
Ardian mencoba mencerna maksud dari perkataan Chayra. Hatinya seperti tergelitik saat mendengar gadis itu berkata begitu.
"S.. siapa yang memperlakukan lho seperti binatang?" Akhirnya pertanyaan itu keluar karena tidak mau penasaran.
"Seseorang.." jawab Chayra singkat. Membuat seorang Ardian Baskara semakin penasaran.
"I.. iya gue tau itu seseorang. Tapi maksud gue siapa orangnya?"
Chayra tersenyum. Ardian langsung mengalihkan pandangannya saat melihat senyuman gadis itu. Walaupun tertutup cadar, senyuman yang mengandung sengatan listrik itu mampu membuat Ardian salah tingkah.
"Tidak baik membuka aib hamba Allah di depan saudaranya sendiri." Chayra bangkit. "Saya mau minta izin sama anda untuk keluar rumah. Hari ini saya ada janji untuk bertemu teman-teman saya."
"Lho pergi aja. Ngapain pakai minta izin segala. Gue nggak punya hak untuk melarang lho."
"Apa anda lupa, kalau anda adalah suami saya? Seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya."
"Gue nggak ngerti yang begituan. Kalau lho mau keluar, keluar saja. Gitu aja kok repot." Ardian mengalihkan pandangannya.
"Terimakasih atas izinnya." Chayra beranjak ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
"Aneh.." gumam Ardian. Merenung sejenak lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.
Penampakan wanita paruh baya di depan pintu membuatnya hampir terjungkal karena terkejut.
"Astaga! Mami ngapain di sini?" Ardian mengusap dadanya karena jantungnya berdetak sangat cepat.
"Hehehe.. Mami.. Mami mau ketuk pintu tadi. Tapi, melihat kalian sedang bicara, jadi Mami urungkan dan menunggu kalian selesai dulu.
"Ada apa?" Tanya Ardian ketus.
"Apa kamu sudah minta maaf pada istri kamu?"
"Minta maaf? minta maaf untuk apa?"
Renata menarik nafas dalam. "Kamu lupa, kalau kamu sudah membuatnya tersinggung saat sarapan tadi."
"Itu masalah sepele, Mi. Dia tidak akan mempermasalahkan hal itu."
"Nanti bisa jadi kebiasaan, Nak. Minta maaf dulu sana."
"Selalu saja maksa. Dia mau pergi sekarang sama teman-temannya. Nanti saja kalau dua sudah pulang."
"Justru karena dia mau pergi. Kamu minta maaf sekalian antar dia."
"Kan dia sudah dibelikan mobil sama Papi kemarin. Untuk apa dibeliin kalau masih merepotkan orang."
"Ardian...!!"
Ardian menyebikkan bibirnya. Kalau namanya sudah disebut. Itu berarti sang mami tidak mau dibantah lagi. "Iya, Mami Sayang.." berbalik untuk melihat keberadaan Chayra. "Woi! cepetan keluar, gue antar."
"Lho, kok manggil istrinya kayak gitu?"
"Mami cerewet deh. Udah, Ardian tunggu di bawah." Ardian berlalu tanpa menunggu jawaban maminya. "Mami semakin kesini semakin nuntut gue deh. Bilang ini lah, bilang itulah. Semua harus dituruti.." menggerutu sambil menuruni anak tangga.
Renata masuk ke dalam kamar. Tersenyum melihat Chayra yang keluar dari ruang ganti dengan baju syar'i nya. "Cantik sekali menantu Mami. Ada acara kemana, Sayang?"
__ADS_1
"Mm.. Ayra ada janji bertemu dengan teman Ayra di Pesantren, Mi. Mereka sudah menunggu di dekat Kampus Kak Ardian." Menggandeng tangan Renata yang sudah bersiap keluar kamar.
"Kalau begitu Ardian akan mengantar kamu."
"Eh, nggak usah, Mi. Ayra tidak mau merepotkan. Kak Ardian juga ada kerjaan lain, kan?"
"Nggak ada. Dia sudah menunggu kamu di bawah."
"Ayra bisa pergi sendiri, Mi."
"Dia suami kamu. Jadi, dia harus bertanggung jawab atas keselamatan kamu."
Chayra akhirnya hanya bisa tersenyum. Berdebat dengan mertuanya itu tidak akan ada ujungnya. Renata orangnya tidak mau kalah baik dalam hal apapun.
"Lho udah siap?" Ardian berdiri ketika melihat Chayra di ruang tamu.
"Aku.. aku pergi sendiri aja, Kak. Kak Ardian nggak usah repot-repot."
"Nggak apa-apa kok. Gue nggak ada kegiatan juga." Melirik maminya yang tersenyum mendengar jawabannya.
"Sudah, Nak. Kamu diantar suami kamu. Dia akan menjaga kamu selama kamu di luar."
"Tapi..."
"Tidak ada kata tapi." Renata menggoyang-goyang jari telunjuknya di depan wajah Chayra.
"Aku akan pergi lama," bergumam pelan.
