengintai kalian." Audy langsung bangkit meninggalkan tempat itu.


Ardian mendekati meja dan langsung menyambar handphone itu. Mencoba membukanya, tapi...


Masalah baru datang lagi. Handphone itu memakai password. "Ya Allah.. handphonenya pakai password lagi." Ucapnya dengan nada putus asa.


"Itu bisa diatur, Kak. Intinya, semua yang menjadi bahan ancaman wanita tadi sudah ada pada kita."


Ardian tersenyum, "Kamu memang pintar."


"Mm.. aku aku boleh keluar duluan?"


"Jangan! Tempat ini terlalu berbahaya untuk perempuan. Di ruangan yang kita lewati tadi, semua manusia sedang mabuk. Akan sangat berbahaya untuk kamu."


"Aku sudah mual, Kak. Bau tempat ini sangat asing. Sangat tidak cocok denganku."


"Mana lebih parah, ruangan ini atau ruangan yang tadi kita lewati?"


"Kayaknya ruangan tadi. Disini terlihat lebih kondusif. Tidak ada orang yang berjoget-joget seperti orang gila."


"Hahahaha.. kamu ini ada-ada saja. Kamu tau perbedaan ruangan ini dengan ruangan tadi?"

__ADS_1


Chayra hanya mengangkat bahu. Dia memang tidak tahu menahu tempat seperti ini.


"Hanya orang beruang yang bisa masuk ke tempat ini. Gue bahkan sudah menyewa tempat duduk ini sampai tahun depan. Tapi, alhamdulilah, hidayah sudah datang. Jadi, sudah waktunya untuk memperbaiki hidup."


Chayra tersenyum. "Alhamdulillah..."


"Gue kira kalian sudah kabur." Suara Audy dari arah belakang membuat mereka menoleh serentak.


Chayra terbelalak melihat Audy yang sudah ganti kostum. Wanita itu malah semakin memampangkan auratnya. Pantaslah suaminya bilang akan sangat sulit menahan godaan jika mendatangi tempat ini sendirian.


"Gue bukan pengecut, Audy." Ardian mengalihkan pandangannya saat wanita itu sengaja menunduk untuk memperlihatkan P********** yang tergantung indah di d******.


Chayra menangkup wajah suaminya. "Apakah keindahan tubuhku tidak cukup untuk Kakak sehingga Kakak akan bisa tergoda dengan tubuh wanita itu?"


Ardian menelan ludahnya mendengar pertanyaan istrinya. "J.. jelas tidak ada yang memiliki tubuh seindah kamu, Sayang."


"Cih..! Gue melakukan perawatan mahal setiap minggu untuk menjaga keindahan tubuh gue. Tubuh istri lho itu pasti tidak seberapa, Ardian."


"Setidaknya aku menjaganya untuk suamiku, dan BUKAN untuk orang lain." Chayra menekan ucapannya. Wanita di depannya harus dilawan agar tidak semaunya.


"Aku tidak butuh biaya perawatan yang mahal seperti yang anda lakukan. Karena alhamdulillah, Allah sudah memberikan aku tubuh yang indah tanpa harus melakukan perawatan yang lebih seperti yang anda lakukan. Aku sudah terbiasa hidup sederhana. Jadi, kedepannya aku akan bisa menjamin keuangan rumah tanggaku akan aman. Tidak akan ada uang yang sia-sia untuk hal yang tidak perlu." Ucap Chayra dengan berapi-api. "Ayo, Kak, kita pulang." Chayra meraih tangan Ardian.


Ardian langsung bangkit tanpa diminta dua kali. Pria itu masih tidak percaya kalau istrinya akan berani mendebat Audy.


"Berani kamu melangkah, maka video itu akan kamu dapati sudah tersebar besok."


Ardian dan Chayra menghentikan langkahnya. Ardian ingin menjawab, tetapi Chayra langsung menahannya dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir pria itu.


"Lakukan saja. Itu hanya bagian dari masa lalu. Sekarang, suamiku sudah berniat tulus untuk hijrah. Tidak ada orang yang tidak memiliki masa lalu. Semua butuh proses dan pasti akan banyak cobaan termasuk seperti godaan yang anda lakukan tadi. Terimakasih ancamannya, kami permisi.."


Chayra menarik tangan suaminya agar segera meninggalkan tempat itu. Ardian tidak bisa berkata-kata. Satu kekagumannya bertambah lagi untuk wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


Umpatan-umpatan kotor dari mulut Audy mengiringi langkah mereka sampai pintu ruangan itu terbuka.


Chayra bernafas lega setelah berhasil keluar dari tempat itu. Segera menyingkirkan tangan Ardian yang memeluknya dari tadi. Sesak rasanya terus berjalan sambil di sekap.


"Apa kamu baik-baik saja?" Ardian memperhatikan istrinya. Matanya terlihat sedikit berair.


"Aku hanya sedikit pusing dan mau muntah."


"Maafkan aku melibatkan kamu sampai sejauh ini."


"It's no problem."


"Kita pulang sekarang."


"Mm.. ini handphonenya Kakak yang bawa. Sudah cukup aku berurusan dengan wanita tadi. Huh, benar-benar menguras energi." Chayra menyerahkan handphone Audy pada Ardian. Langsung memasukkan benda itu ke dalam saku jaket yang dikenakan suaminya.

__ADS_1


Ardian hanya menanggapi dengan senyuman. Tangannya sibuk memasang helm di kepala istrinya.


*********


__ADS_2