"Mau lama atau sebentar, tetap Ardian yang akan mengantar kamu."
"Jangan ikutan cerewet kayak Mami. Kalau gue berubah pikiran bagaimana?" Ardian menatap Chayra tajam.
"Dia saja tidak mau diantar, Mi. Kenapa Mami yang maksa sih?"
"Antar dia sekarang atau kamu akan berurusan dengan papi kamu."
"Ngancam lagi, ngancam lagi. Ardian berangkat," meraih tangan Renata dan menciumnya asal.
"Jangan lupa minta maaf."
"Iya ....."
Sepanjang perjalan Chayra hanya menatap keluar jendela. Mulutnya terlihat komat-kamit, membuat Ardian penasaran dengan apa yang dibacanya. Apalagi melihat Chayra terus-terusan menekan tombol benda berwarn hijau yang melingkar di jari telunjuknya.
"Lho sedang ngapain sih?" Bertanya karena tidak tahan kalau tidak bertanya.
Chayra melirik pria itu. "Apa anda harus tau, apa yang sedang saya lakukan?"
Ardian mengusap-usap tengkuknya dengan sebelah tangannya. "Iya... gue nggak bisa tenang melihat lho kayak gitu. Lho seperti Mbah Dukun yang sedang baca mantra." Tersenyum meringis, "gue takut aja kalau lho ada niat mau membacakan jampi-jampi biar gue jatuh cinta sama lho."
Chayra menganga tak percaya mendengar jawaban tak masuk akal Ardian. "Astagfirullah, kalau ngomong yang logis, bisa nggak? Itu bisa jadi fitnah jika anda mengucapkannya di depan orang lain."
"Maksud lho apa?"
"Anda tau ini benda apa?" Chayra mengacungkan tasbih digitalnya.
__ADS_1
Ardian memicingkan matanya. "Itu jam mini yang dipakai di jari."
Chayra kembali menganga. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memulihkan kesadarannya akan kebodohan pria di sampingnya.
"Anda benar-benar tidak tau benda ini?"
"Gue kan udah bilang, kalau itu jam mini."
"Ini namanya tasbih digital."
"Tasbih digital?"
"Iya, ini namanya tasbih digital. Anda tau fungsinya?" Kembali Chayra bertanya karena Ardian terlihat bingung.
Ardian menggeleng pelan. "Gue nggak tau. Jangan tanyakan hal yang tidak gue pahami sama sekali."
"Bagaimana anda akan bisa membawa istri anda ke surga-Nya, kalau benda kecil ini saja anda tidak tau."
Ardian kembali fokus menyetir. Pemahamannya tentang agama benar-benar awam. Bisa dibilang kalau dirinya hanya Islam KTP saja.
"Benda ini saya pakai untuk menghitung bilangan istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil saya."
Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Itu istilah apa lagi yang lho pakai. Gue sudah bilang, gue tidak mengerti hal-hal seperti itu."
"Jika anda ingin mengerti, maka belajarlah. Sekarang masih belum terlambat. Jika anda berniat berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik, maka belajarlah mulai sekarang."
Ardian tak bergeming. Setiap ucapan Chayra seolah-olah menusuk hatinya dan memaksa untuk berdiam disana.
*********
Ardian duduk di bangku yang bersebelahan dengan tiga orang gadis yang sedang mendiskusikan entah apa. Dia hanya mencuri-curi dengar. Banyak yang tidak dia pahami karena ketiga gadis itu mencampur adukkan bahasanya dengan bahasa Arab.
Jangankan bahasa Arab. Tanyakan huruf Hijaiyah yang berdiri seperti tiang pun, pria itu akan bilang tidak tau.
Ardian mengira kalau Chayra akan bertemu dengan Alesha dan Tina. Dia sudah menyusun rencana untuk menanyakan keberadaan Amira. Namun, dia sangat kecewa kalau dua wanita berjilbab lebar yang dikenalkan istrinya padanya. Ardian asing dengan wajah itu karena sepertinya dua gadis itu dari Pesantren.
Dari hal-hal yang berhasi dia dengar, sepertinya istrinya sedang membahas materi kuliah.
Ardian membelalakkan matanya saat wanita yang duduk membelakanginya dengan santainya menggunjing dirinya.
"Apa aku nggak salah lihat, Ayra?"
"Apa?" Chayra yang sedang menulis sesuatu mendongak dan menghentikan aktivitasnya.
"Suami kamu.."
"Ada apa denga. suamiku?" Chayra berbisik pada Saras salah satu temannya.
"Kok suami kamu sangat jauh dari yang diharapkan. Dia bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan dengan Kak Ghibran."
"Astagfirullah, jangan mengatakan yang tidak-tidak. Aku nyaman kok bersamanya." Jawab Chayra dengan tenang.
Ardian menarik nafas lega mendengar jawaban istrinya. Setidaknya istrinya itu tidak membicarakan keburukannya pada orang lain.
Sadar Ardian...
__ADS_1
Istrimu tidak seburuk itu. Kamu saja yang perlu introspeksi diri.
******